BAB 33

BAB 33: KACAMATA FILTER REALITAS

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 33: KACAMATA FILTER REALITAS

๐Ÿ—“ 10 Jan 2026 ๐Ÿ‘ 1,095 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 33: KACAMATA FILTER REALITAS

Toko Optik "Pandangan Indah" menjual produk terlaris tahun ini: Kacamata Rose-Tinted Pro. Kacamata ini menggunakan teknologi Augmented Reality untuk mengubah hal-hal jelek di dunia nyata menjadi hal-hal indah secara visual bagi pemakainya.

Doni, yang muak dengan kumuhnya kota, membeli satu. Begitu dia memakainya, dunianya berubah.

Tumpukan sampah di pinggir jalan yang biasanya bau dan dikerubungi lalat, di mata Doni berubah menjadi gundukan bunga lavender yang sedang mekar.

Lubang besar di aspal yang berbahaya, terlihat seperti kolam ikan koi yang jernih.

Bahkan bosnya yang sedang marah-marah di kantor, di mata Doni terlihat seperti badut lucu yang sedang meniup balon, dan suara bentakannya diganti dengan lagu sirkus.

Doni merasa bahagia. Dia berjalan pulang dengan senyum lebar. Dia melihat seekor anjing galak yang sedang menyalak padanya. Tapi lewat kacamata itu, dia melihat seekor teddy bear yang ingin dipeluk.

"Halo, anak manis," kata Doni sambil menjulurkan tangan untuk membelai 'teddy bear' itu.

HAP!

"ADUH!" Doni menjerit. Tangan aslinya digigit anjing sungguhan. Tapi di matanya, teddy bear itu hanya memberinya ciuman sayang. Sensor nyeri di tubuhnya mengirim sinyal sakit, tapi matanya mengirim sinyal lucu. Otak Doni mengalami korsleting kognitif.

Dia berlari (atau menurut kacamatanya, menari balet) menuju rumah sakit. Di UGD, dokter yang merawatnya terlihat seperti malaikat bersayap yang menaburkan serbuk peri.

"Lukanya perlu dijahit, Pak Doni," kata dokter itu (suaranya terdengar seperti harpa).

"Silakan, Dokter Peri," kata Doni sambil meringis.

Teman Doni yang menjenguknya menggelengkan kepala. "Copot kacamatanya, Don. Itu bahaya. Kamu hampir mati ketabrak truk sampah karena kamu pikir itu kereta kencana Cinderella."

"Nggak mau!" tolak Doni keras kepala. "Dunia nyata itu jelek! Biarkan aku hidup dalam delusi resolusi tinggi ini!" Doni memilih tetap memakai kacamatanya, meskipun tubuhnya penuh perban. Baginya, perban itu terlihat seperti tato keren.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G