BAB 26

BAB 26: SAMPAH KATA-KATA FISIK

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 26: SAMPAH KATA-KATA FISIK

๐Ÿ—“ 03 Jan 2026 ๐Ÿ‘ 1,094 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 26: SAMPAH KATA-KATA FISIK

Di kota ini, peribahasa "mulutmu harimau-mu" tidak berlaku. Yang berlaku adalah "mulutmu pabrik limbah padat". Sejak anomali sonik terjadi tiga tahun lalu, setiap kata yang diucapkan manusia akan memadat menjadi objek fisik sesaat setelah keluar dari mulut. Kata-kata manis menjadi permen kapas, kata-kata pedas menjadi beling, dan kata-kata kasar menjadi bongkahan batu bata.

Rumah Tangga pasangan muda, Riko dan Siska, sedang mengalami krisis kebersihan. Mereka baru saja bertengkar hebat semalam.

Pagi ini, ruang tamu mereka penuh sesak. Bukan oleh perabotan, tapi oleh tumpukan balok-balok batu bata berwarna merah gelap bertuliskan "EGOIS", "KAMU GAK PEKA", dan "TERSERAH". Riko harus melompati gundukan kata "POKOKNYA" setinggi lutut hanya untuk mencapai dapur.

"Siska," panggil Riko sambil menyapu pecahan beling (hasil dari kalimat sarkasme Siska tadi malam). "Bisa bantu beresin ini nggak? Aku mau berangkat kerja, tapi pintu depan terhalang paragraf keluhanmu soal ibuku."

Siska muncul dari kamar dengan masker debu. Dia menendang sebuah balok besar bertuliskan "CUKUP!". Balok itu menggelinding berat mengenai kaki meja.

"Kamu yang mulai duluan," kata Siska. Saat dia bicara, gelembung-gelembung sabun kecil keluar dari mulutnya (karena dia sedang berusaha bicara lembut). "Kalau kamu nggak mancing emosi, ruang tamu kita nggak akan jadi situs konstruksi begini."

Mereka berdua akhirnya menghabiskan pagi itu bukan dengan sarapan romantis, tapi dengan kerja bakti. Riko mengangkut karung berisi kata-kata makian ke truk sampah, sementara Siska menyedot debu-debu gosip tetangga yang menyelinap masuk dari ventilasi.

Petugas sampah yang datang mengambil karung itu hanya menggeleng. "Berat banget ini, Mas Riko. Habis bahas politik ya semalam? Kalau bahas politik biayanya dobel ya, soalnya limbahnya beracun."

"Bukan Pak, cuma masalah lupa angkat jemuran," jawab Riko malu. Petugas itu tertawa, "Wah, itu mah limbah domestik standar. Hati-hati Mas, jangan kebanyakan debat, nanti rumahnya penuh sesak, oksigen nggak bisa masuk."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G