CATATAN SI JIN-WOO: PENDEKAR JALUR BELAKANG
Bab 8 : Seni Menghilang di Keramaian
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBab 8 : Seni Menghilang di Keramaian
Paginya, suasana di Gunung Hua tegang banget. Lebih tegang daripada nunggu pengumuman kelulusan.
Semua murid dikumpulkan di lapangan utama. Tetua Disiplin Baek (yang semalam jeblosin gue ke penjara) berdiri di panggung dengan muka bingung campur marah. Di sebelahnya, ada Master Cheon yang pake kacamata hitam.
Ya, kacamata hitam. Katanya sih matanya iritasi karena "latihan semalaman menatap bulan", padahal gue tau itu gara-gara sabun sereh gue.
"DENGAR SEMUANYA!" Tetua Baek berteriak. "Tadi malam, ada penyusup licik yang berani mengganggu meditasi Ketua Sekte! Cirinya: berbau lumpur, gerakannya aneh, dan tidak punya sopan santun!"
Gue berdiri nyempil di tengah barisan murid luar, berusaha ngecilin badan. Gue udah mandi tiga kali, pake parfum bunga melati curian dari jemuran tetangga, dan rambut gue sisir rapi klimis (tumben).
"Siapa pun pelakunya," lanjut Tetua Baek, "Pasti ahli qinggong (ilmu meringankan tubuh) tingkat tinggi karena bisa kabur dari Ketua Sekte tanpa jejak!"
Ahli Qinggong tingkat tinggi? Gue nahan ketawa. Padahal cuma modal kepeleset sabun. Gosip di dunia persilatan emang cepet banget digorengnya.
"Hei, Jin-woo," bisik Si Gendut Oh di sebelah gue. "Lo semalam ke mana? Pas gue bangun pipis, kasur lo kosong."
Gue langsung keringetan dingin. "Gue? Oh... gue... gue mencret, Oh. Kebanyakan makan sambel. Semalaman gue di toilet umum. Tragis banget pokoknya, jangan tanya detailnya."
Si Gendut Oh manggut-manggut prihatin. "Pantesan muka lo pucet kayak mayat."
Tiba-tiba, mata Master Cheon di balik kacamata hitam itu menyapu barisan. Jantung gue berhenti berdetak. Kalau dia ngenalin gue gimana? Kalau dia inget bentuk jambul gue?
Tapi tatapannya lewat begitu aja. Jelas lah, semalam kan gelap, penuh uap, dan dia kelilipan sabun. Dia nggak tau muka gue! Selamat!
"Baiklah!" Tetua Baek melanjutkan. "Karena kita gagal menangkap penyusup itu, hari ini Ujian Kenaikan Tingkat akan dipercepat! Kita harus buktikan bahwa murid Gunung Hua tidak lemah! Semua murid luar wajib ikut seleksi pertarungan!"
Waduh.
Ujian Kenaikan Tingkat itu ajang pembantaian legal. Murid luar diadu sama murid luar, yang menang boleh lawan murid dalam. Gue? Gue biasanya pura-pura pingsan di ronde pertama biar aman.
Tapi kali ini beda. Di balik baju gue, terselip kitab "Langkah Kaki Kucing Mabuk". Rasanya anget-anget gimana gitu.
"Jin-woo, liat tuh," Si Gendut Oh nyenggol lengan gue.
Di panggung VIP, Namgung Ryong duduk santai sambil kipas-kipas. Di sebelahnya... Suster Ye-in duduk manis menuangkan teh. Pemandangan itu bikin hati gue panas. Bukan panas cemburu biasa, tapi panas kayak knalpot motor racing.
"Liat aja, Ryong," batin gue sambil ngunyah akar manis dengan agresif. "Hari ini gue nggak bakal pura-pura pingsan. Gue bakal... pura-pura kejang tapi menang!"
"Peserta Pertama: Han Jin-woo melawan Zhao Si Kepala Batu!"
Mampus. Zhao ini murid luar yang hobinya mecahin batu kali pake jidat. Badannya dua kali lipat gue, otaknya setengah kapasitas gue.
Gue maju ke arena dengan langkah gontai. Sorak sorai penonton terdengar sayup-sayup.
"Han Jin-woo! Turun aja lo! Nanti jambul lo rusak!" teriak salah satu fans Namgung Ryong.
Gue cuma nyengir, masang kuda-kuda... eh, tunggu. Kuda-kuda apa ya?
Ah, bodo amat. Gue berdiri rileks aja kayak lagi ngantri sembako.