BAB 2: RAPAT UMUM BAYANGAN
Masalah dimulai sekitar tiga bulan lalu ketika bayangan-bayangan di kota memutuskan bahwa mereka menuntut jam kerja yang lebih manusiawi. Mereka tidak lagi mau menempel di kaki pemiliknya 24 jam sehari. Setelah negosiasi alot yang dimediatori oleh Walikota (yang bayangannya sendiri sering mogok kerja dan bersembunyi di bawah meja), diputuskan bahwa setiap hari, dari pukul 12.00 siang hingga 13.00 siang, bayangan mendapatkan jam istirahat.
Bagi Sari, seorang akuntan yang sibuk, ini adalah bencana sosial. Jam istirahat makan siang adalah waktu di mana dia harus berurusan dengan kelakuan bayangannya yang memalukan. Hari ini, Sari sedang makan siang dengan klien penting di sebuah restoran di pusat kota. Tepat pukul dua belas, bayangannya—sebuah siluet hitam yang ramping—melepaskan diri dari bawah kakinya, meregangkan tubuh seolah baru bangun tidur, dan berjalan menjauh.
Sari mencoba bersikap profesional, terus membahas laporan keuangan sambil matanya melirik cemas ke arah bayangannya. Bayangan itu, bukannya duduk tenang di sudut, malah berjalan ke meja sebelah di mana seorang pria tampan sedang duduk. Bayangan Sari mulai melakukan gerakan-gerakan yang—jika dilakukan oleh Sari sendiri—akan dianggap sangat tidak pantas. Bayangan itu menari, mengibaskan rambut (yang tidak dimilikinya), dan seolah-olah sedang merayu bayangan pria tersebut.
Wajah Sari memerah padam. Dia berdeham keras, mencoba memberi kode pada bayangannya untuk kembali. Kliennya, Pak Hadi, berhenti makan dan mengikuti arah pandang Sari. "Ah," kata Pak Hadi dengan nada datar. "Bayanganmu sepertinya tipe yang ekstrovert ya, Bu Sari."
"Maafkan saya, Pak Hadi," kata Sari dengan gigi terkatup. "Dia selalu begitu kalau jam istirahat. Kurang disiplin." Sari kemudian harus berdiri, berjalan ke meja pria tampan itu, dan berbisik tajam ke arah lantai, "Heh! Balik sekarang! Kamu bikin malu!" Bayangan itu mengangkat bahu (secara kiasan), memberinya gestur 'tunggu sebentar', sebelum akhirnya dengan enggan meluncur kembali dan menempel di kaki Sari tepat saat jam menunjukkan pukul satu. Sari kembali duduk, memperbaiki letak kacamatanya, dan berkata, "Baiklah, mari kita kembali ke halaman 45. Maaf atas gangguan kecil tadi."