BAB 4

BAB 4: HUJAN LOKAL DI DALAM RUANGAN

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 4: HUJAN LOKAL DI DALAM RUANGAN

๐Ÿ—“ 12 Dec 2025 ๐Ÿ‘ 1,125 Views

BAB 4: HUJAN LOKAL DI DALAM RUANGAN

Fenomena cuaca mikro di dalam ruangan telah menjadi hal yang lumrah sejak lima tahun lalu. Tidak ada yang tahu penyebabnya, tapi BMKG sudah menyerah dan hanya mengeluarkan peringatan seperti: "Waspada hujan ringan di ruang tamu bagi warga di Kelurahan Sukamaju."

Bagi Keluarga Pratama, ini berarti mereka harus selalu siap sedia payung di dalam rumah. Hari Minggu ini seharusnya menjadi hari yang santai untuk menonton TV bersama. Pak Pratama sudah menyiapkan popcorn, Bu Pratama sudah memilih film, dan kedua anak mereka sudah duduk di sofa. Namun, tepat saat film dimulai, sebuah awan kumulus kecil berwarna abu-abu terbentuk tepat di bawah lampu gantung ruang tengah.

"Yah, hujan lagi," kata anak bungsu mereka, Dika, tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV.

"Pa, payungnya mana?" tanya Bu Pratama dengan nada lelah yang sudah terbiasa. Pak Pratama beranjak dari sofa, berjalan ke lemari dekat pintu masuk, dan mengambil payung pantai besar berwarna-warni yang memang disiapkan untuk situasi ini. Dia kembali ke ruang tengah dan membukanya di atas sofa.

Keluarga itu duduk berhimpitan di bawah payung pantai di dalam ruang tamu mereka sendiri, sementara hujan rintik-rintik mulai turun dari awan kecil di plafon. Air hujan membasahi karpet dan meja kopi, tapi untungnya TV aman dari jangkauan. Suara hujan yang menimpa payung sedikit mengganggu dialog film, jadi mereka harus membesarkan volume TV.

"Ini sebenarnya agak romantis kalau dipikir-pikir," kata Bu Pratama mencoba mencari sisi positif, sambil menggeser mangkuk popcorn agar tidak terkena tetesan air.

"Apanya yang romantis, Ma. Karpetnya jadi bau apek nanti," gerutu Pak Pratama. Hujan berlangsung selama 40 menit, tepat sepanjang durasi babak pertama film. Ketika awan itu akhirnya bubar dan menghilang, mereka melipat payung, Pak Pratama mengambil kain pel untuk mengeringkan lantai, dan mereka melanjutkan menonton babak kedua seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Hanya hari Minggu biasa di rumah Keluarga Pratama.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G