Konten Premium
Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.
Masuk untuk Membeli AksesBAB 38: RESEP MASAKAN BERBASIS EMOSI
Buku resep di kota ini tidak menggunakan takaran gram atau sendok teh. Mereka menggunakan satuan emosi. Koki terbaik adalah orang yang paling tidak stabil secara emosional.
Bu Ratna sedang mengajarkan menantunya, Sari, cara memasak Sayur Asem legendaris keluarga.
"Nah, Sari," kata Bu Ratna di dapur. "Airnya sudah mendidih. Masukkan jagung dan melinjo. Sekarang bumbunya."
Sari mengambil garam. "Berapa sendok, Bu?"
"Jangan pakai sendok!" tegur Bu Ratna. "Pakai Kekecewaan. Sayur asem itu butuh rasa masam dari kehidupan. Coba kamu ingat-ingat kelakuan suamimu yang bikin kesal."
Sari berpikir sejenak. "Oh, kemarin dia lupa ulang tahun pernikahan kita."
"Bagus! Itu dia! Konsentrasikan rasa kesal itu, lalu teriakkan ke dalam panci!" perintah Bu Ratna.
Sari menarik napas, mendekatkan wajah ke panci yang mengepul, lalu berteriak, "DASAR SUAMI GAK PEKA! AKU UDAH DANDAN CANTIK TAPI KAMU MALAH MAIN GAME!"
BLUP! Air kuah sayur asem itu tiba-tiba berubah warna menjadi keruh kemerahan yang sedap. Aromanya langsung tercium segar dan tajam.
"Nah, itu baru pas," kata Bu Ratna mencicipi. "Asamnya nendang. Tapi kurang asin sedikit. Kamu butuh Tangisan Sedih. Coba ingat kucingmu yang mati waktu SD."
Sari mulai menangis sesenggukan di atas panci. Air matanya (dan emosinya) jatuh ke dalam kuah.
"Sip. Gurih," puji Bu Ratna. "Terakhir, tambahkan sedikit Harapan Palsu biar ada manis-manisnya. Bayangkan kamu menang lotre tapi ternyata cuma mimpi."
Setelah sesi masak yang lebih mirip terapi psikologis yang melelahkan, Sayur Asem itu jadi. Rasanya luar biasa kompleks: ada rasa marah, sedih, dan pahit-manis yang seimbang. Sari menyajikan makan malam dengan mata bengkak dan suara serak, tapi suaminya memuji masakannya enak sekali. Suaminya tidak tahu, dia sedang memakan amarah istrinya sendiri.