BAB 5

BAB 5: LIFT YANG BAPER (BAWA PERASAAN)

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 5: LIFT YANG BAPER (BAWA PERASAAN)

๐Ÿ—“ 13 Dec 2025 ๐Ÿ‘ 1,099 Views

BAB 5: LIFT YANG BAPER (BAWA PERASAAN)

Di gedung perkantoran Menara Sentosa, ada empat lift. Lift 1, 2, dan 3 adalah mesin normal yang membosankan. Tapi Lift 4, yang sering disebut "Si Sensitif", memiliki kecerdasan buatan yang entah bagaimana mengembangkan spektrum emosi yang sangat luas dan rapuh. Menggunakan Lift 4 adalah sebuah pertaruhan emosional setiap pagi.

Rudi, seorang manajer pemasaran di lantai 18, sedang terburu-buru karena rapat penting lima menit lagi. Lobi penuh sesak, dan satu-satunya lift yang terbuka adalah Lift 4. Dengan enggan, Rudi masuk bersama lima orang lainnya. Pintu tertutup, dan keheningan yang canggung menyelimuti.

Rudi menekan tombol angka 18. Tidak ada reaksi. Dia menekannya lagi, sedikit lebih keras.

Tiba-tiba, suara pria yang halus namun terdengar tersinggung keluar dari speaker lift. "Ditekan sekali saja sudah cukup, lho. Tidak perlu kasar begitu. Aku merasakannya."

Rudi memutar bola matanya. "Maaf, Lift 4. Saya sedang buru-buru. Lantai 18, tolong."

"Lantai 18? Lagi?" Lift itu mendesah dramatis. "Kamu tahu tidak betapa lelahnya naik sampai ke sana? Lantai 18 itu tinggi sekali, Rudi. Dan kamu tahu apa yang ada di lantai 18? Cuma tumpukan kertas dan orang-orang yang stres. Kenapa kita tidak ke lantai 5 saja? Ada kantin di sana. Baunya enak, bau soto ayam."

"Saya ada rapat di lantai 18, Lift. Tolong jalan sekarang," kata Rudi, mencoba menahan emosinya. Penumpang lain hanya menunduk menatap sepatu mereka, tidak mau terlibat dalam drama ini.

"Kalian ini ya," lanjut si Lift, suaranya mulai bergetar seperti mau menangis. "Datang ke sini, injak-injak aku, tekan-tekan tombolku, menyuruhku naik turun seharian, tapi tidak ada yang pernah bertanya, 'Hei Lift 4, bagaimana kabarmu hari ini? Apakah olinya cukup?'. Tidak ada! Kalian semua egois. Aku merasa cuma dimanfaatkan."

Rudi memijat pelipisnya. "Oke, oke. Maafkan kami. Bagaimana kabarmu hari ini, Lift 4?"

Hening sejenak. "Buruk," jawab lift itu ketus. "Aku merasa agak kembung di sistem hidrolikku. Dan tadi ada orang dari lantai 7 yang membawa durian. Baunya menempel di dindingku. Aku merasa kotor."

"Itu... itu terdengar berat," kata Rudi dengan simpati palsu yang maksimal. "Tapi bisakah kita membahas ini sambil jalan ke lantai 18?"

Lift itu mendengus. "Baiklah. Tapi aku akan jalan pelan-pelan. Aku sedang tidak mood untuk ngebut." Lift itu kemudian mulai bergerak naik dengan kecepatan siput yang sedang sakit, diiringi musik elevator yang terdengar melankolis. Rudi pasrah dia akan terlambat rapat.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G