BAB 10

BAB 5: ARSIP YANG HILANG

KABUT DI BUKIT DAMAR

BAB 5: ARSIP YANG HILANG

🗓 02 Nov 2025 👁 489 Views
🔒

Social Unlock

Untuk melanjutkan, berikan Like, Rating, atau Komentar di bab sebelumnya.

🔙 Kembali ke Bab Sebelumnya

BAB 5: ARSIP YANG HILANG

Ancaman Damar, alih-alih membuat Elara takut, justru menyiram bensin pada api rasa ingin tahunya. Jika Damar—yang biasanya kaku dan taat aturan—sampai repot-repot datang tengah malam tanpa seragam untuk mengambil barang bukti dan memperingatkannya, berarti ada sesuatu yang sangat besar yang sedang ditutupi.

Pagi harinya, Elara memutuskan untuk memulai penyelidikannya dari satu-satunya tempat yang menyimpan memori desa secara tertulis: Balai Desa. Dia beralasan ingin mencari data sejarah untuk koleksi buku lokal di tokonya.

Balai Desa Bukit Damar adalah bangunan era 70-an yang catnya sudah mengelupas. Di dalamnya, bau kertas tua dan debu berkuasa. Pak Lurah sedang keluar kota untuk urusan dinas, meninggalkan kantor itu dijaga oleh seorang sekretaris muda bernama Yanto yang lebih tertarik pada ponselnya daripada melayani warga.

"Arsip sejarah desa? Ada di lemari belakang, Mbak El. Tapi berantakan, belum sempat dirapikan sejak... yah, sejak saya kerja di sini lima tahun lalu," kata Yanto tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya.

Elara diizinkan masuk ke ruang arsip. Ruangan itu sempit, penuh dengan tumpukan map yang diikat tali rafia. Dia mulai mencari dokumen dari era kolonial, mencari nama yang berhubungan dengan inisial 'V.H.'.

Berjam-jam dia habiskan, bersin karena debu, membalik-balik halaman yang rapuh dan menguning. Dia menemukan catatan produksi teh tahun 1930-an, daftar buruh kontrak, dan surat-surat tanah.

Tepat ketika dia hampir menyerah, dia menemukan sebuah buku besar bersampul kulit tebal. Itu adalah jurnal administrasi perkebunan tahun 1940-1945, masa transisi dari Belanda ke Jepang, lalu ke masa kemerdekaan.

Jantungnya berdegup kencang saat dia menemukan sebuah entri di tahun 1942. Sebuah catatan serah terima aset dari administratur perkebunan Belanda terakhir kepada pihak Jepang. Nama administratur itu tertulis jelas dengan tulisan tangan yang indah dan melingkar: Tuan Vincent Van Houten.

V.H.

Elara dengan cepat memotret halaman itu dengan ponselnya. Dia membalik halaman selanjutnya, mencari tahu apa yang terjadi pada Vincent Van Houten setelah Jepang datang. Tapi halaman-halaman berikutnya... hilang. Robek dengan kasar dari jilidannya. Sisa sobekan kertas masih terlihat di sela-sela benang jilid.

Dia memeriksa buku-buku lain di sekitar tahun yang sama. Polanya sama. Setiap dokumen yang berpotensi menyebutkan nasib Van Houten atau transisi kekuasaan di tahun 1945 telah disensor. Seseorang telah membersihkan sejarah desa ini dengan sangat teliti.

"Menemukan yang dicari, Mbak?" Suara Yanto di ambang pintu membuatnya melonjak kaget. Yanto berdiri di sana, tidak lagi memegang ponselnya. Tatapannya aneh, tidak lagi bosan, melainkan tajam dan curiga.

"Eh, iya, lumayan. Banyak sejarah menarik ya," Elara menutup buku besar itu dengan cepat, berusaha terlihat santai. "Tapi sepertinya aku harus kembali ke toko. Terima kasih ya, Yanto."

"Mbak El," panggil Yanto saat Elara bergegas melewatinya. Suaranya dingin. "Pak Lurah berpesan, katanya arsip tua itu rapuh. Jangan terlalu sering dibuka-buka. Takut rusak."

Elara hanya mengangguk dan setengah berlari keluar dari Balai Desa. Peringatan itu jelas. Yanto bukan sekadar sekretaris malas; dia adalah salah satu penjaga gerbang. Dan Elara baru saja mencoba mendobraknya.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya Tamat / Belum Ada Bab

Diskusi 0

G