π
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli Akses
BAB 20: MONSTER HARI SENIN
Semua orang membenci hari Senin. Tapi di Kompleks Griya Aneh, kebencian itu beralasan karena Senin adalah entitas fisik. Dia adalah monster setinggi dua meter, berbulu abu-abu kusam, berbau seperti kopi basi dan tinta fotokopi, serta membawa tas kerja raksasa.
Setiap minggu pagi berakhir, warga mulai membarikade pintu rumah mereka. Tapi Monster Senin tidak bisa dihentikan. Dia tidak mendobrak; dia menembus pintu dengan aura kemalasan dan kewajiban yang menyesakkan.
Jam 05.30 pagi, Tio masih bersembunyi di balik selimutnya. Dia mendengar langkah berat menaiki tangga. Bum... Bum... Bum...
Pintu kamar terbuka. Monster Senin berdiri di sana, menatap Tio dengan mata yang sayu dan berkantung tebal. Monster itu tidak mengaum. Dia hanya menghela napas panjangβsuara yang terdengar seperti ribuan karyawan mengeluh serentak.
"Bangun, Tio..." suara Monster Senin terdengar berat dan bergema. "Libur telah usai... Realitas memanggil..."
"Lima menit lagi!" teriak Tio sambil memegang erat gulingnya. "Pergi kau! Aku masih mau bermimpi jadi rockstar!"
Monster Senin mendekat. Dia mengulurkan tangan besarnya yang dingin dan lembap, lalu menarik selimut Tio dengan satu sentakan lembut tapi tak terbantahkan.
"Tidak ada mimpi... yang ada hanya deadline... laporan mingguan menumpuk... bosmu sedang bad mood..." bisik monster itu. Aura keputusasaan yang dipancarkannya begitu kuat hingga Tio merasa semangat hidupnya tersedot keluar.
Tio mencoba melawan, melempar jam weker ke arah monster itu. Jam itu memantul di perut buncit si monster tanpa efek.
Monster Senin kemudian membuka tas kerjanya, mengeluarkan setelan kemeja kerja Tio, dan melemparnya ke wajah Tio. "Pakai ini... Jadilah roda penggerak ekonomi yang patuh... Jangan membangkang..."
Dengan lemas dan mata berkaca-kaca, Tio akhirnya duduk di tepi kasur. Dia kalah lagi. Monster Senin mengangguk puas, mencoret nama Tio dari daftar di tangannya, lalu berbalik pergi untuk meneror tetangga sebelah. "Sampai jumpa minggu depan, budak korporat..." gumamnya saat menghilang di balik pintu.
Semua orang membenci hari Senin. Tapi di Kompleks Griya Aneh, kebencian itu beralasan karena Senin adalah entitas fisik. Dia adalah monster setinggi dua meter, berbulu abu-abu kusam, berbau seperti kopi basi dan tinta fotokopi, serta membawa tas kerja raksasa.
Setiap minggu pagi berakhir, warga mulai membarikade pintu rumah mereka. Tapi Monster Senin tidak bisa dihentikan. Dia tidak mendobrak; dia menembus pintu dengan aura kemalasan dan kewajiban yang menyesakkan.
Jam 05.30 pagi, Tio masih bersembunyi di balik selimutnya. Dia mendengar langkah berat menaiki tangga. Bum... Bum... Bum...
Pintu kamar terbuka. Monster Senin berdiri di sana, menatap Tio dengan mata yang sayu dan berkantung tebal. Monster itu tidak mengaum. Dia hanya menghela napas panjangβsuara yang terdengar seperti ribuan karyawan mengeluh serentak.
"Bangun, Tio..." suara Monster Senin terdengar berat dan bergema. "Libur telah usai... Realitas memanggil..."
"Lima menit lagi!" teriak Tio sambil memegang erat gulingnya. "Pergi kau! Aku masih mau bermimpi jadi rockstar!"
Monster Senin mendekat. Dia mengulurkan tangan besarnya yang dingin dan lembap, lalu menarik selimut Tio dengan satu sentakan lembut tapi tak terbantahkan.
"Tidak ada mimpi... yang ada hanya deadline... laporan mingguan menumpuk... bosmu sedang bad mood..." bisik monster itu. Aura keputusasaan yang dipancarkannya begitu kuat hingga Tio merasa semangat hidupnya tersedot keluar.
Tio mencoba melawan, melempar jam weker ke arah monster itu. Jam itu memantul di perut buncit si monster tanpa efek.
Monster Senin kemudian membuka tas kerjanya, mengeluarkan setelan kemeja kerja Tio, dan melemparnya ke wajah Tio. "Pakai ini... Jadilah roda penggerak ekonomi yang patuh... Jangan membangkang..."
Dengan lemas dan mata berkaca-kaca, Tio akhirnya duduk di tepi kasur. Dia kalah lagi. Monster Senin mengangguk puas, mencoret nama Tio dari daftar di tangannya, lalu berbalik pergi untuk meneror tetangga sebelah. "Sampai jumpa minggu depan, budak korporat..." gumamnya saat menghilang di balik pintu.