BAB 3

BAB 3: MEJA MAKAN PENUH DURI

BAYANGAN YANG TAK PERNAH TERLIHAT

BAB 3: MEJA MAKAN PENUH DURI

πŸ—“ 03 Oct 2025 πŸ‘ 724 Views
BAB 3: MEJA MAKAN PENUH DURI

Makan malam di kediaman keluarga Adhitama selalu disajikan tepat pukul tujuh malam. Itu adalah aturan tak tertulis yang harus dipatuhi, sebuah ritual sakral di mana keluarga seharusnya berkumpul dan berbagi cerita. Namun bagi Liana, pukul tujuh malam adalah dimulainya sesi penyiksaan mental harian.

Meja makan panjang dari kayu jati itu penuh dengan hidangan lezat. Ayam kodok, sup asparagus, dan tumis brokoli daging sapi. Aroma masakan Mama yang biasanya membangkitkan selera, malam ini terasa hambar di lidah Liana. Ia mengunyah nasinya perlahan, menghitung butiran beras dalam diam, berusaha menjadi sekecil mungkin.

"Jadi, Bu Haryanto bilang dia sangat terkesan dengan presentasimu, Leana," Papa membuka percakapan sambil memotong daging ayamnya. Denting pisau dan garpu terdengar begitu nyaring di telinga Liana.

"Iya, Pa. Sebenarnya itu tugas kelompok, tapi karena teman-teman lain kurang paham materi, aku yang handle hampir 90 persen. Kasihan kalau nilainya jelek gara-gara mereka, jadi aku bantu," jawab Leana dengan nada rendah hati yang palsu.

Mama tersenyum lebar, menuangkan air ke gelas Leana. "Itu baru anak Mama. Kamu punya jiwa kepemimpinan yang tinggi, suka menolong. Persis seperti Papa waktu muda."

Liana menelan ludah. Ia tahu fakta sebenarnya. Tadi siang di perpustakaan, ia melihat Leana memaksa dua temannya mengerjakan makalah itu sementara Leana sibuk mengecat kuku. Tapi Liana diam. Kebenaran tidak punya tempat di meja makan ini.

"Liana, bagaimana sekolahmu?" tanya Papa tiba-tiba. Pertanyaan langka.

Liana mengangkat wajahnya, terkejut. "Ehm... baik, Pa. Tadi nilai Biologi akuβ€”"

"Ah, ngomong-ngomong soal sekolah!" potong Leana cepat, suaranya meninggi sedikit, sengaja memotong kalimat Liana. "Pa, Ma, tahu nggak? Bulan depan ada pemilihan duta pelajar sekolah. Kepala sekolah secara pribadi minta aku ikut seleksi."

Mata Mama dan Papa seketika berbinar, melupakan sepenuhnya kalimat Liana yang menggantung di udara. Fokus mereka berpindah kembali ke sang bintang.

"Wah, itu kesempatan bagus, Leana! Kalau kamu menang, itu akan jadi poin plus buat masuk universitas nanti," seru Mama antusias.

"Tapi saingannya berat, Ma. Aku butuh gaun baru buat sesi pemotretan, terus perawatan wajah, sama les public speaking tambahan," keluh Leana manja.

"Jangan khawatir soal biaya. Papa akan dukung penuh. Apa pun untuk masa depanmu," jawab Papa tegas.

Liana meletakkan sendoknya perlahan. Bunyi 'klontang' pelan itu tidak ada yang mendengar. Nilai Biologi-nya 100. Nilai tertinggi satu angkatan. Ia begadang tiga malam untuk menghafal nama latin tumbuhan. Tapi angka 100 itu kini terasa seperti angka nol. Tidak ada nilainya jika tidak ada yang melihat.

"Liana," panggil Mama, tapi matanya masih menatap Leana dengan kagum. "Kamu sudah selesai? Kalau sudah, tolong kupaskan buah di dapur. Bawakan ke sini buat Papa dan Leana."

Liana merasakan dadanya sesak. Ia bukan anak di rumah ini; ia adalah pelayan yang kebetulan memiliki DNA yang sama.

"Aku... aku masih lapar, Ma," jawab Liana pelan, mencoba mempertahankan sedikit harga dirinya.

Mama menoleh, tatapannya tajam. "Jangan banyak makan malam-malam, nanti kamu gemuk. Lihat Leana, dia jaga badannya. Sudah, sana kupas buah."

Kata-kata itu menghunjam tepat di ulu hati. Liana mendorong kursinya ke belakang, bangkit berdiri. Kakinya terasa berat saat melangkah ke dapur. Di belakangnya, ia mendengar tawa Leana dan Papa. Tawa yang terdengar seperti ejekan bagi telinganya.

Di dapur yang dingin, Liana mengambil pisau buah. Ia menatap pantulan dirinya di bilah pisau yang mengkilap. Matanya bengkak, wajahnya kusam.

Kenapa? batinnya menjerit. Kenapa aku harus ada jika hanya untuk menjadi penonton kebahagiaan mereka?

Tangan Liana gemetar saat mengupas apel. Kulit apel merah itu terkelupas panjang, seperti topeng yang perlahan terbuka. Ia ingin berteriak. Ia ingin melempar piring buah ini ke dinding. Tapi ia tidak bisa. Didikan untuk menjadi penurut sudah mendarah daging terlalu dalam.

Ia menyusun potongan apel di piring kristal, lalu membawanya kembali ke ruang makan.

"Nah, ini dia," kata Leana, mengambil sepotong apel tanpa mengucapkan terima kasih. "Oh ya, Ma. Tadi di sekolah Liana bikin ulah lagi lho."

Liana membeku. Apa lagi sekarang?

Mama meletakkan serbetnya. Wajahnya berubah serius. "Ulah apa lagi?"

"Tadi dia teriak-teriak di kelas pas jam istirahat. Teman-teman bilang dia kayak orang kesurupan. Aku malu banget, Ma. Semua orang nanya ke aku, 'adikmu kenapa sih?' Aku bingung jawabnya," Leana memasang wajah sedih, matanya berkaca-kaca dengan sangat meyakinkan.

"Liana!" bentak Papa. Suaranya menggelegar membuat Liana tersentak. "Benar itu?"

"Bukan begitu, Pa! Tadi Dimas mengambil bukuku danβ€”"

"Jangan menyalahkan orang lain!" potong Mama. "Leana tidak mungkin bohong. Kamu ini kenapa sih? Selalu cari perhatian dengan cara yang aneh-aneh. Kalau nggak bisa bikin bangga, minimal jangan bikin malu kakakmu!"

"Tapi Ma, akuβ€”"

"Masuk kamar!" perintah Papa, telunjuknya mengarah ke tangga. "Renungkan kelakuanmu. Papa nggak mau dengar bantahan."

Liana menatap mereka satu per satu. Papa yang marah, Mama yang kecewa, dan Leana... Leana yang sedang menggigit apel dengan santai, menyembunyikan senyum kemenangan di balik tangannya.

Dunia Liana runtuh sekali lagi malam itu. Bukan karena bentakan Papa, tapi karena kesadaran menyakitkan bahwa di pengadilan keluarga ini, ia sudah divonis bersalah bahkan sebelum ia membuka mulut.

Ia berlari menaiki tangga, air mata mengalir deras tanpa bisa dibendung. Pintu kamarnya dibanting tertutup, mengunci dirinya dari dunia yang tak menginginkannya.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G