MISTERI PAKET BEDAK BAYI DAN BURONAN WAJAH KENTANG
BAB 3: OLAHRAGA JANTUNG DI ATAS ES
BAB 3: OLAHRAGA JANTUNG DI ATAS ES
Lari di atas trotoar yang dilapisi es itu bukan perkara mudah. Butuh keseimbangan tingkat dewa dan keberuntungan yang lebih besar dari harapan menang lotre.
Gue lari zig-zag kayak kancil dikejar macan, sepatu kets gue yang solnya sudah tipis licin banget. Sreeet! Sreeet! Tiap langkah rasanya kayak lagi moonwalk tapi dipaksa maju.
"Berhenti! Polisi!" teriak si Polisi Cantik di belakang. Suara langkah sepatu laras panjangnya terdengar tap-tap-tap berirama, makin dekat.
"Mon! Tungguinnn!" Dado lari di samping gue dengan gaya yang aneh banget. Dia memeluk paket 'Bedak Bayi' itu erat-erat di dada, badannya membungkuk, dan kakinya lari jinjit-jinjit. Persis kayak maling ayam yang takut ketahuan warga.
"Jangan berisik, Do! Fokus lari! Jangan sampai jatoh!" teriak gue tanpa menoleh.
"Berat, Mon! Ini paket isinya apaan sih? Kok ada kabel nyembul dikit?"
"Kabel charger kali! Udah jangan diliatin!"
Di belakang kami, Kibul masih tertinggal jauh. Tapi anehnya, Kibul ini punya bakat terpendam. Walaupun larinya lelet kayak siput kena asma, dia selalu selamat dari marabahaya.
Saat si Polisi Cantik mau menembak—bukan nembak cinta ya, nembak pake pistol taser—tiba-tiba ada turis gendut yang lagi asik selfie mundur tanpa liat-liat.
BRUK!
Si Polisi tabrakan sama turis itu. Pistol tasernya mental, nancep di pantat patung Viking di pinggir jalan.
"Yes! Kibul Effect!" sorak gue dalam hati. Kibul lewat dengan santai di samping polisi yang lagi jatoh, sambil bilang, "Maaf Mbak, talinya lepas tuh," padahal sepatu polisi itu pake resleting.
Kami belok tajam ke sebuah gang sempit, lalu tembus ke jalanan pasar kaget. Banyak tenda-tenda jualan souvenir mahal.
"Lewat sini! Membaur! Kita harus membaur!" perintah gue sok strategis.
Kami menyusup di antara kerumunan turis China yang lagi borong gantungan kunci. Gue menyambar sebuah topi rajut warna pink norak dari salah satu lapak dan memakainya. Dado gue pakaikan syal bulu palsu yang bikin dia kelihatan kayak nenek-nenek gaul. Kibul... yah, Kibul mukanya udah pasaran, jadi nggak perlu disamar-samarin juga orang nggak bakal sadar.
"Mon, napas gue... hosh hosh... paru-paru gue kayak mau meledak," keluh Dado, wajahnya merah padam kontras sama syal bulu putihnya.
"Tahan, Prof. Kita harus sampe ke pelabuhan. Duit 50.000 Krona menanti," bisik gue.
Tiba-tiba, dari arah depan, muncul masalah baru. Bukan polisi. Tapi segerombolan orang berjas hitam rapi, pakai kacamata hitam, dan jalannya tegap banget. Mereka bukan orang lokal. Mukanya keras-keras, kayak tembok beton yang belum diaci.
Salah satu dari mereka, yang paling depan, berhenti mendadak saat melihat kami. Dia menatap paket di tangan Dado. Lalu menatap wajah gue (yang lagi pake topi pink). Matanya membelalak kaget.
Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah foto. Foto sketsa kentang itu lagi!
"Itu dia! The Chameleon!" teriaknya dengan aksen Rusia yang kental. "Tangkap dia! Dia membawa The Device!"
"Wadidaw! Musuhnya nambah!" teriak gue. "Kabur lagi, Gays!"
Ternyata kami kejepit. Di belakang ada polisi yang sudah bangkit lagi. Di depan ada Mafia Rusia yang ngira gue buronan internasional dan ngira paket 'bedak bayi' ini adalah The Device (yang gue curiga bukan device buat dengerin musik).
"Ke mana nih, Mon? Kanan apa kiri?" Dado panik, muter-muter kayak gasing.
"Atas!" jawab gue asal.
"Hah?"
Gue melihat ada truk pengangkut sampah yang sedang berjalan pelan di samping kami. Bak belakangnya terbuka sedikit. Isinya tumpukan kantong sampah hitam. Baunya? Jangan tanya. Lebih wangi dari nasib kami saat ini.
"Lompat!" teriak gue.
Tanpa pikir panjang, gue loncat, meraih pinggiran bak truk. Dado menyusul dengan susah payah, dibantu dorongan Kibul dari bawah. Terakhir, Kibul mau loncat, tapi truknya keburu ngegas.
"Kibul!" teriak gue.
Kibul berlari di belakang truk, tangannya menggapai-gapai. Para Mafia Rusia mulai mendekat.
"Tarik tangan gue, Bul!" Gue mengulurkan tangan sejauh mungkin. Dado memegang kaki gue biar gue nggak jatoh. Adegan ini dramatis banget, persis kayak film Titanic pas kapal mau tenggelam, bedanya ini di truk sampah.
Kibul berhasil meraih jari kelingking gue. "Dapet!"
Dengan kekuatan bulan dan sisa tenaga sarapan roti tawar kemarin lusa, gue tarik Kibul ke atas truk. Kami bertiga jatuh terguling di atas tumpukan sampah empuk.
Bruk!
"Selamet..." desah Dado lega, rebahan di atas kantong plastik isi kulit pisang.
Gue mengintip keluar. Para mafia itu tertinggal di belakang, memaki-maki pakai bahasa yang terdengar kayak orang kumur-kumur air panas. Polisi cantik itu juga kelihatan kesal sambil memukulkan topinya ke paha.
Kami aman. Untuk sementara.
"Mon," panggil Dado pelan. "Lu sadar nggak sih?"
"Apaan?"
"Kita ada di truk sampah..."
"Iya, tau. Terus?"
"Truk sampah ini arahnya bukan ke kota... tapi ke arah gunung berapi di luar kota."
Gue menengok ke depan. Benar saja. Truk ini melaju kencang meninggalkan Reykjavik, menuju hamparan tanah tandus berasap di kejauhan.
"Alamakjan..." gumam gue. "Kita mau dibuang ke kawah?"
"Bukan itu yang gue khawatirin, Mon," potong Kibul tiba-tiba. Dia menunjuk paket di pelukan Dado.
Lakban hitamnya agak sobek karena tadi kegesek pas loncat. Dari celah sobekan itu, terlihat cahaya merah berkedip-kedip. Dan ada layar digital kecil yang menghitung mundur.
05:00... 04:59... 04:58...
"Mon..." suara Dado bergetar hebat. "Ini bukan jam dinding bonus bedak bayi kan?"
Gue menelan ludah. Jakun gue naik turun kayak lift gedung pencakar langit.
"Kayaknya... ini alarm pengingat waktu minum obat?" jawab gue, mencoba optimis tapi gagal total.
Kami bertiga terdiam di atas tumpukan sampah, di dalam truk yang melaju kencang entah ke mana, membawa sebuah kotak yang mungkin bisa mengubah kami jadi kembang api di langit Islandia.