BAB 37

BAB 37: AUTOCORRECT SUARA NYATA

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 37: AUTOCORRECT SUARA NYATA

๐Ÿ—“ 14 Jan 2026 ๐Ÿ‘ 1,125 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 37: AUTOCORRECT SUARA NYATA

Update firmware terbaru pada chip bahasa yang ditanam di otak warga kota menyebabkan fitur Autocorrect kini bekerja pada ucapan lisan secara real-time. Fitur ini dirancang untuk "Menjaga Kesopanan Publik", tapi pelaksanaannya seringkali kacau.

Bimo sedang marah besar pada pelayan restoran yang menumpahkan sup ke celananya. Dia berdiri, wajahnya merah padam, siap memaki dengan kata-kata kasar.

"HEH, KAMU INI--" Bimo berteriak.

Namun, Autocorrect mengambil alih pita suaranya. Otot mulutnya dipaksa berubah bentuk.

"--KAMU INI... SUNGGUH CEROBOH TAPI TETAP MANUSIAWI, SAHABATKU," lanjut Bimo. Suaranya terdengar kaku dan robotik.

Bimo bingung. Dia mencoba memaki lagi. "DASAR--"

"--DASAR PEKERJA KERAS YANG SEDANG MENGALAMI HARI BURUK," sambung mulutnya sendiri.

Pelayan itu, yang sudah siap dimarahi, malah terharu. "Terima kasih, Pak. Bapak bijak sekali. Bapak tidak marah?"

"SAYA SANGAT--" Bimo mencoba berteriak 'MURKA'.

"--SANGAT MEMAHAMI DINAMIKA FLUIDA DAN GRAVITASI," keluar dari mulutnya.

Bimo frustrasi. Dia ingin marah, tapi mulutnya terus mengeluarkan kata-kata mutiara Mario Teguh. Dia mencoba berbisik kata kasar ke arah garpu, tapi yang keluar adalah puisi tentang indahnya memaafkan.

Akhirnya Bimo menyerah. Dia duduk kembali dengan celana basah, sementara pelayan itu memberinya kue gratis sebagai tanda terima kasih atas "kesabarannya". Bimo memakan kue itu dengan wajah cemberut, menyadari bahwa di kota ini, menjadi orang jahat secara verbal sudah tidak mungkin dilakukan karena sensor moralitas otomatis.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G