Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBAB 34: ATM KARMA
Di sudut jalan yang sepi, berdiri sebuah mesin ATM dari "Bank Semesta". ATM ini unik karena tidak terhubung dengan rekening bank konvensional, melainkan terhubung dengan saldo karma nasib baik seseorang. Anda bisa menarik uang tunai kapan saja, tapi bayarannya adalah keberuntungan Anda.
Rudi, yang sedang bangkrut total, berdiri di depan mesin itu dengan tangan gemetar. Dia butuh 500 ribu untuk bayar utang. Dia memasukkan kartu identitasnya.
Layar menyala hijau.
SALDO NASIB BAIK ANDA: CUKUP.
MASUKKAN JUMLAH PENARIKAN TUNAI: Rp 500.000
Sebuah peringatan muncul di layar:
"PERHATIAN: Penarikan ini akan didebet dari stok keberuntungan jangka pendek Anda. Konsekuensi acak akan terjadi dalam 24 jam. Apakah Anda setuju?"
Rudi menelan ludah. "Ya. Setuju."
Mesin berbunyi crrrtt... crrrtt... dan mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan yang masih krispi. Rudi mengambil uang itu dengan lega. "Ah, paling cuma sial dikit. Paling ban bocor."
Dia berjalan keluar dari bilik ATM. Tiba-tiba, tali sepatunya lepas sendiri. Dia membungkuk untuk mengikatnya. Saat membungkuk, celana jeans-nya robek besar tepat di bagian pantat dengan suara KREK yang nyaring.
Rudi memerah, buru-buru berdiri. Saat berdiri, kepalanya terbentur tiang besi tenda pecel lele. DUNG!
Dia mengaduh, memegang kepalanya, dan mundur selangkah. Kakinya menginjak genangan air kotor sisa cucian piring. BYUR. Sepatu putih mahalnya kini cokelat.
"Baru lima menit!" keluh Rudi. "Ini bunganya tinggi banget!"
Dia mencoba memanggil ojek online untuk kabur. Tapi setiap kali dia mendapat driver, driver-nya membatalkan pesanan. Lima kali berturut-turut.
Ponselnya bergetar. SMS dari Bank Semesta:
"Transaksi berhasil. Sisa saldo nasib baik Anda: KRITIS. Disarankan untuk menolong nenek menyeberang jalan atau memberi makan kucing liar untuk top-up saldo karma Anda sebelum Anda kesambar petir."
Rudi langsung berlari pincang mencari kucing liar. Dia sadar, uang 500 ribu itu tidak sebanding dengan rentetan kesialan yang sedang mengintainya dari setiap sudut kota.