CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 6 : Tamu Tak Diundang dan Lorong Rahasia
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 6 : Tamu Tak Diundang dan Lorong Rahasia
Gue bingung. "Sembunyi di mana, Kek? Ini gua kosong melompong. Masa saya nyamar jadi stalaktit?"
"Di balik batu besar itu!" Tetua Wi menunjuk batu cadas di sudut gelap tempat dia biasa tidur. "Ada celah kecil. Masuk sana dan jangan bersuara, atau kujahit mulutmu pakai cacing tanah."
Gue langsung ngibrit ke balik batu. Bener aja, ada celah sempit yang pas banget buat badan kurus gue. Gue nyelip di situ, nahan napas, persis cicak kejepit pintu.
Dari celah itu, gue bisa ngintip ke arah pintu sel.
Suara langkah kaki berhenti di depan jeruji. Obor di lorong bergoyang kena angin. Sesosok bayangan muncul. Dia pake jubah hitam, topeng kain menutupi separuh wajah, cuma kelihatan matanya yang sipit dan licik. Di pinggangnya tergantung pedang yang sarungnya berkilau mahal.
Gue kenal postur itu. Gue kenal cara berdirinya yang agak miring ke kiri.
Itu bukan pembunuh bayaran asing. Itu Kakak Seperguruan Ma! Si Ketua Asrama yang galak itu!
Tapi kenapa dia dandan ala ninja pasar loak malem-malem begini?
"Wi Gwang," suara Kakak Ma terdengar beda, lebih berat dan penuh ancaman. "Masih hidup kau, Tua Bangka?"
Tetua Wi duduk santai, ngupil dengan jari kelingking. "Oh, Ma-boy. Tumben mampir. Mau minta resep sambal tikus bakarku?"
"Tutup mulut busukmu," desis Kakak Ma. Dia mengeluarkan sebuah kunci emas dari sakunya.
Gila! Itu kunci master sekte! Kok dia bisa punya?
Kakak Ma membuka pintu sel dengan mudah. KLIK. KREIT. Pintu besi terbuka.
Dia melangkah masuk sambil menghunus pedangnya. Kilatan logam di keremangan gua bikin jantung gue mau copot.
"Tetua Agung menginginkan 'Benda Itu'," kata Kakak Ma dingin. "Kau sudah menyembunyikannya selama dua puluh tahun. Serahkan sekarang, atau kubuat sisa hidupmu makin sengsara."
'Benda Itu'? Apaan tuh? Harta karun? Resep rahasia Krabby Patty?
Tetua Wi tertawa sinis. "Katakan pada Tetua Agung-mu yang serakah itu... 'Benda Itu' sudah kuberikan pada muridku yang paling berbakat."
Hah? Murid? Gue?! Gue hampir keselek ludah sendiri. Jangan bawa-bawa gue, Kek! Gue cuma murid part-time jalur akar manis!
Wajah Kakak Ma mengeras. "Murid? Siapa? Jangan bilang bocah ingusan Han Jin-woo yang baru masuk sini tadi?"
"Mungkin," Tetua Wi tersenyum misterius. "Mungkin juga tikus tanah peliharaanku. Cari saja sendiri."
Kakak Ma geram. Pedangnya berdesing menebas udara, mengarah ke leher Tetua Wi.
Tapi Tetua Wi—walaupun dirantai—menggerakkan kepalanya sedikit, pedang itu meleset. Jurus Kucing Mabuk!
"Cari bocah itu!" teriak Kakak Ma ke arah lorong luar. Ternyata dia nggak sendirian. Dua orang berbaju hitam lain masuk ke dalam sel.
Gawat. Gue ketahuan. Gue harus cabut.
Gue mundur makin dalam ke celah di balik batu. Punggung gue nempel ke dinding tanah yang lembab. Tiba-tiba... KREK.
Tanah di belakang punggung gue ambrol.
Gue kejengkang ke belakang. Ternyata celah ini bukan jalan buntu, tapi lubang tikus raksasa yang nembus ke suatu tempat!
"AAAAaaaa....!" gue meluncur turun kayak di perosotan waterboom, tapi ini versinya tanah berlumpur dan gelap gulita.
BRUK!
Gue mendarat di lantai batu yang keras. "Aduh, pantat seksi gue..." rintih gue sambil mengusap bokong.
Gue melihat sekeliling. Tempat ini terang benderang dan hangat. Uap air mengepul di mana-mana. Wangi sabun mawar menusuk hidung.
Tunggu dulu. Uap air? Wangi mawar?
Gue mendongak. Di depan gue ada kolam air panas yang luas dan mewah, dikelilingi patung-patung naga.
Dan di tengah kolam itu... ada seseorang yang sedang berendam membelakangi gue.
Rambut putihnya disanggul rapi. Punggungnya lebar dan penuh bekas luka. Dia lagi bersenandung lagu dangdut mandarin sambil gosok punggung pake sikat gagang panjang.
Itu... Ketua Sekte Gunung Hua. Master Tertinggi Cheon.
Dan gue baru saja mendarat tepat di pinggir kolam pribadinya, dengan muka cemong lumpur, rambut kayak ijuk, dan posisi nungging yang sangat tidak estetis.
Master Cheon berhenti bersenandung. Dia merasakan hawa kehadiran makhluk asing (gue).
Perlahan... sangat perlahan... dia menoleh ke belakang.
Mata kami bertemu.
Hening.
Cuma suara tetesan air keran yang terdengar. Tes. Tes. Tes.
Hidung gue gatal kena debu gua tadi. Gue berusaha nahan, tapi nggak bisa.
Demi Dewa Naga... ini timing terburuk dalam sejarah persilatan.
"Ha... Ha... HACHIIIIM!!!"
Ingus gue muncrat.
Wajah Ketua Sekte merah padam.
"SIAPA DI SANA?!!" raungnya, gelombang suaranya bikin air kolam meledak naik ke atas.
Fixed. Tamat riwayat gue.