CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 50 : Ide Gila "Lelang Jodoh" (Versi Syariah)
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 50 : Ide Gila "Lelang Jodoh" (Versi Syariah)
Kami berempat (Gue, Ryong, Ye-in, Tetua Wi) rapat darurat di dapur yang bau minyak jelantah.
"Kita butuh 1000 koin emas dalam satu jam," kata Ryong putus asa. "Mustahil. Kecuali kita merampok bank... atau menjual ginjal Tetua Wi."
"Heh! Ginjal gue udah penuh batu, nggak laku!" protes Tetua Wi.
Gue mondar-mandir, otak gue berasep mikir keras.
Gimana cara dapet duit cepet tanpa modal?
Jual aset? Nggak sempet.
Pinjol? Bunganya nyekek.
Acara amal? Kelamaan.
Tiba-tiba, mata gue tertuju pada Namgung Ryong.
Si Pangeran Kampus. Idola Murim Selatan. Wajah ganteng, bodi atletis (terbukti pas pake gaun ijo), status bangsawan.
Fans dia banyak banget. Terutama emak-emak dan gadis-gadis sekte.
"Gue punya ide," kata gue pelan, senyum licik mulai ngembang di bibir.
Ryong mundur waspada. "Hentikan senyum itu. Aku tidak mau jadi banci lagi."
"Bukan, bukan banci. Tapi... Lelang Amal."
"Lelang apa? Kita nggak punya barang berharga!"
"Kita punya ELU," gue nunjuk dada Ryong. "Kita adain acara dadakan di alun-alun depan kedai. Judulnya: 'Turnamen Makan Pedas: Hadiah Utama Makan Malam Romantis Bersama Tuan Muda Namgung Ryong'."
"APA?!" Ryong teriak, suaranya fals saking kagetnya. "KAU GILA?! AKU BUKAN GIGOLO!"
"Dengerin dulu!" potong gue. "Biaya pendaftaran mahal. 50 koin emas per orang. Target kita 20 peserta aja, udah dapet 1000 koin! Cukup buat bayar gaji!"
"Dan yang menang cuma dapet makan malem doang kan? Nggak macem-macem. Cuma duduk, senyum, terus pulang. Gampang!"
"TIDAK! HARGA DIRIKU MAU DIKEMANAIN?!" tolak Ryong mentah-mentah.
"Yaudah," gue ngangkat bahu. "Berarti kedai ini tutup. Resep ayam gue dibeli Moyong. Dan semua orang bakal tau kalau Namgung Ryong bangkrut karena kalah saing sama bebek."
Ryong diem. Kena mental dia.
Suster Ye-in megang tangan Ryong. "Kak Ryong... demi karyawan kita... demi mimpi kita..." (Ye-in pinter banget akting sedih, curiga dia belajar dari sinetron).
Ryong menghela napas panjang, bahunya turun lemes.
"Baiklah. Tapi hanya makan malam. Tidak ada pegangan tangan. Tidak ada tatapan mata lebih dari 3 detik."
"Deal!" seru gue. "Tetua Wi! Curi... eh, pinjam gong dari kelenteng sebelah! Ye-in, tulis papan pengumuman! Ryong, dandan yang ganteng! Operasi 'Jual Tampang' dimulai!"
Lima belas menit kemudian.
Alun-alun depan kedai kami penuh sesak.
Bukan cuma karena baunya ayam, tapi karena papan pengumuman yang ditulis Ye-in sangat clickbait:
LOMBA MAKAN AYAM NERAKA
HADIAH UTAMA: KENCAN EKSKLUSIF DENGAN NAMGUNG RYONG
(Syarat & Ketentuan Berlaku. Jomblo Only)
Gadis-gadis pendekar, emak-emak pedagang, sampai nenek-nenek sakti langsung berkerumun. Mereka rela bayar 50 koin emas demi kesempatan natap muka Ryong dari deket.
Moyong Hui di seberang jalan ngeliat antriannya pindah lagi ke tempat kami. Dia gigit kipasnya sampe patah.
"Sialan! Mereka main kotor! Mereka pake pesona wajah!"
===BATAS BAB==