๐
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli Akses
BAB 35: KALENDER YANG MENOLAK TANGGAL TUA
Kalender dinding di ruang tengah kos-kosan Putra bukanlah kalender biasa. Kalender itu memiliki empati yang berlebihan terhadap kondisi keuangan pemiliknya. Ia tahu Putra belum gajian dan dompetnya tinggal debu.
Hari ini seharusnya tanggal 20. Tanggal di mana "Masa Kritis Tanggal Tua" dimulai. Tapi saat Putra bangun dan melihat kalender, tanggalnya masih menunjukkan angka 10.
"Lho? Kalendernya rusak?" gumam Putra. Dia mencoba merobek lembar tanggal 10 itu. Keras sekali. Kertas itu seolah terbuat dari baja.
"Jangan dipaksa, Put," suara kalender itu bergema dari dinding. "Aku menahan waktu demi kamu."
"Hah? Maksudnya?"
"Kalau aku biarkan hari ini jadi tanggal 20, kamu akan sadar bahwa gajian masih sepuluh hari lagi. Itu akan memicu stres, maag, dan keinginan berutang di pinjol. Jadi, aku memutuskan kita akan terjebak di time loop tanggal 10 saja. Di tanggal 10, kamu masih merasa kaya karena baru gajian seminggu lalu."
"Tapi waktu di luar sana jalan terus kan?" tanya Putra panik.
"Di luar iya. Tapi di dalam kamar kos ini, kita membekukan persepsi kemiskinan," jawab kalender bijak itu. "Nikmatilah ilusi ini."
Awalnya Putra senang. Tapi masalah muncul saat dia keluar kamar. Teman kosnya menagih iuran listrik.
"Bayar Put, udah tanggal 20 nih."
"Kata siapa?" bantah Putra. "Di kamarku masih tanggal 10!"
"Jangan gila lu. Liat HP!"
Putra melihat HP-nya. Tanggal 20. Dia lari kembali ke kamar. Kalendernya masih tanggal 10.
"Kamu bohongin aku!" teriak Putra pada kalender.
"Aku melindungimu!" bentak kalender itu. "Lihat wajahmu! Sejak kamu sadar ini tanggal 20, wajahmu langsung kusam, keriput muncul, dan kamu jadi lapar tapi nggak punya duit. Saat kamu pikir ini tanggal 10, kamu terlihat segar dan optimis!"
Putra sadar, kalender itu mencoba melakukan terapi psikologis dengan memanipulasi fakta. Akhirnya Putra menyerah. Dia masuk ke kamar, menutup gorden, dan berpura-pura hidup di tanggal 10 selamanya, makan mie instan dengan perasaan tenang seolah-olah dia masih punya tabungan jutaan rupiah. Sebuah penyangkalan realitas yang indah.
Kalender dinding di ruang tengah kos-kosan Putra bukanlah kalender biasa. Kalender itu memiliki empati yang berlebihan terhadap kondisi keuangan pemiliknya. Ia tahu Putra belum gajian dan dompetnya tinggal debu.
Hari ini seharusnya tanggal 20. Tanggal di mana "Masa Kritis Tanggal Tua" dimulai. Tapi saat Putra bangun dan melihat kalender, tanggalnya masih menunjukkan angka 10.
"Lho? Kalendernya rusak?" gumam Putra. Dia mencoba merobek lembar tanggal 10 itu. Keras sekali. Kertas itu seolah terbuat dari baja.
"Jangan dipaksa, Put," suara kalender itu bergema dari dinding. "Aku menahan waktu demi kamu."
"Hah? Maksudnya?"
"Kalau aku biarkan hari ini jadi tanggal 20, kamu akan sadar bahwa gajian masih sepuluh hari lagi. Itu akan memicu stres, maag, dan keinginan berutang di pinjol. Jadi, aku memutuskan kita akan terjebak di time loop tanggal 10 saja. Di tanggal 10, kamu masih merasa kaya karena baru gajian seminggu lalu."
"Tapi waktu di luar sana jalan terus kan?" tanya Putra panik.
"Di luar iya. Tapi di dalam kamar kos ini, kita membekukan persepsi kemiskinan," jawab kalender bijak itu. "Nikmatilah ilusi ini."
Awalnya Putra senang. Tapi masalah muncul saat dia keluar kamar. Teman kosnya menagih iuran listrik.
"Bayar Put, udah tanggal 20 nih."
"Kata siapa?" bantah Putra. "Di kamarku masih tanggal 10!"
"Jangan gila lu. Liat HP!"
Putra melihat HP-nya. Tanggal 20. Dia lari kembali ke kamar. Kalendernya masih tanggal 10.
"Kamu bohongin aku!" teriak Putra pada kalender.
"Aku melindungimu!" bentak kalender itu. "Lihat wajahmu! Sejak kamu sadar ini tanggal 20, wajahmu langsung kusam, keriput muncul, dan kamu jadi lapar tapi nggak punya duit. Saat kamu pikir ini tanggal 10, kamu terlihat segar dan optimis!"
Putra sadar, kalender itu mencoba melakukan terapi psikologis dengan memanipulasi fakta. Akhirnya Putra menyerah. Dia masuk ke kamar, menutup gorden, dan berpura-pura hidup di tanggal 10 selamanya, makan mie instan dengan perasaan tenang seolah-olah dia masih punya tabungan jutaan rupiah. Sebuah penyangkalan realitas yang indah.