Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBAB 10: MESIN CUCI PORTAL KAUS KAKI
Sudah menjadi rahasia umum bahwa mesin cuci memiliki selera makan yang spesifik: kaus kaki sebelah kiri. Namun, di Laundry Berkah, fenomena ini terjadi pada tingkat industri. Mesin cuci nomor 7 di sudut ruangan adalah sebuah anomali. Ia bukan hanya menghilangkan kaus kaki, tapi juga menukarnya dengan barang acak dari semesta lain.
Hari Minggu itu, Tono sedang menunggu cuciannya. Dia memasukkan 10 pasang kaus kaki. Secara logika matematika, dia harusnya mendapatkan kembali 20 buah kaus kaki.
Saat mesin berbunyi 'ting' menandakan selesai, Tono membuka pintu kaca mesin cuci. Dia mengeluarkan tumpukan baju basah. Kaus kaki sebelah kanan lengkap ada 10 buah. Tapi kaus kaki sebelah kiri? Nol. Hilang tak berbekas.
Sebagai gantinya, di dasar tabung mesin cuci, terdapat benda-benda aneh yang jelas bukan miliknya:
1. Sebuah garpu emas dengan ukiran bahasa kuno.
2. Tiga buah tutup tupperware yang tidak cocok dengan wadah manapun di bumi.
3. Sepucuk surat cinta yang ditulis di atas daun pisang kering, tertanggal tahun 2085.
"Mbak!" panggil Tono pada penjaga laundry. "Mesin 7 kumat lagi!"
Penjaga laundry, Mbak Ani, datang dengan wajah bosan sambil membawa serokan ikan. "Haduh, dia barter apa kali ini? Wah, garpu emas. Lumayan, Mas Tono untung hari ini. Kemarin Pak RT cuma dapat batu kerikil dari Mars."
"Saya butuh kaus kaki saya, Mbak. Itu kaus kaki kerja," keluh Tono. "Gimana saya ngantor pakai garpu?"
"Ya mau gimana lagi, Mas. Mesin 7 itu terhubung dengan wormhole ke galaksi Andromeda bagian selatan. Di sana mungkin kaus kaki mata uangnya mahal. Jadi mereka barter," jelas Mbak Ani santai seolah menjelaskan cara kerja deterjen.
Tono memungut surat cinta di atas daun pisang itu. Isinya tentang kerinduan seseorang bernama Xgorb pada kekasihnya Yulip di koloni Bulan. "Terus ini gimana?"
"Simpan aja, Mas. Siapa tahu jadi inspirasi novel," kata Mbak Ani. "Atau Mas mau nunggu? Biasanya kalau mesinnya diputar balik counter-clockwise, kadang dia muntahin balik kaus kakinya. Tapi resikonya baju Mas yang lain bisa berubah jadi agar-agar."
Tono menatap kemeja kerjanya yang berharga, lalu menatap garpu emas di tangannya. "Ya sudahlah. Saya ambil garpunya saja. Siapa tahu laku dijual buat beli lusinan kaus kaki baru."
Dia pulang dengan satu kantong baju basah dan sebuah artefak alien, merenungkan bahwa hidup di kota ini menuntut tingkat keikhlasan yang sangat tinggi terhadap aksesori kaki.