BAB 13

BAB 13: ANTRIAN YANG JUJUR

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 13: ANTRIAN YANG JUJUR

๐Ÿ—“ 21 Dec 2025 ๐Ÿ‘ 1,098 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 13: ANTRIAN YANG JUJUR

Di kantor pos utama kota, ada kebijakan yang unik untuk mencegah perkelahian di antrean. Alih-alih sistem nomor biasa, antrean diatur berdasarkan kejujuran niat seseorang dalam bertransaksi.

Pagi ini, ada 15 orang mengantri. Nomor antrean tidak keluar berurutan. Antrean 1 adalah seorang kakek yang ingin mengirim surat untuk cucunya. Niatnya murni, antriannya cepat. Tapi di belakang kakek itu, ada Bu Lena yang tampak cemas.

Ketika Bu Lena maju, lampu di atas loket berkedip merah terang dan mengeluarkan bunyi sirene keras. Sebuah suara robotik berkata, "Peringatan! Niat terdeteksi 'Tidak Murni'! Bu Lena, Anda dideteksi ingin mengirim paket yang di dalamnya berisi pempek yang sudah agak basi sebagai hadiah, padahal Anda hanya ingin membuat saudara jauh Anda merasa berutang budi."

Bu Lena tersentak. "Tidak! Saya cuma mau kirim pempek kok!"

"Jendela Analisis Niat menyatakan: Anda ingin pamrih! Silakan mundur dan bermeditasi selama 10 menit untuk memurnikan niat Anda," perintah si robot.

Bu Lena terpaksa mundur ke kursi meditasi yang disediakan, wajahnya cemberut.

Antrean pindah ke nomor 8, seorang pria bernama Doni. Doni terlihat tegar. Dia ingin mengirim dokumen bisnis. Dia maju. Lampu hijau stabil. "Niat terdeteksi: 'Murni untuk mencari nafkah.' Silakan bertransaksi," kata robot itu.

Doni tersenyum puas. Tapi saat dia mulai bicara pada petugas, tiba-tiba lampu kuning berkedip. "Peringatan! Niat terdeteksi 'Campur Adul'! Anda ingin mencari nafkah, TETAPI Anda juga secara diam-diam berharap petugas loket ini salah hitung biaya kirim sehingga Anda dapat kembalian lebih. Niat tidak sepenuhnya murni. Tunda lima menit!"

Doni menggebrak meja. "Sial! Pikiran sekilas saja kok dihitung!"

"Semua pikiran diperhitungkan," jawab robot.

Petugas kantor pos hanya tersenyum lelah. Mereka tahu sistem ini adil, tapi sangat lambat. Mereka sering menghabiskan setengah hari kerja hanya untuk menunggu para pelanggan memurnikan niat mereka dari dendam kecil, iri hati, atau harapan curang yang sangat manusiawi. Kantor pos ini adalah tempat paling lambat tapi paling jujur di seluruh kota.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G