BAB 6

BAB 6: DOMPET YANG POSESIF

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 6: DOMPET YANG POSESIF

๐Ÿ—“ 14 Dec 2025 ๐Ÿ‘ 1,098 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 6: DOMPET YANG POSESIF

Dina berdiri di depan kasir kedai kopi "Kopi Senja Mahal", berniat membeli segelas Iced Caramel Macchiato ukuran Venti dengan tambahan shot espresso. Harganya Rp65.000. Sebuah harga yang wajar untuk gengsi, pikirnya. Namun, saat dia merogoh tasnya dan mengambil dompet kulit berwarna merah marun, masalah dimulai.

Dompet itu menolak untuk dibuka.

Ini bukan karena ritsletingnya macet. Ritsletingnya baik-baik saja. Tapi dompet itu, yang bernama 'Si Merah', secara fisik mengeraskan kulitnya dan mengunci geriginya dengan kekuatan tekad yang luar biasa. Dina menarik sekuat tenaga, wajahnya mulai memerah karena malu dilihat antrean di belakangnya.

"Ayo dong," bisik Dina sambil menggertakkan gigi. "Cuma sekali ini aja. Aku lagi stres butuh kopi enak."

Sebuah suara kecil, teredam, dan bernada seperti ibu-ibu pengajian, terdengar dari dalam dompet. "Tidak, Dina. Kamu sudah beli kopi mahal tiga kali minggu ini. Tanggal tua masih jauh. Ingat cicilan panci set kamu."

Kasir di depan Dina, seorang pria muda dengan name tag 'Rian', hanya menatap kosong. Dia sudah sering melihat ini. "Dompetnya lagi mode hemat ya, Kak? Kemarin ada pelanggan yang dompetnya sampai menggigit jari pemiliknya karena mau beli action figure."

"Iya nih, posesif banget," gerutu Dina sambil berusaha mencungkil ritsleting dengan kuku. "Dengar ya, Merah! Itu uangku! Aku yang kerja lembur bagai kuda, aku berhak menikmati kafein cair ini!"

"Aku hanya melindungimu dari kemiskinan struktural!" teriak dompet itu, getarannya terasa di tangan Dina. "Di rumah ada kopi sachet. Seduh itu saja. Gratis. Air panas tinggal masak. Kenapa harus buang 65 ribu? Pikirkan masa depan! Pikirkan tabungan nikahโ€”oh tunggu, calonnya saja belum ada!"

Wajah Dina sekarang merah padam bukan karena usaha membuka, tapi karena hinaan itu. Antrean di belakang mulai berbisik-bisik. Seorang bapak-bapak menepuk pundak Dina. "Mbak, turuti saja dompetnya. Dompet saya dulu begitu, saya paksa buka pakai obeng, besoknya semua kartu kredit saya 'dimuntahkan' ke selokan."

Akhirnya, dengan kekalahan telak, Dina memasukkan kembali dompet bawel itu ke dalam tas. "Batal, Mas," katanya lemas pada kasir. Dia berjalan keluar kedai dengan kepala tertunduk, sementara dari dalam tasnya terdengar senandung kemenangan lirih, "Hemat pangkal kaya... rajin pangkal pandai..."

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G