Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBAB 16: TANAMAN HIAS TUKANG GOSIP
Sejak revolusi botani tahun lalu, merawat taman bukan lagi kegiatan yang menenangkan bagi Bu Marni. Itu adalah perang mental. Tanaman-tanaman di kota ini tidak hanya bernapas dan berfotosintesis; mereka juga bergunjing dengan suara desis klorofil yang menyebalkan.
Pagi ini, Bu Marni sedang menyiram anggrek bulan kesayangannya di teras. Namun, suasana damai itu rusak oleh percakapan antara pohon mangga di halaman depan dan semak melati di pagar tetangga.
"Psst! Hei, Mangga!" desis semak Melati dengan suara kemerisik daun. "Lihat tuh Bu Marni. Pakai daster batik yang robek di ketiak lagi. Padahal suaminya baru naik pangkat."
Pohon Mangga menggoyangkan rantingnya, tertawa berderit. "Halah, itu belum seberapa. Kamu tahu pupuk yang dia siramkan ke akarku kemarin? Itu pupuk diskonan! Rasanya kayak makan nasi aking. Padahal aku sudah berbuah lebat musim lalu. Dasar pelit."
Bu Marni membanting selang airnya. "Heh! Aku dengar ya! Pupuk itu harganya mahal! Kalian ini tanaman bukannya berterima kasih malah ngomongin orang!"
"Waduh, ketahuan," bisik Melati. "Awas, Bu Bos marah. Nanti kita dipangkas model botak lagi kayak bulan lalu."
"Biarin," sahut Kaktus kecil di pot gantung dengan suara cempreng. "Mending dipangkas daripada disiram kebanyakan air. Woy, Bu! Aku ini kaktus! Kering itu estetik! Jangan disiram tiap hari, aku bisa busuk akar, tahu! Baca buku panduan dong!"
Bu Marni memijat pelipisnya. Dia rindu masa-masa ketika tanaman hanya diam dan tumbuh. Sekarang, privasi di kebun sendiri adalah hal mustahil. Rumput jepang di bawah kakinya bahkan mulai berkomentar soal berat badannya.
"Agak berat ya injakannya hari ini," gumam rumput itu pelan. "Sepertinya diet karbo-nya gagal lagi."
Bu Marni menyerah. Dia masuk ke dalam rumah, membanting pintu, dan memutuskan untuk membeli tanaman plastik saja besok. Setidaknya plastik tidak punya mulut.