Rutinitas Yang Mustahil
BAB 36: POLISI TIDUR YANG BENAR-BENAR TIDUR
Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBAB 36: POLISI TIDUR YANG BENAR-BENAR TIDUR
Istilah "Polisi Tidur" (Speed Bump) di kota ini harus dimaknai secara harfiah. Gundukan-gundukan di jalan perumahan itu sebenarnya adalah Raksasa Aspal kerdil yang sedang tidur melintang di jalan. Mereka dikontrak oleh Dinas Perhubungan untuk memperlambat laju kendaraan.
Masalah timbul jika pengendara tidak sopan.
Pagi itu, seorang pemuda bernama Kevin mengebut dengan motor sport-nya yang knalpotnya bising. Dia tidak mengerem saat mendekati gundukan di depan pos satpam. JEDER! Motornya melindas gundukan itu dengan keras.
Tiba-tiba, tanah bergetar. Gundukan aspal itu menggeliat, bangkit berdiri, dan berubah menjadi sosok raksasa setinggi dua meter yang terbuat dari aspal dan batu kerikil. Matanya merah menyala (karena kurang tidur).
"HEH!" bentak Raksasa Polisi Tidur itu, suaranya seperti truk molen yang sedang mengaduk semen. "Sopan dikit dong! Gue lagi mimpi indah dikejar roller coaster, malah lu bangunin paksa!"
Kevin gemetar di atas motornya. "M-maaf, Pak Polisi Tidur. Saya buru-buru."
"Buru-buru mata lu!" Raksasa itu memegang pinggangnya yang retak. "Aduh, encok gue kambuh. Lu tau nggak rasanya dilindas ban karet pas lagi deep sleep? Sakit tau!"
Raksasa itu kemudian mencabut tiang rambu lalu lintas di dekatnya seolah itu tusuk gigi. "Sebagai denda, lu harus pijitin punggung gue sekarang. Pijit aspalnya sampai lunak lagi. Kalau nggak, motor lu gue jadiin ganjalan bantal."
Kevin tidak punya pilihan. Disaksikan warga yang lewat, Kevin menghabiskan waktu satu jam memijat punggung aspal raksasa itu menggunakan oli motor sebagai minyak urut. Warga hanya menggeleng maklum. "Makanya, kalau lewat polisi tidur tuh pelan-pelan. Ucapkan 'permisi'. Mereka itu sensitif kalau bangun tidur."