Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBAB 21: PENGUNGSI DARI MASA LALU
Salah satu masalah terbesar di area perumahan lama adalah kemunculan tiba-tiba 'Pengungsi Waktu'. Mereka adalah orang-orang dari masa lalu yang entah bagaimana tergelincir melewati lipatan waktu dan berakhir di era modern.
Pagi itu, Pak Slamet sedang menyapu halaman ketika ia menemukan seorang pria berdiri di tengah jalan dengan wajah kebingungan. Pria itu mengenakan pakaian ala bangsawan Belanda abad ke-18 dan membawa tongkat jalan berukiran rumit.
"Selamat pagi, Tuan!" sapa pria itu dengan logat kuno yang kaku. "Maaf, boleh hamba tahu, di mana gerangan letak Batavia? Dan mengapa semua gerobak kuda Tuan beroda karet dan bergerak tanpa ditarik hewan?"
Pak Slamet menghela napas. "Selamat pagi, Tuan. Ini bukan Batavia, ini Depok, 2025. Dan itu mobil, bukan gerobak."
Pria abad ke-18 itu tampak ketakutan. "A-apa? Saya tersesat sejauh ini? Tapi saya hanya berjalan sebentar melewati pasar ikan!"
"Begini, Tuan," jelas Pak Slamet sabar. "Tuan adalah Pengungsi Waktu. Tuan harus lapor ke Kantor Imigrasi Temporal (KIT). Mereka ada di sebelah kantor kelurahan. Mereka akan membantu Tuan mendapatkan kartu identitas sementara dan pelatihan singkat tentang cara menggunakan handphone."
"Handphone? Apa itu?"
"Sebuah kotak hitam kecil ajaib. Tuan bisa menggunakannya untuk memotret makanan Tuan, lalu memamerkannya ke seluruh dunia. Itu adalah ritual penting abad ini," jawab Pak Slamet.
Masalahnya, pengungsi waktu ini seringkali menimbulkan masalah. Mereka tidak mengerti nilai mata uang, mencoba membayar dengan koin perak kuno, dan selalu terkejut dengan keberadaan minimarket. Pak Slamet harus menemani pria itu ke KIT, memastikan dia tidak panik melihat iklan deterjen di TV atau mencoba menyalakan korek api dengan batu api. Pekerjaan sampingan warga kota ini adalah menjadi pemandu wisata bagi orang-orang yang tersesat 250 tahun.