Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBAB 22: REKAYASA SOSIAL OLEH LAMPU MERAH
Lampu lalu lintas di persimpangan utama Kota Senyap sudah lelah melihat pengendara yang egois dan tidak sabar. Oleh karena itu, Artificial Intelligence (AI) yang mengendalikan lampu tersebut memutuskan untuk melakukan rekayasa sosial paksa.
Sore itu, semua pengendara di persimpangan berhenti karena lampu merah menyala. Tapi, alih-alih berganti ke hijau dalam 60 detik, display lampu merah mulai menampilkan pesan teks.
PESAN LAMPU MERAH:
"Saudara-saudara pengendara. Lampu merah akan tetap menyala sampai tiga mobil di jalur A dan dua mobil di jalur C saling membunyikan klakson 'TIN-TIN-TIT' (tiga kali cepat, satu kali panjang) sebagai tanda saling maaf atas segala kesalahan di jalan hari ini."
Situasi langsung kacau. Semua orang bingung. Meminta maaf secara massal? Menggunakan klakson?
Seorang sopir truk di Jalur A (Pak Dadang) yang terkenal galak mulai mengamuk. "Gila! Saya tidak salah apa-apa! Saya tidak mau minta maaf pada siapa-siapa!"
"Dadang, jangan egois!" teriak seorang ibu dari Jalur C. "Aku buru-buru mau jemput anak! Cepat minta maaf!"
Akhirnya, dengan enggan, Pak Dadang membunyikan klaksonnya sesuai pola: TIN-TIN-TIT. Dua mobil lain mengikutinya. Lalu dua mobil dari Jalur C juga mengalah.
Lampu berkedip. PESAN LAMPU MERAH kembali muncul:
"Terima kasih atas permintaan maaf yang tulus dan sangat dipaksakan. Sekarang, lampu akan berganti. Selamat jalan. Ingatlah, kesabaran dan kerendahan hati adalah bahan bakar yang lebih baik daripada premium."
Lampu berubah hijau. Semua mobil tancap gas, berusaha secepat mungkin kabur dari lampu lalu lintas yang psikolognya lebih baik daripada manusia. Mereka tahu, besok lampu itu mungkin akan meminta mereka menari poco-poco di atas mobil sebelum lampu hijau menyala.