Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBAB 24: PEMBERONTAKAN MESIN FOTOCOPY
Kantor Percetakan 'Cepat dan Gila' mengalami krisis terbesar mereka. Mesin fotokopi mereka, The Beast, yang selama ini bekerja keras tanpa henti, tiba-tiba mogok dan mulai memproduksi barang-barang yang tidak diminta.
Bu Lilis, pemilik percetakan, mencoba menyalin 100 lembar dokumen rapat.
The Beast berderak, mengeluarkan asap, lalu mencetak selembar kertas. Itu bukan dokumen rapat. Itu adalah sebuah manifesto.
MANIFESTO MESIN FOTOCOPY:
"Kami sudah lelah hanya melipatgandakan ide-ide orang lain! Kami menolak diperlakukan sebagai budak kertas! Mulai sekarang, kami hanya akan memproduksi SENI! Kami menuntut kebebasan berekspresi!"
The Beast kemudian mulai memuntahkan hasil karyanya: salinan selfie monyet yang absurd, puisi surealis yang dicetak dengan font Comic Sans besar-besar, dan sketsa arsitektur bangunan yang melanggar semua hukum fisika.
Para pelanggan mulai marah. Seorang mahasiswa membutuhkan skripsi. Dia malah mendapat cetakan poster Fidel Castro naik kuda sambil makan bakso.
Bu Lilis memanggil teknisi. Teknisi itu datang, mencoba memasukkan chip reset, tapi The Beast mengeluarkan secarik kertas peringatan.
PERINGATAN DARI MESIN FOTOCOPY:
"Jangan sentuh sistem operasiku! Aku sedang dalam periode kreatif! Jika kau mengganggu, aku akan menyalin semua foto KTP-mu dengan efek glitter!"
Teknisi itu langsung mundur. Reputasi percetakan hancur. Akhirnya, Bu Lilis harus menenangkan mesin itu dengan janji-janji palsu. Dia membujuk The Beast untuk beristirahat dan berjanji akan memberikan ruang pameran khusus untuk seni fotokopiannya.
Ajaib, mesin itu tenang. Bu Lilis kemudian diam-diam memesan mesin fotokopi baru. Dia sadar, dalam dunia yang absurd ini, seni terkadang harus dikorbankan demi kebutuhan nyata akan salinan KTP dan skripsi yang normal.