BAB 8

BAB 8: MIGRASI LUBANG JALAN

Rutinitas Yang Mustahil

BAB 8: MIGRASI LUBANG JALAN

🗓 16 Dec 2025 👁 1,096 Views
💎

Konten Premium

Bab ini khusus pembaca berbayar. Dukung penulis dengan membeli akses penuh.

Masuk untuk Membeli Akses

BAB 8: MIGRASI LUBANG JALAN

Dinas Pekerjaan Umum (PU) kota ini memiliki divisi khusus yang tidak dimiliki kota lain: Divisi Penggembalaan dan Penangkaran Lubang Jalan. Ya, di kota ini, lubang jalan bukanlah kerusakan aspal akibat hujan atau beban truk, melainkan organisme hidup yang nomaden. Mereka hidup berkelompok dan sering bermigrasi saat musim hujan tiba.

Pagi ini, warga Jalan Kenanga heboh. Semalam, jalanan di depan rumah mereka mulus sempurna. Tapi pagi ini, ada kawanan lubang jalan—sekitar dua puluh ekor, mulai dari ukuran 'piring makan' hingga ukuran 'kolam lele anak-anak'—sedang beristirahat di tengah aspal.

"Wah, ini pasti kawanan yang dari Jalan Mawar," kata Pak RT sambil mengamati salah satu lubang yang tepiannya sedikit bergetar. "Lihat, aspal di pinggirnya masih hangat. Mereka baru sampai subuh tadi."

Lubang-lubang itu tampak diam, tapi jika diperhatikan dengan teliti, mereka perlahan bergeser beberapa sentimeter setiap jam, mencari titik aspal yang paling empuk untuk digerogoti. Masalah timbul ketika lubang-lubang ini mulai masuk ke carport warga.

Bu Susi menjerit histeris ketika dia mau mengeluarkan mobilnya. Sebuah lubang seukuran ban truk sedang 'tidur' tepat di depan garasinya. "Pak RT! Usir ini! Saya mau ke pasar! Jangan sampai dia beranak di sini!"

Pak RT segera memanggil pawang lubang. Pawang itu datang membawa satu truk berisi aspal panas segar—makanan favorit para lubang. Dengan hati-hati, pawang itu meletakkan sedikit aspal panas di bak truknya sebagai umpan.

"Ayo... pus... pus... sini..." panggil pawang itu lembut.

Perlahan tapi pasti, lubang di depan garasi Bu Susi mulai bergerak. Aspal di sekitarnya meliuk-liuk seperti kulit ulat. Lubang itu merayap naik ke jalan raya, lalu mendekati truk pawang. Satu per satu, kawanan lubang itu mengikuti aroma aspal panas, merayap masuk ke dalam bak truk yang sudah didesain khusus.

"Mau dibawa kemana, Pak?" tanya Pak RT setelah semua lubang berhasil diamankan.

"Ke penangkaran di pinggir kota, Pak. Biar mereka tumbuh besar di sana. Kalau sudah cukup umur, baru kita lepas liarkan di jalan tol yang sedang dibangun. Di sana mereka lebih berguna untuk memperlambat pengemudi yang ngebut," jelas si pawang sambil menutup pintu bak truk. Warga Jalan Kenanga bernapas lega, aspal mereka kembali mulus, setidaknya sampai musim migrasi tahun depan.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G