BAB 7

Bab 7 : Insiden Sabun dan Naga Telanjang

CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG

Bab 7 : Insiden Sabun dan Naga Telanjang

🗓 17 Jun 2025 👁 720 Views
💎

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

Bab 7 : Insiden Sabun dan Naga Telanjang

Situasi saat ini bisa dibilang level "Siaga Satu" atau "Defcon Kelar Hidup Lo".

Di depan gue, di tengah uap panas yang mengepul, berdiri Ketua Sekte Gunung Hua, Master Cheon, sang legenda hidup yang konon pernah membelah air terjun pakai tusuk gigi. Masalahnya, sekarang dia nggak pegang pedang, dan dia nggak pakai baju zirah. Dia cuma pakai... handuk kecil yang melilit pinggangnya dengan sangat, sangat, sangat berisiko.

"SIAPA KAU, TIKUS KOTOR?!"

Suaranya menggelegar, bikin gendang telinga gue getar kayak membran speaker rusak. Air kolam di sekitarnya bergolak karena luapan tenaga dalam.

Gue, Han Jin-woo, murid luar yang cuma bermodal tampang pas-pasan dan nyali ciut, melakukan hal paling logis dalam situasi ini.

Gue nyengir kuda, mengangkat tangan, dan berkata, "Ehm... Room Service? Ada pesanan pijat punggung ekstra lulur?"

Wajah Master Cheon berubah dari merah padam jadi ungu terong. "MATI KAU!"

Dia mengibaskan tangannya ke permukaan air. BBYYARR!

Cipratan air itu nggak main-main, Sob. Itu bukan cipratan manja ala sinetron remaja. Itu peluru air! Puluhan tetesan air melesat ke arah gue dengan kecepatan suara. Kalau kena, badan gue pasti bolong-bolong kayak saringan teh.

Otak gue blank. Tapi kaki gue? Kaki gue punya pikiran sendiri.

Efek latihan kilat sama Tetua Wi tadi bereaksi. Lutut gue mendadak lemas, pinggang gue meliuk aneh kayak karet gelang putus.

Sret! Wussh! Wussh!

Gue terpeleset—beneran kepeleset karena lantai licin—dan jatuh terlentang. Ajaibnya, peluru-peluru air itu lewat tepat di atas hidung gue, menghantam dinding di belakang sampai retak.

"Hah?" Master Cheon melongo. "Kau bisa menghindari 'Jari Percik Naga'?"

Gue yang lagi tiduran di lantai basah juga melongo. "Wah, sakti juga gue. Eh, maksudnya... Tentu saja! Itu teknik rahasia keluarga saya: 'Rebahan Menghindari Tagihan Hutang'!"

Master Cheon makin murka. Dia mau lompat keluar dari kolam buat ngehajar gue. Tapi dia sadar satu hal krusial: kalau dia lompat, handuknya bakal melorot. Dan kalau handuknya melorot di depan murid luar, wibawa sekte hancur lebur.

Dia tertahan di kolam! Ini kesempatan emas!

"JANGAN LARI!" teriaknya sambil nyipratin air lagi.

Gue panik lihat kiri kanan. Ada ember kayu berisi sabun cair di dekat kaki gue. Tanpa mikir panjang (karena kalau mikir kelamaan keburu mati), gue tendang ember itu sekuat tenaga ke arah kolam.

KLTANG! BYUR!

Sabun tumpah ke kolam air panas. Dalam hitungan detik, karena airnya panas dan bergolak, busa melimpah ruah di mana-mana. Kolam pribadi Master Cheon berubah jadi pesta mandi busa raksasa.

"MATA SAYA! PERIH!" Master Cheon meraung, kelilipan sabun sereh dosis tinggi.

"Maaf Master! Itu sabun anti-aging! Bagus buat kerutan!" teriak gue sambil merangkak mundur secepat kepiting, lalu lari terbirit-birit menuju jendela ventilasi yang terbuka di atas.

Gue lompat, manjat kayak monyet, dan berhasil keluar tepat saat terdengar suara DUMMM—dinding tempat gue berdiri tadi hancur lebur dihantam pukulan jarak jauh Master Cheon.

Gue mendarat di semak-semak di luar paviliun ketua, napas ngos-ngosan, jantung mau copot, dan celana basah kuyup.

"Gila... Gue baru aja bikin Ketua Sekte mandi busa..." gumam gue histeris. "Kalau ini masuk koran Murim, gue bakal jadi legenda atau buronan seumur hidup."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G