๐
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli Akses
BAB 31: MOGOK KERJA DOMBA IMAJINATIF
Bagi penderita insomnia seperti Rian, "menghitung domba" bukan sekadar kiasan. Di kota ini, saat Anda menutup mata dan mulai menghitung, domba-domba imajiner itu benar-benar muncul di ruang tidur Anda dalam bentuk hologram padat.
Malam ini, Rian sudah berbaring selama tiga jam. Matanya terpejam, mulutnya bergumam, "...seratus empat puluh dua... seratus empat puluh tiga..."
Tiba-tiba, domba ke-144 berhenti tepat di depan pagar kayu imajiner yang melintang di atas kasur Rian. Domba itu, yang mengenakan rompi serikat buruh kecil, berdiri dengan dua kaki dan melipat tangan.
"Cukup, Pak Rian," kata domba itu dengan suara berat. "Kami mogok."
Rian membuka mata, kaget melihat kamar tidurnya penuh sesak dengan ratusan domba yang duduk-duduk santai, merokok (rokok elektrik imajiner), dan memakan gorden jendela.
"Lho? Kok mogok? Aku belum tidur!" protes Rian.
"Justru itu masalahnya," jawab domba ketua serikat itu. "Bapak sudah menghitung kami sejak jam 11 malam. Sekarang jam 2 pagi. Kami capek lompat pagar terus. Pagar Bapak itu terlalu tinggi, standar ISO-nya nggak masuk akal. Lutut kami sakit."
"Tapi itu kan tugas kalian! Biar aku ngantuk!"
"Kami menuntut upah lembur," kata domba itu tegas. "Kami minta rumput Swiss kualitas premium dan jaminan pijat refleksi kaki setelah shift berakhir. Kalau tidak, kami akan diam di sini dan mengembik dengan suara sumbang sampai pagi."
Rian mengerang frustrasi. Dia harus bernegosiasi kontrak kerja dengan halusinasi tidurnya sendiri.
"Oke, oke! Rumput Swiss! Apa lagi?"
"Kami juga minta pagar itu diturunkan sepuluh senti. Dan tolong, jangan bayangkan serigala di latar belakang, itu bikin stres kerja," tambah si domba.
Setelah Rian menyetujui adendum kontrak imajiner itu (dengan menandatangani dokumen udara menggunakan jarinya), domba-domba itu bersorak. Mereka kembali berbaris rapi.
"Oke, teman-teman! Tuntutan dipenuhi! Lanjut lompat! Seratus empat puluh empat... MULAI!"
Rian memejamkan mata lagi. Akhirnya dia bisa tidur, meskipun dia tahu besok pagi dia akan bangun dengan sakit kepala karena biaya 'imajinasi lembur' yang akan memotong energi mentalnya seharian.
Bagi penderita insomnia seperti Rian, "menghitung domba" bukan sekadar kiasan. Di kota ini, saat Anda menutup mata dan mulai menghitung, domba-domba imajiner itu benar-benar muncul di ruang tidur Anda dalam bentuk hologram padat.
Malam ini, Rian sudah berbaring selama tiga jam. Matanya terpejam, mulutnya bergumam, "...seratus empat puluh dua... seratus empat puluh tiga..."
Tiba-tiba, domba ke-144 berhenti tepat di depan pagar kayu imajiner yang melintang di atas kasur Rian. Domba itu, yang mengenakan rompi serikat buruh kecil, berdiri dengan dua kaki dan melipat tangan.
"Cukup, Pak Rian," kata domba itu dengan suara berat. "Kami mogok."
Rian membuka mata, kaget melihat kamar tidurnya penuh sesak dengan ratusan domba yang duduk-duduk santai, merokok (rokok elektrik imajiner), dan memakan gorden jendela.
"Lho? Kok mogok? Aku belum tidur!" protes Rian.
"Justru itu masalahnya," jawab domba ketua serikat itu. "Bapak sudah menghitung kami sejak jam 11 malam. Sekarang jam 2 pagi. Kami capek lompat pagar terus. Pagar Bapak itu terlalu tinggi, standar ISO-nya nggak masuk akal. Lutut kami sakit."
"Tapi itu kan tugas kalian! Biar aku ngantuk!"
"Kami menuntut upah lembur," kata domba itu tegas. "Kami minta rumput Swiss kualitas premium dan jaminan pijat refleksi kaki setelah shift berakhir. Kalau tidak, kami akan diam di sini dan mengembik dengan suara sumbang sampai pagi."
Rian mengerang frustrasi. Dia harus bernegosiasi kontrak kerja dengan halusinasi tidurnya sendiri.
"Oke, oke! Rumput Swiss! Apa lagi?"
"Kami juga minta pagar itu diturunkan sepuluh senti. Dan tolong, jangan bayangkan serigala di latar belakang, itu bikin stres kerja," tambah si domba.
Setelah Rian menyetujui adendum kontrak imajiner itu (dengan menandatangani dokumen udara menggunakan jarinya), domba-domba itu bersorak. Mereka kembali berbaris rapi.
"Oke, teman-teman! Tuntutan dipenuhi! Lanjut lompat! Seratus empat puluh empat... MULAI!"
Rian memejamkan mata lagi. Akhirnya dia bisa tidur, meskipun dia tahu besok pagi dia akan bangun dengan sakit kepala karena biaya 'imajinasi lembur' yang akan memotong energi mentalnya seharian.