BAB 7

BAB 9: PENJARA DENGAN AROMA NUGGET AYAM

MISTERI PAKET BEDAK BAYI DAN BURONAN WAJAH KENTANG

BAB 9: PENJARA DENGAN AROMA NUGGET AYAM

πŸ—“ 22 Sep 2025 πŸ‘ 365 Views
πŸ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 9: PENJARA DENGAN AROMA NUGGET AYAM

"Masuk!"

BLAM!

Pintu besi tebal itu ditutup dengan kasar. Suara kuncinya diputar terdengar seperti vonis mati bagi telinga kami. Klik. Cklek. JEDER.

Kami berempat berdiri di dalam ruangan sempit berukuran 3x3 meter. Dingin. Tentu saja dingin, ini Islandia. Tapi dingin di ruangan ini beda. Ini dingin yang menusuk sampai ke sumsum tulang belakang dan bikin niat bertaubat langsung muncul seketika.

"Ini... Penjara Super Maksimum?" tanya Dado dengan gigi gemeretuk. Dia memeluk dirinya sendiri, mencoba menghangatkan badan dengan sisa panas tubuh yang tinggal 5%.

Gue melihat sekeliling. Dindingnya terbuat dari logam stainless steel. Ada rak-rak besi di sekeliling kami. Dan di rak itu...

Bukan ada borgol atau alat penyiksaan.

Tapi ada tumpukan kantong plastik besar bertuliskan: "FROZEN CHICKEN NUGGETS - FAMILY PACK" dan "SPICY FISH BALLS".

Gue menyentuh salah satu kantong. Keras kayak batu.

"Gays..." kata gue pelan. "Kayaknya kita bukan di sel tahanan."

"Maksud lo?" tanya Boris yang lagi sibuk menendang pintu besi.

"Kita di... walk-in freezer. Kulkas raksasa buat nyimpen stok makanan kantin," simpul gue.

Hening sejenak. Kibul langsung berbinar. Dia merobek salah satu kantong nugget. "Wah! Rejeki anak sholeh! Nugget, Mon! Masih mentah sih, tapi lumayan buat digadoin."

"JANGAN MAKAN ITU, BEGO!" bentak Boris. Dia merampas nugget beku itu dari tangan Kibul dan membantingnya ke lantai. Trak! Nugget itu pecah berkeping-keping saking kerasnya. "Gigi kau bisa patah!"

"Tenang, Bos. Jangan emosi. Nanti darah tinggi, stroke, terus mati di dalem kulkas. Nggak elit banget," kata gue mencoba menenangkan si Beruang Rusia ini.

Boris mencengkeram kerah jaket gue (yang sekarang udah kaku jadi es). "Dengar ya, Si Muka Kentang. Kalau aku mati di sini, aku pastikan kau mati duluan. Aku akan jadikan kau es serut rasa loser!"

"Iya, iya, paham. Sekarang mending kita cari jalan keluar," kata gue sambil melepaskan cengkeramannya pelan-pelan.

Kami mulai memeriksa ruangan itu. Nggak ada jendela. Nggak ada ventilasi (ya iyalah, namanya juga freezer). Satu-satunya jalan keluar adalah pintu besi tadi yang dikunci dari luar.

"Do, lu kan insinyurβ€”eh, calon insinyur abadi. Gimana cara buka pintu ini dari dalem?" tanya gue ke Dado.

Dado membetulkan letak kacamatanya yang miring. "Secara teoritis, pintu walk-in freezer modern harus punya safety latch atau tuas pengaman di bagian dalam. Biar kalau ada koki yang kekunci nggak mati konyol."

"Nah! Cari tuasnya!" perintah gue.

Kami berempat meraba-raba dinding kayak orang buta lagi nyari koin jatuh.

"Ketemu!" seru Kibul.

Kami menoleh. Kibul memegang sebuah gagang merah di samping pintu. Di bawahnya ada tulisan: EMERGENCY RELEASE.

"Bagus, Bul! Lu emang jenius tersembunyi! Tarik!" sorak gue.

Kibul menarik gagang itu dengan sekuat tenaga.

Krak!

Gagang itu patah. Lepas di tangan Kibul.

Hening lagi. Kami menatap gagang merah di tangan Kibul, lalu menatap pintu yang masih tertutup rapat.

"Yaaah... copot," kata Kibul polos. "Kualitasnya jelek nih, made in mana sih?"

"KIBUUUUULLLL!" Gue, Dado, dan Boris teriak barengan. Boris udah siap-siap mau ngelempar Kibul ke tumpukan bakso ikan beku.

"Tunggu!" teriak gue menahan Boris. "Jangan bunuh Kibul dulu! Liat itu!"

Gue menunjuk ke pojok ruangan, di balik tumpukan kardus sosis. Ada sebuah lubang ventilasi kecil. Sangat kecil. Mungkin cuma muat buat kucing... atau kepala manusia yang ukurannya di bawah rata-rata.

"Itu saluran pembuangan udara dingin!" kata Dado. "Kalau kita bisa buka tutupnya, mungkin kita bisa teriak minta tolong atau... ngirim sinyal asap?"

"Sinyal asap pake apaan? Bakar sempak lu?" cibir gue. "Minggir, biar gue liat."

Gue mendekati ventilasi itu. Gue intip. Gelap. Tapi ada cahaya remang-remang di ujung sana. Dan terdengar suara orang ngobrol.

"Sstt! Diem!" bisik gue.

Suara dari balik ventilasi:

"...iya, Komandan Vlad lagi pusing. Katanya ada Tim Inspeksi Dadakan dari Pusat yang mau datang hari ini. Katanya mereka menyamar jadi rakyat jelata buat ngetes keamanan pangkalan."

"Serius? Tim Inspeksi 'Ghost Recon'? Yang sadis itu?"

"Iya! Katanya kalau ketauan markasnya nggak aman, Komandan bakal dimutasi jadi tukang bersihin kandang pinguin."

Otak gue yang biasanya lemot mendadak berputar secepat prosesor gaming. Sebuah ide brilian (dan gila) muncul. Sebuah skenario yang bisa menyelamatkan nyawa kami, atau bikin kami mati lebih cepat. Tapi worth it buat dicoba.

Gue berbalik menghadap teman-teman senasib gue. Gue pasang muka serius.

"Gays, gue punya rencana. Tapi ini butuh akting kelas Piala Citra."

"Rencana apa?" tanya Boris curiga.

"Kita bakal jadi... Tim Inspeksi Dadakan itu," bisik gue sambil nyengir lebar.

===BATAS BAB===

BAB 10: INSPEKTUR BARET BIRU (DAN KEPALA BEKU)

Lima belas menit kemudian, pintu freezer terbuka.

Seorang tentara muda dengan wajah jerawatan masuk sambil membawa nampan berisi bubur hambar.

"Makan malam, tahanan..."

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Boris langsung menyergapnya dari belakang. Hap! Bukan, bukan dibunuh. Tapi dipiting sayang.

"Tidur yang nyenyak, Nak," bisik Boris. Dia menekan titik syaraf di leher tentara itu (ternyata dia jago bela diri, kirain cuma jago marah-marah). Tentara itu pingsan seketika.

"Oke, Showtime!" seru gue.

Kami keluar dari freezer dengan gaya paling cool yang kami bisa (secara harfiah emang cool, alis gue masih ada es batunya).

Di lorong, kami berpapasan dengan sekelompok tentara yang lagi patroli. Mereka langsung mengacungkan senjata.

"Berhenti! Siapa kalian?! Kenapa keluar dari sel?!"

Jantung gue mau copot. Lutut Dado udah geter kayak vibrator hape. Tapi gue harus tetap pada karakter.

Gue melangkah maju dengan dagu diangkat tinggi-tinggi. Gue menatap mata si pemimpin patroli dengan tatapan merendahkan.

"TURUNIKAN SENJATA KALIAN, PRAJURIT!" bentak gue dengan suara menggelegar (hasil latihan teriak pas demo mahasiswa dulu).

Para tentara itu kaget. "Hah?"

"Kalian tidak tahu siapa kami?!" Gue menunjuk diri gue sendiri, lalu menunjuk Boris, Dado, dan Kibul. "Kami adalah TIM INSPEKSI KHUSUS 'GHOST RECON' DARI MARKAS PUSAT! Kode Sandi: Nasi Uduk Spesial!" (Sumpah gue ngarang kodenya).

"Kami sengaja menyamar jadi gembel, masuk lewat jalur sampah, dan membiarkan diri kami ditangkap, HANYA UNTUK MENGUJI KECOROBOHAN KALIAN!" lanjut gue berapi-api. "Dan ternyata benar! Keamanan di sini NOL BESAR! Kami bisa keluar dari freezer dalam waktu 5 menit hanya bermodalkan nugget ayam! MEMALUKAN!"

Para tentara itu saling pandang, bingung dan takut.

"T-tapi... Pak... Wajah Bapak ada di poster buronan..." kata salah satu tentara ragu.

"ITU BAGIAN DARI PENYAMARAN, BODOH!" potong Boris dengan aksen Rusianya yang kental. "Kalian pikir buronan asli sebodoh itu mau masuk ke kandang singa?! Itu teknik psikologis terbalik!"

Akting Boris meyakinkan banget. Mungkin karena dia emang aslinya penjahat, jadi aura intimidasinya natural.

"Si... Siap! Maafkan kami, Pak!" Para tentara itu langsung menurunkan senjata dan hormat.

"Panggil Komandan kalian! SEKARANG!" perintah gue sambil berkacak pinggang. "Sebelum saya laporkan markas ini biar diubah jadi pabrik es batu!"

Lima menit kemudian, kami duduk di ruang kantor Komandan yang hangat dan mewah. Ada karpet bulu, perapian, dan kepala rusa awetan di dinding.

Di depan kami, Komandan Vlad (yang tadi nangkep kami) duduk dengan keringat dingin bercucuran. Kumis baplangnya gemetar.

"Jadi... kalian benar-benar Tim Inspeksi?" tanyanya hati-hati.

"Menurut Anda?" jawab Dado sok angkuh sambil membetulkan kacamatanya yang retak. "Kami sudah mencatat 47 pelanggaran keamanan sejak kami mendarat di pagar kawat tadi. Domba itu... siapa namanya? Lucifer? Itu pelanggaran protokol hewan ternak di area militer level 5!"

Komandan Vlad menelan ludah. "Itu... itu domba terapi saya, Pak. Saya stress."

"Stress bukan alasan!" sambar Kibul tiba-tiba. Dia lagi asik mainin stapler di meja Komandan. "Stress itu obatnya liburan, bukan miara kambing di pangkalan militer. Dasar amatir."

Kata-kata Kibul yang ngasal malah terdengar sangat tajam dan filosofis bagi Komandan Vlad.

"B-benar sekali, Pak. Saya salah. Mohon jangan laporkan saya ke Pusat."

Gue tersenyum licik. "Tergantung, Komandan. Tergantung seberapa kooperatif Anda menjelaskan fasilitas ini kepada kami. Kami butuh 'Tur VIP' sekarang juga. Untuk... ya, audit inventaris."

"Siap! Siap laksanakan!" Komandan Vlad langsung berdiri tegak. "Silakan ikuti saya, Bapak-bapak Inspektur. Saya akan tunjukkan 'mainan' terbaru kami."

Kami bertiga dan Boris saling lirik.

Yes! Berhasil!

Sekarang tinggal cari celah buat kabur pas lagi tur. Gampang kan?

Harusnya sih gampang. Kalau aja kami nggak dibawa ke tempat paling berbahaya di muka bumi.

===BATAS BAB===

BAB 11: SENJATA RAHASIA "THE KRAKEN"

Tur keliling pangkalan militer Sector 7 ternyata membosankan sekaligus mengerikan.

Komandan Vlad dengan semangat 45 menjelaskan setiap detail alat perang yang ada di sana.

"Ini adalah Rudal Pencari Panas tipe X-50. Bisa mendeteksi panas tubuh manusia dari jarak 10 kilometer. Jadi kalau Bapak kentut di gunung sebelah, rudal ini bisa nyium," jelas Vlad bangga.

"Canggih," komentar Dado sambil manggut-manggut sok ngerti. "Tapi, apakah hemat energi? Isu global warming lagi sensitif lho di PBB."

"Oh, tentu Pak! Ini ramah lingkungan. Ledakannya biodegradable. Cuma menghancurkan target, tidak merusak ozon," jawab Vlad antusias.

Gue menahan tawa. Biodegradable bomb? Yang bener aja.

Kami berjalan menuju sebuah hangar raksasa di ujung kompleks. Hangar ini dijaga ketat oleh dua robot penjaga (beneran robot, kayak di film Robocop tapi versinya agak bantet).

"Nah, ini dia permata kami," kata Vlad sambil memindai retina matanya di pintu keamanan.

Akses Diterima.

Pintu hangar terbuka perlahan. Wuuussshhh.

Di dalam hangar itu, berdiri sebuah mesin perang yang ukurannya... GILA.

Bukan tank. Bukan pesawat.

Bentuknya kayak gabungan antara traktor raksasa, kapal selam, dan blender dapur. Ada bor besar di depannya, roda rantai setinggi rumah dua lantai, dan di atasnya ada meriam laser.

"Perkenalkan," Vlad merentangkan tangan. "THE KRAKEN. Kendaraan amfibi-subterania-aerodinamis. Bisa jalan di darat, menyelam di laut, ngebor ke inti bumi, dan terbang rendah (kalau dipaksa)."

"Buset..." gumam gue tanpa sadar. "Ini mah bukan Kraken, ini Megazord versi kuli bangunan."

"Apa Bapak bilang?" tanya Vlad.

"Ehem. Maksud saya... Desainnya sangat... bold dan avant-garde," ralat gue cepat. "Tapi apakah mesinnya sudah dipanaskan? Saya mau cek performa akinya. Jangan-jangan starternya susah kayak angkot pagi."

"Oh, The Kraken selalu siap tempur, Pak! Full tank bahan bakar nuklir!"

Boris menyenggol lengan gue. "Mon," bisiknya. "Itu kendaraan impianku. Kita curi itu."

"Hah? Gila lu! Kita mau kabur diem-diem, bukan mau bikin Perang Dunia Ketiga!" bisik gue balik.

"Pikirkan, Mon! Dengan benda itu, kita bisa keluar dari sini, hancurkan tembok, tembus badai salju, bahkan nyetir balik ke Indonesia lewat jalur darat!"

"Lewat jalur darat gimana?! Lewat dasar laut?!"

"Bisa kan tadi katanya!"

Perdebatan kami terhenti ketika Kibul, yang entah sejak kapan sudah naik ke atas ban raksasa The Kraken, berteriak dari atas.

"Woiii! Mon! Do! Di dalemnya ada PS5-nya lho!"

"Hah?"

Ternyata kokpit The Kraken pintunya terbuka. Dan Kibul sudah masuk ke dalam.

"Tunggu! Jangan sentuh apa-apa!" teriak Vlad panik. "Itu tombol peluncuran nuklir taktis!"

"Bukan kok, ini tombol buat nyalain AC," sahut Kibul.

KLIK.

Tiba-tiba, mesin The Kraken menderu hidup.

VROOOOMMM!

Suaranya memekakkan telinga. Lantai hangar bergetar hebat. Asap knalpot menyembur hitam pekat, bikin muka Komandan Vlad langsung jadi kayak pemain lenong yang gagal make up.

"Wadidaw! Kibul nyalain mesinnya!" teriak gue.

"Naik! Cepat naik!" teriak Boris. Dia lari memanjat tangga di sisi kendaraan.

"Tapi..." Dado ragu.

"Lu mau ditinggal di sini sama Komandan yang lagi ngamuk?!" Gue tarik kerah baju Dado dan menyeretnya naik ke atas The Kraken.

"HEI! TURUN! ITU PENGKHIANATAN!" jerit Komandan Vlad di bawah, sambil batuk-batuk kena asep. Dia meraih radio di pinggangnya. "SIAGA SATU! TIM INSPEKSI TERNYATA PALSU! MEREKA MEMBAJAK THE KRAKEN! TEMBAK DI TEMPAT!"

Kami berempat berhasil masuk ke dalam kokpit yang luasnya kayak ruang tamu apartemen studio. Banyak tombol, layar, dan lampu kelap-kelip.

"Gimana cara nyetirnya ini woy?!" teriak gue panik. Setirnya bukan bundar, tapi bentuknya kayak joystick dingdong.

"Minggir! Biar ahli yang pegang!" Boris mendorong Kibul dari kursi pilot. Dia duduk dan langsung memegang kendali. "Akhirnya... My Baby..."

Boris menarik tuas gas.

The Kraken menyentak maju.

DUAGH!

Menabrak rak peralatan di depan. Obeng dan kunci inggris raksasa berjatuhan menimpa atap kaca kokpit.

"Bisa nyetir nggak sih lu?!" protes Dado.

"Ini giginya keras! Belum ganti oli!" alasan Boris.

Di luar, sirine meraung-raung. Pintu hangar mulai menutup otomatis. Tentara-tentara mulai menembaki kami. DOR! DOR! DOR! Peluru mantul semua kena bodi baja The Kraken. Ting! Tang! Ting!

"Pintunya mau nutup! Tabrak aja, Bos!" teriak gue.

"Pegangan!" seru Boris.

Dia menekan tombol merah besar bertuliskan TURBO BOOST.

Api biru menyembur dari knalpot belakang. The Kraken melaju kencang menuju pintu hangar yang setengah tertutup.

BRAAAAAAAKKKK!

Pintu baja tebal itu jebol dihantam bor raksasa The Kraken. Kami terbang melayang keluar hangar, mendarat dengan dentuman keras di atas salju, dan melaju liar membelah pangkalan militer.

"YUHUUUU! BEBAS!" teriak Kibul girang.

Tapi kebebasan itu belum sepenuhnya milik kami. Di kaca spion (yang segede layar TV 42 inch), gue liat puluhan mobil jip militer dan helikopter tempur mulai mengejar.

"Mon," kata Dado lemas. "Kita baru aja nyuri aset negara Islandia senilai triliunan Rupiah..."

"Santai, Do. Nanti kita balikin kalau bensinnya abis. Kita pinjem bentar doang," hibur gue, padahal dalam hati gue mikir: Mati gue, emak gue di kampung pasti malu liat gue masuk berita internasional sebagai Pembajak Tank.

===BATAS BAB===

BAB 12: DRIFTING DI ATAS GLETSER

Mengendarai tank raksasa seberat 50 ton di atas permukaan es licin ternyata rasanya kayak main Bom-Bom Car tapi nyawanya cuma satu.

The Kraken meluncur tak terkendali. Boris membanting setir ke kiri, badan tank miring ke kanan. Banting ke kanan, tank miring ke kiri. Kami di dalam kokpit terlempar ke sana-sini kayak cucian kotor di mesin cuci.

"Aduh! Sikut gue!"

"Woy kaki lu bau!"

"Itu muka gue jangan didudukin!"

Suasana di dalam kokpit kacau balau.

"Mon! Liat radar!" teriak Dado sambil menunjuk layar hijau di dashboard. "Ada tiga helikopter mendekat dari arah jam enam!"

"Jam enam sore atau jam enam pagi?!" tanya Kibul.

"Jam enam arah belakang, oncom!" teriak gue.

DUDUDUDUDU!

Suara baling-baling helikopter terdengar jelas di atas kami. Sebuah misil meluncur.

FWOOSH!

"Awas misil!"

Boris membanting setir tajam. The Kraken melakukan manuver drifting yang indah banget kalau dilihat dari jauh, tapi bikin muntah kalau dirasain dari dalem.

NGIIIIIIKKK!

Misil itu meleset, meledak di samping kami, menciptakan kawah salju raksasa.

BLARR!

Goncangannya bikin gigi palsu (kalau ada yang pake) copot.

"Kita butuh senjata balasan!" teriak Boris. "Siapa yang bisa operasikan meriam belakang?"

Gue, Dado, dan Kibul saling pandang.

"Gue taunya main Mobile Legends, itu pun tier Epic abadi," kata gue.

"Gue taunya main The Sims, ngebangun rumah," kata Dado.

"Gue taunya main ular tangga," kata Kibul.

"ASTAGA! KALIAN INI GENERASI MUDA YANG TIDAK BERGUNA!" maki Boris frustrasi. "Tekan tombol apa saja yang gambarnya seram!"

Gue melihat panel kontrol di depan gue. Ada banyak tombol.

Tombol Gambar Tengkorak.

Tombol Gambar Api.

Tombol Gambar... Bebek Karet?

"Gue tekan yang gambar api ya!" Gue nekat menekan tombol itu.

Tiba-tiba, dari bagian belakang The Kraken, keluar sebuah selang besar.

SROOOOT!

Bukannya peluru laser, yang keluar malah... Api? Bukan. Minyak panas? Bukan.

Yang keluar adalah Cairan Sabun Busa Raksasa.

"Lho?! Kok sabun?!" Gue kaget.

Ternyata itu fitur "Riot Control Foam" (Busa Pengendali Kerusuhan).

Busa putih lengket menyembur ke arah helikopter yang terbang rendah di belakang kami. Kaca depan helikopter itu tertutup busa. Pilotnya panik.

"Mayday! Mayday! Kaca saya ketutup sabun cuci piring!" teriak pilot di radio (yang kebetulan frekuensinya bocor ke radio kami).

Helikopter itu oleng dan mendarat darurat (baca: jatuh pelan-pelan) di tumpukan salju.

"Hahaha! Mampus lu! Rasakan kekuatan kebersihan!" sorak gue. Ternyata tombol absurd pun berguna di tangan orang yang tepat (baca: orang yang lagi panik).

"Bagus! Sekarang ke mana kita?!" tanya Boris.

"Ke bandara!" usul Dado.

"Jangan! Bandara pasti udah dijaga ketat!" tolak gue. "Kita harus cari tempat sembunyi dulu. Ke hutan! Atau ke desa terpencil!"

"Di depan ada desa!" tunjuk Kibul.

Di kejauhan, terlihat kumpulan rumah-rumah kecil berwarna-warni khas Skandinavia. Itu desa nelayan yang damai. Tenang. Indah.

Dan ada Tank Raksasa yang melaju ke arahnya dengan kecepatan 100 km/jam tanpa rem.

"REM, BORIS! REM!" teriak kami bertiga.

"Remnya blong!" teriak Boris. "Tadi kena ledakan misil, selang remnya putus!"

"WADIDAW!"

The Kraken meluncur deras menuju desa itu. Warga desa yang lagi jemur ikan asin (eh, ikan Cod) kaget setengah mati melihat monster besi datang. Mereka lari tunggang langgang.

Tank kami menabrak pagar kayu. KRAK!

Menabrak jemuran baju. SRET! (Sekarang ada celana dalam ukuran XL nyangkut di antena The Kraken).

Menabrak gerobak es krim. TING TING TING!

Dan akhirnya...

The Kraken meluncur ke arah dermaga kayu tua.

Di ujung dermaga... Laut lepas.

"KITA BAKAL NYEBUR!" jerit Dado.

"Aktifkan Mode Selam!" perintah Boris.

"Tombol yang manaaaa?!" Gue panik mencet-mencet sembarangan.

Gue tekan tombol gambar Ikan.

Tiba-tiba, roda The Kraken melipat ke dalam. Sirip-sirip keluar. Kaca kokpit terkunci rapat kedap udara.

Tepat saat The Kraken melayang di udara setelah loncat dari ujung dermaga.

BYUUUUUUURRRRR!

Cipratan air setinggi monas terjadi.

Kami tenggelam ke dalam laut Atlantik Utara yang gelap dan dingin.

Hening.

Di dalam kokpit, lampu berubah jadi merah remang-remang. Suara sonar terdengar Ping... Ping...

"Kita... masih hidup?" raba Dado memastikan kepalanya masih nempel di leher.

"Masih," jawab Boris, mengatur napas. "Sekarang kita adalah kapal selam."

"Keren..." desis Kibul, menempelkan wajahnya ke kaca. "Eh, ada ikan Nemo!"

"Itu bukan Nemo, itu sampah plastik warna oranye," koreksi gue.

Tapi masalah belum selesai. Di radar, muncul titik merah besar yang bergerak cepat menuju kami dari kedalaman laut.

Dan ukurannya... lebih besar dari The Kraken.

"Apa itu?" tanya gue gemetar. "Paus?"

"Bukan," kata Boris, wajahnya pucat. "Itu kapal selam nuklir Rusia. Sepertinya sinyal The Kraken terlacak oleh musuh lamaku."

"Musuh lama?"

"Iya. Mantan bosku. Vladimir 'The Butcher'. Dia yang memecatku karena aku ketauan nonton drama Korea pas lagi jaga rudal."

"Alamakjan..." Gue tepok jidat. "Keluar kandang buaya, masuk mulut hiu, sekarang dikejar mantan bos baperan di dasar laut."

Penulis: Pembaca yang budiman, kalau kalian pikir hidup kalian berat, coba bayangin jadi Bimon. Udah dingin, laper, dikejar tentara, sekarang mau diperangain sama kapal selam nuklir.

Apakah mereka akan selamat? Atau akan jadi pecel lele versi deep sea?

Jangan ke mana-mana, tetap di novel gaje ini!

===BATAS BAB===

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya Tamat / Belum Ada Bab

Diskusi 0

G