CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 5 : Guru Besar Kaum Rebahan
Bab 5 : Guru Besar Kaum Rebahan
Orang tua gimbal itu menangkap buku dengan dua jari. Gerakannya cepet banget, mata gue sampai nggak sempet ngedip. Dia membolak-balik halamannya dengan penuh nostalgia, sesekali mengelus kertasnya kayak lagi ngelus foto mantan.
"Ah, Langkah Kaki Kucing Mabuk..." gumamnya, ada air mata ngegenang di sudut matanya yang keriput. "Karya agungku saat aku sedang mabuk arak beras murah lima gentong."
Rahang gue jatoh. "Jadi... Kakek beneran penulisnya?"
"Tentu saja!" serunya bangga sambil membusungkan dada (bunyi krek tulang rusuk kedengeran jelas). "Namaku Wi Gwang. Dulu mereka memanggilku 'Si Pedang Gila dari Puncak Selatan'. Sekarang? Cuma Wi si Gila."
Wi Gwang. Gue pernah denger nama itu di pelajaran sejarah sekte. Salah satu Tetua jenius yang hilang misterius dua puluh tahun lalu karena dituduh mengajarkan aliran sesat. Ternyata 'sesat'-nya itu... jurus kucing mabuk?
"Kek," panggil gue, memberanikan diri duduk bersila (tapi tetep jaga jarak aman). "Kenapa jurus ini dibilang sesat? Isinya cuma cara kabur sama tidur-tiduran."
Tetua Wi mendengus. "Itulah bodohnya orang-orang Gunung Hua! Mereka pikir ilmu pedang itu harus tegak, lurus, dan penuh wibawa. Bah! Musuh nggak peduli wibawa! Musuh cuma peduli pedangnya nancep di perutmu atau nggak!"
Dia melempar buku itu balik ke gue. Wussh! Buku itu melayang dan mendarat mulus di pangkuan gue. Skill lemparnya ngeri, Sob.
"Bocah, kau punya bakat," katanya tiba-tiba.
"Bakat apa? Bakat telat bangun?"
"Bakat tulang," matanya memindai tubuh gue kayak scanner bandara. "Struktur tulangmu lentur. Dan dari caramu duduk yang merosot itu, kau punya bakat alami: MALAS. Itu syarat utama menguasai Kucing Mabuk."
Gue tersinggung dikit, tapi bangga juga. Akhirnya kemalasan gue diakui sebagai potensi, bukan aib keluarga.
"Mau kuberi les privat kilat?" tawar Tetua Wi, nyengir lebar mamerin giginya yang formasi 2-1 itu. "Gratis. Cukup bayar pakai akar manis yang kau sembunyikan di saku kirimu itu."
Gue meraba saku. Sial, dia tau! Gue punya stok darurat tiga batang akar manis.
"Deal," kata gue tanpa pikir panjang. Belajar jurus dari penulis aslinya langsung? Rejeki anak sholeh! Gue lempar satu batang akar manis ke dia.
Tetua Wi menangkapnya pakai mulut—hap!—langsung dikunyah. "Bagus. Sekarang berdiri. Tirukan halaman 10: Kucing Menggeliat Menghindari Sapu."
Dan dimulailah sesi latihan paling absurd dalam hidup gue.
Nggak ada kuda-kuda kokoh. Nggak ada penyaluran tenaga dalam yang bikin urat leher tegang.
Tetua Wi cuma nyuruh gue meliuk-liuk, jatuh dengan sengaja tapi nggak sakit, dan muter badan kayak gasing rusak.
"Lemaskan pinggangmu!" teriaknya sambil ngunyah akar manis. "Jangan kaku! Bayangkan kau adalah jemuran basah yang ditiup angin! Pasrah saja!"
Gue nurut. Gue meliuk ke kiri, ke kanan, terus jatuh guling-guling.
Ajaibnya, meski kelihatannya konyol, gue ngerasa enteng. Tenaga gue nggak terkuras. Gue malah ngerasa kayak... air.
"Bagus!" puji Tetua Wi. "Sekarang coba hindari ini!"
Dia menjentikkan jarinya. Sebuah kerikil melesat ke arah jidat gue. Cepet banget!
Otak gue belum sempet mikir, tapi badan gue bergerak sendiri. Kaki gue lemes, badan gue merosot ke bawah, dan kerikil itu lewat tipis di atas rambut jambul gue, nancep di dinding batu di belakang. TAK!
Gue melongo. "Gila... Gue bisa Matrix!"
"Itu intinya, Tolol!" seru Tetua Wi. "Jangan lawan kekuatan dengan kekuatan. Jadilah malas. Biarkan serangan itu lewat karena kau terlalu malas untuk ditabrak."
Filosofi macam apa ini? Tapi gue suka!
Tapi keseruan itu terhenti ketika telinga gue—yang sekarang jadi lebih peka berkat latihan fokus—mendengar suara langkah kaki dari lorong luar. Langkah kaki yang berat dan terburu-buru. Bukan langkah penjaga pengantar makanan.
Tetua Wi langsung berubah ekspresi. Wajah jenakanya hilang, matanya jadi dingin dan waspada.
"Bocah, sembunyi," bisiknya tajam. "Ada tamu tak diundang."