BAB 2: EKOSISTEM PANGGUNG SANDIWARA
Sekolah Menengah Atas Pelita Bangsa adalah sebuah mikrokosmos yang kejam. Di sini, hierarki sosial bukan sekadar konsep sosiologi, melainkan hukum alam yang absolut. Dan di puncak rantai makanan itu, berdiri Leana dengan segala kemilaunya.
Koridor sekolah pagi itu riuh rendah oleh suara sepatu yang berdecit dan obrolan para remaja. Liana berjalan menunduk, memeluk buku-bukunya di depan dada seperti perisai. Ia berusaha menjadi tidak terlihat, menyatu dengan dinding bercat krem yang membosankan. Strategi ini biasanya berhasil. Orang-orang cenderung mengabaikan apa yang tidak menarik perhatian mereka.
Namun, menjadi kembaran Leana adalah kutukan tersendiri. Wajah mereka sama, tapi nasib memperlakukan mereka seperti dua spesies berbeda.
"Hei, Leana!" seru seseorang.
Liana tersentak sedikit, refleks menoleh, tapi sapaan itu bukan untuknya. Beberapa meter di depannya, Leana berjalan dikelilingi dayang-dayangnya. Seragam Leana tampak lebih pas, lebih rapi, rambutnya berkibar dramatis saat ia berbalik dan melambaikan tangan dengan senyum yang bisa melelehkan es kutub.
"Hai, Raka! Nanti jadi latihan basket kan? Aku bawain isotonik buat tim ya!" seru Leana. Raka, kapten basket pujaan sekolah, tersenyum lebar dan mengacungkan jempol.
Liana mempercepat langkahnya, ingin segera sampai di kelas dan menenggelamkan diri di bangku paling belakang. Namun, langkahnya terhalang oleh sekelompok siswi yang sedang berkerumun di dekat mading.
"Eh, itu Liana kan?" bisik salah satu dari mereka. Suaranya tidak cukup pelan untuk menjadi rahasia.
"Iya, si 'Bayangan'. Duh, beda banget ya sama Leana. Leana wangi parfum mahal, kalau dia kayaknya wangi buku perpustakaan berdebu," sahut yang lain, diikuti tawa cekikikan.
"Eh, tapi gue denger cerita dari Leana lho," gadis ketiga, yang Liana kenali sebagai Siska, salah satu pengikut setia Leana, merendahkan suaranya tapi dengan intonasi yang disengaja agar terdengar. "Katanya di rumah, Liana itu manipulatif banget. Dia suka ngadu domba orang tua mereka supaya Leana dimarahin."
Darah Liana berdesir naik ke wajahnya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rusuknya dengan rasa sakit yang tumpul. Itu bohong, teriaknya dalam hati. Itu kebalikan dari kenyataan!
Tapi mulutnya terkunci rapat. Lidahnya terasa kelu, seolah dilem perekat super. Siapa yang akan percaya padanya? Leana memiliki karisma. Leana memiliki suara yang didengar. Liana hanyalah gema yang memudar.
Ia terus berjalan, menabrak bahu seorang siswa tanpa sengaja. "Maaf," cicitnya.
"Jalan pakai mata dong, aneh!" bentak siswa itu, lalu meludah ke samping saat melihat siapa yang menabraknya. "Dasar pembawa sial."
Liana sampai di kelasnya, XI IPA 2. Leana berada di XI IPA 1, kelas unggulan. Pemisahan ini saja sudah cukup menjadi bahan bakar bagi orang tua mereka untuk membandingkan. Liana duduk di bangkunya di pojok belakang, dekat jendela. Ini adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas sedikit lega.
Ia mengeluarkan buku sketsa kecil dari dalam tasnya. Halaman-halamannya penuh dengan coretan puisi dan gambar abstrak berwarna hitam putih. Pena di tangannya mulai menari, menumpahkan tinta hitam ke atas kertas putih, menciptakan baris-baris luka yang tak terucap.
Aku bukan bintang, aku bukan bayangan.
Aku hanya debu kecil yang diberi nyawa untuk hidup.
Menari dalam badai yang tak pernah kuundang,
Mencari tempat mendarat yang tak pernah ada.
"Wuih, nulis apaan tuh? Mantra santet?"
Sebuah tangan menyambar buku itu tiba-tiba. Liana terkesiap, mencoba meraihnya kembali, tapi tubuhnya kalah cepat. Dimas, si trouble maker kelas, berdiri di atas mejanya sambil mengangkat buku itu tinggi-tinggi.
"Balikin, Dimas!" seru Liana, suaranya bergetar antara marah dan takut.
"Coba kita lihat... 'Aku hanya debu kecil...'" Dimas membacanya dengan nada teatrikal yang mengejek, membuat seisi kelas menoleh. Tawa mulai meledak di sana-sini. "Woy, dengerin nih! Si Liana lagi galau! Katanya dia debu! Emang bener sih, debu kan harusnya disapu!"
"Hentikan!" Liana berdiri, wajahnya merah padam menahan tangis. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Saat itulah Leana muncul di ambang pintu kelas. Ia sedang mencari seseorang, tapi keributan itu menarik perhatiannya. Mata mereka bertemu. Liana menatap saudaranya dengan tatapan memohon—sebuah permintaan tolong bisu antar saudara kembar. Tolong aku, Leana. Sekali ini saja.
Leana menatap Dimas, lalu menatap Liana. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang dingin.
"Dimas, udah dong," kata Leana, melangkah masuk. Kelas seketika hening. Aura Leana memang sekuat itu. "Jangan ganggu Liana."
Harapan Liana melambung sedikit. Apakah Leana akhirnya membelanya?
Leana mengambil buku itu dari tangan Dimas, lalu menepuk-nepuk sampulnya seolah membersihkan kotoran. Ia berjalan mendekati Liana dan menyerahkan buku itu.
"Liana itu sensitif, Dimas," kata Leana dengan nada lembut yang dibuat-buat, cukup keras untuk didengar semua orang. "Dia memang suka nulis hal-hal aneh gitu di rumah. Kadang dia ngomong sendiri sama tembok. Jadi maklumin aja ya kalau dia agak... 'berbeda'."
Hening. Lalu tawa yang lebih keras meledak. Kali ini bukan tawa mengejek biasa, tapi tawa yang melabeli Liana sebagai orang gila.
Leana tersenyum manis pada Liana, "Tuh, udah aku balikin. Jangan nangis lagi ya, malu sama umur," ucapnya sambil menepuk pipi Liana pelan—terlalu pelan, tapi rasanya seperti tamparan besi panas.
Leana berbalik dan melenggang pergi, meninggalkan Liana yang berdiri mematung di tengah tawa teman-temannya. Pengkhianatan itu terasa lebih menyakitkan daripada ejekan Dimas. Itu adalah pengkhianatan darah.
Liana duduk kembali, menelungkupkan wajahnya di atas meja. Di balik lipatan tangannya, air matanya menetes membasahi kertas puisi yang baru saja dinistakan.
Di luar jendela, langit mulai mendung lagi. Seolah semesta tahu, tidak ada matahari untuk Liana hari ini.
Sekolah Menengah Atas Pelita Bangsa adalah sebuah mikrokosmos yang kejam. Di sini, hierarki sosial bukan sekadar konsep sosiologi, melainkan hukum alam yang absolut. Dan di puncak rantai makanan itu, berdiri Leana dengan segala kemilaunya.
Koridor sekolah pagi itu riuh rendah oleh suara sepatu yang berdecit dan obrolan para remaja. Liana berjalan menunduk, memeluk buku-bukunya di depan dada seperti perisai. Ia berusaha menjadi tidak terlihat, menyatu dengan dinding bercat krem yang membosankan. Strategi ini biasanya berhasil. Orang-orang cenderung mengabaikan apa yang tidak menarik perhatian mereka.
Namun, menjadi kembaran Leana adalah kutukan tersendiri. Wajah mereka sama, tapi nasib memperlakukan mereka seperti dua spesies berbeda.
"Hei, Leana!" seru seseorang.
Liana tersentak sedikit, refleks menoleh, tapi sapaan itu bukan untuknya. Beberapa meter di depannya, Leana berjalan dikelilingi dayang-dayangnya. Seragam Leana tampak lebih pas, lebih rapi, rambutnya berkibar dramatis saat ia berbalik dan melambaikan tangan dengan senyum yang bisa melelehkan es kutub.
"Hai, Raka! Nanti jadi latihan basket kan? Aku bawain isotonik buat tim ya!" seru Leana. Raka, kapten basket pujaan sekolah, tersenyum lebar dan mengacungkan jempol.
Liana mempercepat langkahnya, ingin segera sampai di kelas dan menenggelamkan diri di bangku paling belakang. Namun, langkahnya terhalang oleh sekelompok siswi yang sedang berkerumun di dekat mading.
"Eh, itu Liana kan?" bisik salah satu dari mereka. Suaranya tidak cukup pelan untuk menjadi rahasia.
"Iya, si 'Bayangan'. Duh, beda banget ya sama Leana. Leana wangi parfum mahal, kalau dia kayaknya wangi buku perpustakaan berdebu," sahut yang lain, diikuti tawa cekikikan.
"Eh, tapi gue denger cerita dari Leana lho," gadis ketiga, yang Liana kenali sebagai Siska, salah satu pengikut setia Leana, merendahkan suaranya tapi dengan intonasi yang disengaja agar terdengar. "Katanya di rumah, Liana itu manipulatif banget. Dia suka ngadu domba orang tua mereka supaya Leana dimarahin."
Darah Liana berdesir naik ke wajahnya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rusuknya dengan rasa sakit yang tumpul. Itu bohong, teriaknya dalam hati. Itu kebalikan dari kenyataan!
Tapi mulutnya terkunci rapat. Lidahnya terasa kelu, seolah dilem perekat super. Siapa yang akan percaya padanya? Leana memiliki karisma. Leana memiliki suara yang didengar. Liana hanyalah gema yang memudar.
Ia terus berjalan, menabrak bahu seorang siswa tanpa sengaja. "Maaf," cicitnya.
"Jalan pakai mata dong, aneh!" bentak siswa itu, lalu meludah ke samping saat melihat siapa yang menabraknya. "Dasar pembawa sial."
Liana sampai di kelasnya, XI IPA 2. Leana berada di XI IPA 1, kelas unggulan. Pemisahan ini saja sudah cukup menjadi bahan bakar bagi orang tua mereka untuk membandingkan. Liana duduk di bangkunya di pojok belakang, dekat jendela. Ini adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas sedikit lega.
Ia mengeluarkan buku sketsa kecil dari dalam tasnya. Halaman-halamannya penuh dengan coretan puisi dan gambar abstrak berwarna hitam putih. Pena di tangannya mulai menari, menumpahkan tinta hitam ke atas kertas putih, menciptakan baris-baris luka yang tak terucap.
Aku bukan bintang, aku bukan bayangan.
Aku hanya debu kecil yang diberi nyawa untuk hidup.
Menari dalam badai yang tak pernah kuundang,
Mencari tempat mendarat yang tak pernah ada.
"Wuih, nulis apaan tuh? Mantra santet?"
Sebuah tangan menyambar buku itu tiba-tiba. Liana terkesiap, mencoba meraihnya kembali, tapi tubuhnya kalah cepat. Dimas, si trouble maker kelas, berdiri di atas mejanya sambil mengangkat buku itu tinggi-tinggi.
"Balikin, Dimas!" seru Liana, suaranya bergetar antara marah dan takut.
"Coba kita lihat... 'Aku hanya debu kecil...'" Dimas membacanya dengan nada teatrikal yang mengejek, membuat seisi kelas menoleh. Tawa mulai meledak di sana-sini. "Woy, dengerin nih! Si Liana lagi galau! Katanya dia debu! Emang bener sih, debu kan harusnya disapu!"
"Hentikan!" Liana berdiri, wajahnya merah padam menahan tangis. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Saat itulah Leana muncul di ambang pintu kelas. Ia sedang mencari seseorang, tapi keributan itu menarik perhatiannya. Mata mereka bertemu. Liana menatap saudaranya dengan tatapan memohon—sebuah permintaan tolong bisu antar saudara kembar. Tolong aku, Leana. Sekali ini saja.
Leana menatap Dimas, lalu menatap Liana. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang dingin.
"Dimas, udah dong," kata Leana, melangkah masuk. Kelas seketika hening. Aura Leana memang sekuat itu. "Jangan ganggu Liana."
Harapan Liana melambung sedikit. Apakah Leana akhirnya membelanya?
Leana mengambil buku itu dari tangan Dimas, lalu menepuk-nepuk sampulnya seolah membersihkan kotoran. Ia berjalan mendekati Liana dan menyerahkan buku itu.
"Liana itu sensitif, Dimas," kata Leana dengan nada lembut yang dibuat-buat, cukup keras untuk didengar semua orang. "Dia memang suka nulis hal-hal aneh gitu di rumah. Kadang dia ngomong sendiri sama tembok. Jadi maklumin aja ya kalau dia agak... 'berbeda'."
Hening. Lalu tawa yang lebih keras meledak. Kali ini bukan tawa mengejek biasa, tapi tawa yang melabeli Liana sebagai orang gila.
Leana tersenyum manis pada Liana, "Tuh, udah aku balikin. Jangan nangis lagi ya, malu sama umur," ucapnya sambil menepuk pipi Liana pelan—terlalu pelan, tapi rasanya seperti tamparan besi panas.
Leana berbalik dan melenggang pergi, meninggalkan Liana yang berdiri mematung di tengah tawa teman-temannya. Pengkhianatan itu terasa lebih menyakitkan daripada ejekan Dimas. Itu adalah pengkhianatan darah.
Liana duduk kembali, menelungkupkan wajahnya di atas meja. Di balik lipatan tangannya, air matanya menetes membasahi kertas puisi yang baru saja dinistakan.
Di luar jendela, langit mulai mendung lagi. Seolah semesta tahu, tidak ada matahari untuk Liana hari ini.