Rutinitas Yang Mustahil
BAB 15: MAKANAN CEPAT SAJI TERLALU FILOSOFIS
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBAB 15: MAKANAN CEPAT SAJI TERLALU FILOSOFIS
Kedai makanan cepat saji 'Burger Abadi' sangat terkenal dengan burger terbaiknya. Tapi proses drive-thru-nya menguji kesabaran dan filsafat hidup pelanggan. Mereka tidak hanya mengambil pesanan, tapi juga menyaring jiwa Anda.
Malam itu, Rio yang lapar dan lelah, mengendarai mobil ke loket drive-thru.
"Selamat malam, Burger Abadi. Selamat datang di jendela refleksi. Apa pesanan Anda?" Suara yang keluar dari speaker terdengar dalam dan bermartabat, seolah milik seorang pendeta kuno.
"Saya mau paket 3, double cheese burger dengan kentang goreng besar dan cola diet," jawab Rio cepat.
"Sebelum itu, Bapak," kata suara itu. "Kami harus memvalidasi hasrat Anda. Mengapa Anda memilih cola diet, padahal Anda baru saja memesan double cheese burger yang kaya kalori?"
Rio mengerutkan dahi. "Ya... karena... karena saya mau mengurangi rasa bersalah?"
"Apakah rasa bersalah bisa dihilangkan hanya dengan menukar gula dengan pemanis buatan, Bapak? Apakah ini hanya ilusi pengampunan diri, ataukah ini adalah upaya nyata untuk mencapai keseimbangan diet?"
Rio mulai kesal. Mobil di belakangnya sudah mengklakson pelan. "Dengar ya! Ini cuma soda! Beri aku sodanya, aku lapar!"
"Rasa lapar," balas suara itu tenang. "Adalah kekosongan yang diisi. Tetapi apakah Anda yakin kekosongan itu hanya ada di perut Anda? Ataukah kekosongan itu adalah lubang eksistensial yang hanya bisa ditutup oleh konsumsi berlebihan? Kami menjual makanan, bukan resolusi hidup."
Setelah lima menit debat filosofis tentang etika diet dan sifat keinginan manusia, Rio akhirnya menyerah. "Oke! Beri aku cola biasa! Aku menyerah pada ilusi hidup sehat!"
"Keputusan yang jujur dan berani, Bapak," kata suara itu dengan nada persetujuan. "Kami menghargai kejujuran eksistensial Anda. Pesanan Anda diterima. Total 89.000. Silakan maju ke jendela pembayaran dan hadapi konsekuensi pilihan Anda." Rio menghela napas. Kenapa membeli burger saja harus melalui krisis identitas?