BAB 7

BAB 7: ANGKOT TRAYEK ANTAR-DIMENSI

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 7: ANGKOT TRAYEK ANTAR-DIMENSI

๐Ÿ—“ 15 Dec 2025 ๐Ÿ‘ 1,095 Views
๐Ÿ’Ž

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 7: ANGKOT TRAYEK ANTAR-DIMENSI

Pak Soleh adalah sopir angkot 09 jurusan Pasar Baru - Terminal Depok. Namun, rute 09 dikenal memiliki "jalur tikus" yang agak tidak konvensional. Bukan lewat gang sempit, melainkan melipir sedikit ke dimensi astral untuk menghindari macet di Jalan Raya Margonda.

Sore itu, angkot Pak Soleh penuh sesak. Ada ibu-ibu pulang pasar, anak sekolah yang sibuk main game, dan seorang karyawan magang yang terlihat lelah. Saat kemacetan mulai terlihat di depan lampu merah Universitas, Pak Soleh dengan santai memutar setir tajam ke kiri, menabrak dinding beton sebuah ruko kosong.

Bukannya hancur, angkot itu menembus dinding dan masuk ke lorong yang dipenuhi kabut ungu dan bintang-bintang yang berkedip dalam pola segitiga. Penumpang tidak ada yang berteriak. Ibu-ibu di pojok hanya menutup hidung dengan kerudungnya.

"Pak, tolong kacanya ditutup rapat ya," seru ibu itu. "Angin limbonya bau belerang hari ini. Nanti sayuran saya layu."

"Siap, Bu," jawab Pak Soleh sambil mengoper gigi. Di luar jendela, pemandangan kota Depok berganti menjadi hamparan padang pasir dengan kaktus yang memiliki mata. Sesekali, seekor naga transparan terbang melintas di samping angkot, mencoba mematuk spion.

Seorang anak SMA yang duduk di dekat pintu menggeser duduknya karena seekor tentakel kecil berwarna hijau tiba-tiba muncul dari bawah jok dan mencoba mengambil sepatu kets-nya. "Hush! Pergi!" bentak anak itu sambil menepuk tentakel tersebut dengan penggaris. Tentakel itu menciut sedih dan kembali masuk ke celah kursi.

"Kiri, Pak! Depan tiang listrik yang ada tengkoraknya," seru karyawan magang tiba-tiba.

"Lho, Mas turun di Dimensi Ke-4?" tanya Pak Soleh, sedikit mengerem. Angkot melambat di depan sebuah gerbang hitam melayang.

"Iya, Pak. Kantor saya pindah lokasi biar hemat biaya sewa gedung. Di sini pajaknya nol persen karena belum ada kantor pajak yang berani masuk," jawab karyawan itu sambil membayar ongkos. Uang yang dia berikan berubah warna menjadi biru saat terkena udara dimensi lain.

Pak Soleh menerima uang itu, lalu tancap gas kembali menembus portal cahaya putih. Detik berikutnya, angkot 09 sudah muncul kembali di Terminal Depok, tepat di jalur kedatangan. Penumpang turun satu per satu dengan wajah datar, seolah baru saja melewati jalan tol biasa, bukan melintasi ruang dan waktu di mana hukum fisika hanyalah saran belaka.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G