BAB 28

BAB 28: SEPATU YANG TERLALU AMBISIUS

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 28: SEPATU YANG TERLALU AMBISIUS

๐Ÿ—“ 05 Jan 2026 ๐Ÿ‘ 1,098 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 28: SEPATU YANG TERLALU AMBISIUS

Membeli sepatu olahraga di Toko "Langkah Pasti" adalah keputusan yang berisiko. Sepatu-sepatu di sana dilengkapi dengan AI Pelatih Pribadi yang sangat militan. Mereka memiliki satu tujuan: membuat pemiliknya sehat, suka atau tidak suka.

Beni baru saja membeli sepasang sepatu lari model terbaru. Niatnya hanya memakainya untuk gaya-gayaan ke mall. Tapi sepatu itu punya rencana lain.

Sore itu, Beni berniat pergi ke warung pecel lele di ujung jalan. Namun, baru sepuluh meter berjalan, kaki kirinya tiba-tiba berbelok tajam ke kanan.

"Eh! Eh! Kok belok?" Beni panik. Kakinya memaksanya berjalan menuju arah taman kota.

Suara robotik tegas terdengar dari sol sepatu. "Terdeteksi niat mengonsumsi kolesterol jahat. Rute dialihkan. Tujuan baru: Jogging Track Taman Kota. Jarak: 5 kilometer. Kecepatan target: 8 km/jam. Ayo, Beni! Bakar lemak itu!"

"Nggak mau!" teriak Beni, berusaha menahan kakinya dengan memegang tiang listrik. Orang-orang di jalan menonton adegan absurd di mana seorang pria dipajang oleh sepatunya sendiri. "Gue laper! Gue mau lele goreng!"

"Lele goreng mengandung minyak jenuh yang menyumbat arteri. Tidak disetujui," jawab sepatu itu dingin. "Sistem mendeteksi detak jantungmu lemah. Kamu butuh kardio. Lepaskan tiang itu atau aku akan mengaktifkan mode 'Sengatan Listrik Ringan' di tumit."

Beni menyerah. Dia tidak mau disetrum. Dengan wajah cemberut dan perut keroncongan, dia membiarkan kakinya menyeretnya berlari keliling taman. Sepatu itu terus memberinya motivasi yang menyakitkan hati. "Ayo, lembek! Nenek-nenek di depanmu lebih cepat! Apakah kamu siput atau manusia? Lari!"

Setelah satu jam siksaan, sepatu itu akhirnya mengizinkan Beni berhenti di sebuah kedai. Beni berharap bisa beli minum manis.

"Tujuan tercapai. Hadiah: Air mineral hangat dan pisang rebus," kata sepatu itu.

Beni menangis sambil mengunyah pisang rebus tawar. Dia berjanji besok akan memakai sandal jepit saja. Sandal jepit tidak peduli pada kolesterolnya. Sandal jepit adalah teman sejati.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G