Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBAB 29: DEJA VU KARENA BUFFERING
Alam semesta di kota ini dijalankan oleh server tua yang sering mengalami masalah koneksi. Akibatnya, fenomena Deja Vu bukanlah hal mistis, melainkan murni masalah teknis yang disebut "Lag Realitas".
Hari ini adalah hari presentasi besar bagi Sandra. Dia berdiri di depan dewan direksi. Dia sangat gugup.
"Selamat pagi, Bapak Ibu sekalian. Hari ini saya akan mempresentasikan..."
Tiba-tiba, pandangannya kabur sejenak, dunia bergetar, dan zip! Dia kembali berdiri di posisi awal, mulutnya tertutup rapat. Direksi menatapnya dengan posisi yang persis sama seperti 10 detik lalu.
Sandra menghela napas. Buffering lagi, batinnya. Dia harus mengulang.
"Selamat pagi, Bapak Ibu sekalian. Hari ini saya akan..."
Zip! Kembali ke awal lagi.
Salah satu direktur mengetuk mejanya. "Mbak Sandra, tolong jangan spamming. Server ruangan ini bandwidth-nya kecil. Kalau Mbak ngomong terlalu cepat, datanya nggak masuk. Pelan-pelan saja biar nggak packet loss."
Sandra mencoba lagi, kali ini berbicara dengan tempo sangat lambat seperti robot yang kehabisan baterai. "Se... la... mat... pa... gi..."
Berhasil. Tidak ada reset. Tapi masalah baru muncul saat sesi tanya jawab. Seorang direktur menjatuhkan pulpennya. Karena lag, pulpen itu jatuh, memantul, lalu menghilang dan muncul kembali di tangan direktur itu, lalu jatuh lagi. Looping. Bunyi tak-tik-tak-tik pulpen jatuh yang berulang-ulang membuat semua orang pusing.
"Ah, sudahlah," kata Direktur Utama sambil memijat pelipisnya. "Rapat ditunda sampai teknisi semesta me-restart modem kelurahan. Realitasnya patah-patah begini bikin saya mual. Sandra, kirim materinya lewat email saja. Semoga emailnya nggak nyangkut di tahun 1998."
Sandra keluar ruangan dengan lega, tapi dia harus berjalan di koridor yang glitchy, di mana dia kadang-kadang menembus pintu bukannya membukanya. Hari yang berat untuk menjadi nyata.