Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBAB 9: HANTU YANG TERLALU INTROVERT
Rumah tua di ujung Jalan Buntu nomor 13 terkenal angker. Namun, harga sewanya sangat murah karena hantunya, yang bernama Mas Kunti (dia laki-laki, varian langka), memiliki gangguan kecemasan sosial yang parah.
Raka, penyewa baru yang seorang mahasiswa, sedang belajar untuk ujian semester di ruang tamu jam 2 pagi. Suasana hening. Tiba-tiba, dia mendengar suara langkah kaki ragu-ragu di tangga. Raka menoleh. Di sana, mengintip dari balik tiang tangga, terlihat sosok berbungkus kain putih lusuh.
Saat mata mereka bertemu, sosok itu tersentak kaget dan buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik tiang.
"Mas Kunti?" panggil Raka santai sambil memutar penanya.
Suara lirih terdengar dari balik tiang. "M-maaf, Mas Raka. Saya... anu... saya cuma mau ke dapur. Haus. Maaf ganggu belajarnya."
"Ya lewat aja, Mas. Nggak usah ngintip-ngintip, malah bikin kaget," kata Raka.
Mas Kunti keluar perlahan dengan gerakan melompat kecil yang canggung. Dia menunduk, menghindari kontak mata. "Iya, maaf. Tadi saya niatnya mau ketawa cekikikan biar seram, sesuai SOP perhantuan. Tapi pas lihat Mas Raka lagi serius banget baca buku Biokimia, saya jadi nggak enak. Takut memecah konsentrasi. Biokimia itu susah lho, Mas."
Raka menghela napas. "Emang susah. Mas Kunti ngerti siklus Krebs?"
"Dikit-dikit, Mas. Dulu saya meninggalnya pas lagi skripsi jurusan Biologi," jawab hantu itu malu-malu.
Akhirnya, mereka berdua duduk bersama di ruang tamu. Mas Kunti (yang ternyata tidak minum, dia cuma alasan saja karena bosan di loteng) membantu Raka menghafal materi ujian. Sesekali Mas Kunti mencoba menakuti Raka dengan memutar kepalanya 180 derajat, tapi dia langsung minta maaf, "Eh sori, refleks. Kebiasaan lama."
Menjelang subuh, Mas Kunti pamit. "Udah mau pagi, Mas. Saya harus balik ke pojokan yang gelap. Nanti kalau ada tamu datang, tolong bilang jangan berisik ya. Saya gampang panik kalau ketemu orang baru."
"Siap, Mas," kata Raka. "Makasih tutornya."
"Sama-sama. Semangat ujiannya," Mas Kunti melompat pelan ke atas, menabrak sedikit bingkai foto karena gugup, meminta maaf lagi pada bingkai foto itu, lalu menghilang di kegelapan plafon. Raka tersenyum, punya teman kos hantu ternyata lebih enak daripada punya teman manusia yang suka pinjam uang tapi lupa bayar.