BAB 4

BAB 4: BOM WAKTU DAN MANTRA PENGUSIR SETAN

MISTERI PAKET BEDAK BAYI DAN BURONAN WAJAH KENTANG

BAB 4: BOM WAKTU DAN MANTRA PENGUSIR SETAN

🗓 16 Aug 2025 👁 374 Views

BAB 4: BOM WAKTU DAN MANTRA PENGUSIR SETAN

"BUANG! BUANG PAKETNYA, MON!" jerit Dado histeris. Mukanya pucat pasi, lebih putih dari salju di pinggir jalan. Dia menyodorkan kotak berkedip itu ke gue kayak nyodorin bayi singa yang lagi laper.

"Enak aja! Lu yang pegang dari tadi, lu lah yang buang!" tolak gue mentah-mentah. Gue mundur sampai punggung gue nempel sama kantong sampah isi popok bekas.

"Gue nggak berani, Mon! Tangan gue kram! Kalau gue lempar terus meleset gimana? Kalau meledak pas masih di udara deket muka gue gimana? Lu kan ketua geng, lu yang harus ambil keputusan eksekutif!"

"Ketua geng gundulmu! Ini situasi force majeure! Demokrasi tidak berlaku!" Gue panik. Angka di layar digital itu terus turun dengan kejam.

03:45... 03:44...

Kibul, dengan wajah datarnya yang tak tertolong, mendekat ke paket itu. Dia mengamati angka-angka merah itu dengan seksama.

"Jangan-jangan ini microwave portable, Mon? Lagi manasin sesuatu di dalemnya?" tanya Kibul polos.

"Heh, otak udang! Mana ada microwave portable pake batre nuklir begini!" bentak gue. "Ini bom, Bul! B-O-M! Meledak! Dhuar! Kita jadi sate!"

"Oh," Kibul manggut-manggut. "Kalau gitu matiin aja."

"Gimana cara matiinnya, Bambang?!" Gue dan Dado teriak barengan.

"Biasanya dicabut kabelnya. Tuh, ada kabel warna biru sama merah," tunjuk Kibul santai.

Gue dan Dado saling pandang. Adegan klise film action! Potong kabel merah atau biru? Masalahnya, kami bertiga buta warna parsial kalau lagi panik. Dan kami nggak punya tang. Adanya cuma gigi. Masa gue harus gigit kabel bom? Kalau nyetrum gimana? Gigi gue bisa jadi kawat behel permanen.

Tiba-tiba truk mengerem mendadak.

CIIIIIIT!

Kami bertiga terlempar ke depan, menabrak dinding bak truk. Paket itu terlepas dari tangan Dado, melayang di udara dengan gaya slow motion dramatis, lalu mendarat dengan mulus di pangkuan Kibul.

Hap. Kibul menangkapnya.

"Aman," katanya sambil nyengir.

Truk berhenti total. Kami mendengar suara pintu supir dibuka kasar, lalu suara orang dibanting.

"Keluar kalian tikus-tikus got!" Terdengar suara berat yang familiar. Aksen Rusia.

Gue memberanikan diri mengintip lewat celah bak truk. Di luar, supir truk sampah yang malang itu lagi dicekik sama si Raksasa My Little Pony—tangan kanannya si Bos Mafia. Dan di belakangnya, berdiri tiga mobil hitam yang mengepung truk kami.

Mereka berhasil mengejar kami!

"Keluar atau kami ledakkan truk ini!" ancam si Bos Mafia. Namanya Boris. Gue tau namanya Boris karena tertulis "BORIS" segede gaban di ikat pinggangnya yang norak itu.

"Gimana ini, Mon? Kita dikepung! Di dalem ada bom, di luar ada mafia!" bisik Dado, air matanya mulai netes bikin kacamatanya makin burem.

"Kita harus gertak mereka," bisik gue, otak gue berputar cepat mencari ide gila. "Kita punya senjata."

"Kita nggak punya senjata, Mon! Kita cuma punya sampah!"

"Kita punya BOM ini, bego!"

Gue menyambar paket itu dari Kibul. "Ikutin gue. Pasang muka sangar. Kibul, lu jangan ngupil!"

Gue berdiri tegak, lalu melompat turun dari bak truk dengan gaya superhero mendarat (walaupun akhirnya kepleset dikit karena nginjek kulit pisang). Dado dan Kibul turun di belakang gue, gemetaran.

Boris dan anak buahnya langsung mengokang senjata api mereka. Moncong senapan laras panjang mengarah tepat ke jidat gue.

"Serahkan The Device!" geram Boris. "Dan menyerahlah, Chameleon. Wajahmu yang lonjong itu tidak bisa menipu mataku."

Gue mengangkat kotak itu tinggi-tinggi di atas kepala. Angka di layar menunjukkan 01:30.

"DIAM ATAU KITA SEMUA MATI BARENG!" teriak gue dengan suara paling ngebass yang bisa gue keluarin. "Maju satu langkah, gue banting kotak ini! Gue lepasin pemicunya! Dhuar! Kita semua jadi butiran debu kosmik!"

Boris tertegun. Anak buahnya saling pandang, ragu.

"Kau... kau gila," desis Boris. "Kau tidak akan berani. Kau juga akan mati."

"Hah! Lu nggak tau siapa gue?" Gue ketawa jahat (latihan dari nonton Joker). "Gue Bimon! Hidup gue udah hancur sejak lahir! Mati konyol adalah cita-cita gue! Gue nggak takut mati, gue cuma takut kuota internet abis! MAJU SINI KALAU BERANI!"

Dado di belakang gue berbisik, "Mon, akting lu bagus, tapi kaki lu kencing di celana tuh."

"Diem, itu keringat dingin!" elak gue.

Suasana tegang. Angin dingin Islandia bertiup membawa aroma belerang karena kami ternyata berhenti di dekat area Geyser panas bumi. Tanah di sekitar kami berasap.

00:59...

"Oke, oke," Boris mengangkat tangan. "Tenang. Kita bisa bicara bisnis. Berapa yang kau minta untuk benda itu?"

"Gue minta..." Gue mikir. "Tiket pesawat First Class balik ke Jakarta, Nasi Padang bungkus tiga porsi pake rendang, dan... 50 Juta Dollar!"

"Dollar Zimbabwe?" tanya Kibul nyeletuk.

"DIEM BUL!"

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki kami bergetar.

Grurururug....

Bukan, itu bukan perut gue. Itu tanah beneran. Kami berdiri terlalu dekat dengan lubang Geyser aktif.

Boris melotot. "Gempa?"

"Bukan, Bos," kata anak buahnya. "Itu Geyser 'Strokkur'. Jadwalnya meletus... sekarang."

BLARRRR!

Tepat di belakang kami, semburan air panas menyembur setinggi 20 meter ke udara dengan suara gemuruh dahsyat. Uap panas langsung menyelimuti area itu, bikin jarak pandang jadi nol.

"SEKARANG! LARI!" teriak gue.

Kami bertiga lari menembus uap panas itu. Para mafia batuk-batuk dan panik karena kacamata hitam mereka berembun total.

Kami lari tanpa arah, cuma mengandalkan insting bertahan hidup. Tapi sialnya, saking tebalnya uap, gue nggak liat jalan.

Kaki gue tersandung batu.

Tubuh gue melayang ke depan.

Kotak paket itu terlepas dari tangan gue.

Kotak itu melambung indah di udara, berputar-putar, layarnya menunjukkan angka 00:05.

Dan kotak itu jatuh...

Tepat masuk ke dalam lubang kawah lumpur panas yang menggelegak.

Glup.

Hening.

Kami bertiga tiarap di tanah, menutup kepala dengan tangan.

Boris dan anak buahnya juga tiarap.

00:03...

00:02...

00:01...

00:00...

Gue merem rapet, siap menyambut kiamat.

.... pfft.

Terdengar suara kayak kentut kecil dari dalam lubang lumpur. Lalu muncul gelembung kecil. Plop.

Nggak ada ledakan dahsyat. Nggak ada api.

Cuma ada bendera kecil yang keluar dari gelembung itu, bertuliskan: "PRANK! BY: NOOBMASTER69".

Lalu, confetti warna-warni menyembur pelan.

Kami semua bengong. Boris bengong. Dado bengong. Kibul tepuk tangan. "Wah, ulang tahun siapa nih?"

Gue mengangkat kepala, menatap bendera itu dengan tatapan kosong.

"Jadi... itu bukan bom? Itu cuma kotak mainan prank?"

"SIALANNNNN!" teriak Boris murka. Dia merasa dipermainkan. Mukanya merah padam, urat lehernya keluar. Dia menarik pistolnya lagi. "AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN DENGAN TANGAN KOSONG!"

Dia berlari ke arah kami dengan gaya banteng ngamuk.

"Kabur lagi, Gays!" teriak gue.

Tapi sial (lagi), di belakang kami ternyata tebing curam yang bawahnya sungai es. Di depan ada Boris yang ngamuk. Kanan kiri kawah panas.

Kami terpojok di bibir tebing.

"Mon... tamat riwayat kita," rintih Dado.

Boris sudah tinggal dua meter lagi. Tangannya yang segede batang pohon beringin siap meremas leher gue.

Tiba-tiba...

Tanah pijakan kami yang rapuh karena uap panas itu retak.

KRETEK!

"Eh?" Gue, Dado, Kibul, dan Boris menunduk melihat retakan itu.

"Wadidaw..." ucap gue pelan.

BYUR!

Tanah itu runtuh. Kami bertiga—plus Boris yang lagi ancang-ancang mau nyekek—jatuh bebas ke jurang sungai es di bawah sana.

Jeritan kami berempat bersahut-sahutan membelah kesunyian Islandia.

"AAAAAAAaaaaaa......!!!"

Apakah Bimon akan mati konyol jadi es serut?

Apakah Boris akan sadar kalau Bimon cuma kurir gaptek?

Dan yang terpenting, apakah Kibul sempet update status sebelum jatuh?

Tunggu kelanjutannya setelah pesan-pesan berikut ini! (Penulis mau benerin posisi duduk dulu, pinggang encok ngetik adegan lari-larian).

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G