BAB 3

BAB 3: KUCING YANG TERLALU KRITIS

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 3: KUCING YANG TERLALU KRITIS

๐Ÿ—“ 11 Dec 2025 ๐Ÿ‘ 1,096 Views

BAB 3: KUCING YANG TERLALU KRITIS

Dulu, orang berpikir jika hewan bisa bicara, dunia akan menjadi tempat yang menakjubkan penuh dengan kearifan alam. Ternyata, ketika hewan-hewan di kota ini tiba-tiba bisa berbicara pada tahun 2019, mereka tidak membawa kearifan. Mereka membawa keluhan, kritik pedas, dan opini yang sangat membosankan tentang hal-hal sepele.

Dani memiliki seekor kucing oranye bernama Mochi. Dulu, Mochi hanya mengeong minta makan. Sekarang, Mochi melakukan monolog panjang tentang kualitas dry food yang dibeli Dani. Pagi ini, Dani sedang terburu-buru bersiap ke kantor, dasinya miring dan kopinya belum diminum. Mochi duduk di atas meja dapur, menatap Dani dengan tatapan menghakimi yang mendalam.

"Kau tahu, Dan," Mochi memulai dengan suara bariton yang serak. "Pilihan kemeja biru itu berani sekali. Terutama mengingat warna kulitmu yang agak pucat pagi ini karena kurang tidur. Dan omong-omong soal tidur, kau mendengkur lagi semalam. Frekuensinya mengganggu jam tidur REM-ku."

Dani menghela napas, menuang sereal ke mangkuk. "Mochi, bisa tidak pagi ini kita diam saja? Aku telat."

"Telat adalah konstruksi sosial," balas Mochi sambil menjilati kakinya. "Tapi kalau kita bicara soal manajemen waktu, aku perhatikan kau menghabiskan 45 menit di kamar mandi tadi. Menurut kalkulasiku, 30 menit di antaranya kau habiskan untuk melamun sambil menatap ubin. Itu tidak efisien, Dan. Sama tidak efisiennya dengan caramu membelai daguku kemarin sore. Terlalu ke kiri, tekanannya kurang pas. Aku sudah membuat memo tentang itu di dekat tempat tidurmu, tolong dibaca."

Dani mengabaikannya dan mulai makan dengan cepat. Mochi melompat turun dan berjalan menuju pintu depan. "Oh, dan satu lagi. Anjing tetangga sebelah, si Bobby itu? Dia baru saja memberitahuku bahwa saham gabungan anjlok lagi. Dia menyarankan investasi di emas batangan. Menurutku dia cuma sok tahu, dia kan Golden Retriever, otaknya cuma isinya bola tenis. Tapi yah, sekadar info saja. Jangan lupa bersihkan kotak pasirku. Bau amonianya sudah di ambang batas toleransi." Dani membanting pintu saat keluar, berharap dia punya anjing saja, setidaknya mereka hanya bicara soal bola.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G