BAB 39

BAB 39: DISKON HARGA DIRI

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 39: DISKON HARGA DIRI

๐Ÿ—“ 16 Jan 2026 ๐Ÿ‘ 1,099 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 39: DISKON HARGA DIRI

Mall "Grand Paradox" sedang mengadakan Midnight Sale besar-besaran. Diskon hingga 90%. Namun, mata uang yang diterima bukanlah Rupiah, melainkan Harga Diri.

Andi naksir berat pada sebuah TV OLED 65 inchi. Harganya normal 20 juta. Di sale ini, harganya gratis. Syaratnya: Andi harus melakukan "Pembayaran Sosial".

Andi membawa TV itu ke kasir. "Mbak, saya mau ambil ini. Bayar pakai Harga Diri ya."

Kasir itu, yang memakai topeng venesia (agar tidak ketahuan identitasnya), mengangguk. Dia mengecek daftar harga. "Untuk TV OLED, harga dirinya senilai dengan: Menari Tarian Ayam di tengah atrium mall selama 10 menit sambil memakai tutu (rok balet) warna pink, dan direkam live di layar besar mall."

Andi menelan ludah. "Waduh. Mahal banget. Kalau diskon dikit?"

"Bisa paket hemat," kata kasir. "Cukup menelepon mantan pacar Bapak yang paling Bapak benci, lalu nyanyikan lagu 'Balonku Ada Lima' dengan suara bayi. Tapi TV-nya cuma dapat yang 32 inchi."

Andi melihat TV OLED besar itu. Resolusinya tajam. Warnanya indah. Dia melihat sekeliling. Banyak orang sedang melakukan transaksi serupa. Di pojok, ada bapak-bapak berdasi yang sedang merangkak sambil menggonggong demi mendapatkan set stik golf baru. Di sisi lain, ibu-ibu sosialita sedang lomba membuat wajah terjelek demi tas Hermes.

"Baiklah," kata Andi membulatkan tekad. "Mana rok baletnya? Demi resolusi 4K, aku rela jadi viral."

Sepuluh menit kemudian, Andi menari ayam dengan rok pink, ditertawakan ratusan orang. Dia kehilangan martabatnya malam itu, tapi saat dia pulang membawa TV besar, dia merasa itu pertukaran yang adil. Di kota ini, rasa malu sifatnya sementara, tapi barang elektronik bertahan (setidaknya) tiga tahun.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G