BAB 5

BAB 5: CERMIN YANG RETAK

BAYANGAN YANG TAK PERNAH TERLIHAT

BAB 5: CERMIN YANG RETAK

๐Ÿ—“ 05 Oct 2025 ๐Ÿ‘ 713 Views
BAB 5: CERMIN YANG RETAK

Minggu pagi, suasana di rumah terasa lebih mencekam dari biasanya. Liana terbangun dengan mata bengkak dan kepala yang berdenyut hebat. Ia berharap bisa tidur selamanya, tapi sinar matahari memaksa masuk, mengingatkannya bahwa ia masih hidup di dunia yang sama.

Saat ia turun ke bawah, ia menemukan ruang tamu berantakan. Ada pecahan vas bunga di lantai.

"Kamu ini gimana sih, Leana?! Mama sudah bilang jangan pulang larut malam!" Suara Mama terdengar tinggi dari arah ruang keluarga.

Liana mengendap-endap mendekat. Ia melihat Mama berdiri dengan wajah merah padam, berkacak pinggang di depan Leana. Papa duduk di sofa, memijat pelipisnya dengan ekspresi kecewa berat. Leana duduk di sofa seberang, kepalanya tertunduk, bahunya berguncang menahan tangis.

"Ma, aku bisa jelasin... Raka bannya bocor, hp aku mati..." isak Leana.

"Alasan!" bentak Papa. "Tetangga bilang kamu diantar pulang jam dua pagi! Apa kata orang nanti? Anak gadis keluarga Adhitama keluyuran seperti perempuan tidak benar!"

"Kalian selalu nuntut aku sempurna!" Leana tiba-tiba mengangkat wajahnya, air mata membasahi pipinya yang kemerahan. "Aku capek, Pa! Aku capek harus selalu senyum, selalu juara, selalu jadi boneka pajangan kalian!"

Liana terpaku di balik dinding. Ini pertama kalinya ia melihat Leana melawan. Biasanya Leana sangat pandai memainkan peran anak manis.

"Berani kamu meninggikan suara pada Papa?" Papa berdiri, tangannya terangkat seolah hendak menampar, tapi berhenti di udara. Tangannya gemetar menahan amarah.

"Sudah, Pa. Sabar," Mama menahan lengan Papa.

Tiba-tiba, mata Leana menangkap sosok Liana yang mengintip. Sekilas, ada kilatan kepanikan di mata Leana, tapi dengan cepat berubah menjadi kesempatan licik.

"Ini semua gara-gara Liana!" teriak Leana tiba-tiba, menunjuk ke arah Liana yang bersembunyi.

Liana tersentak, melangkah mundur. Apa?

Papa dan Mama menoleh serentak. Tatapan mereka beralih dari Leana ke Liana. Tatapan tajam yang mencari kambing hitam.

"Apa maksudmu?" tanya Mama bingung.

"Liana... dia yang ngasih ide aku buat bohong," Leana mulai mengarang cerita dengan lancar di sela isak tangisnya. "Kemarin sore, Liana bilang ke aku, 'Kak, sekali-kali bandel nggak apa-apa kok. Mama Papa nggak bakal tahu'. Dia yang manas-manasin aku buat pergi sama Raka sampai malam. Katanya biar aku bisa ngerasain bebas kayak dia yang nggak pernah dipeduliin!"

"Apa?! Itu bohong!" Liana keluar dari persembunyiannya, tubuhnya gemetar hebat. "Aku nggak pernah ngomong gitu! Kemarin sore kamu masuk kamarku dan maki-maki aku!"

"Tuh kan, Ma... dia selalu nyangkal," Leana menangis semakin keras, menutupi wajahnya dengan tangan. "Dia iri sama aku, Ma. Dia sengaja mau ngehancurin citra aku di depan kalian. Dia senang kalau aku dimarahin!"

"Cukup!" bentak Papa.

Papa berjalan menghampiri Liana. Bayangannya menutupi tubuh Liana yang mungil.

"Papa nggak nyangka," suara Papa dingin, penuh kekecewaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. "Sudah tidak berprestasi, sekarang kamu jadi penghasut kakakmu sendiri? Kamu mau menghancurkan keluarga ini, Liana?"

"Pa, demi Tuhan, aku nggakโ€”"

"Masuk kamar!" Papa menunjuk tangga. "Mulai hari ini, uang jajanmu Papa potong. Dan jangan berani-berani bicara sama Leana sampai kamu sadar kesalahanmu!"

Liana menatap Mama, berharap ada pembelaan. Tapi Mama hanya membuang muka, sibuk memeluk Leana yang sedang "menangis".

Hati Liana hancur berkeping-keping menjadi debu. Tidak ada pengadilan. Tidak ada pembelaan. Vonis sudah dijatuhkan berdasarkan siapa yang paling pandai bersandiwara.

Liana berbalik dan berlari. Ia tidak menuju kamarnya. Ia berlari keluar rumah, menerobos pintu depan yang tak terkunci.

"Liana! Kembali!" teriakan Papa terdengar di belakang, tapi Liana tidak peduli.

Ia berlari tanpa alas kaki, merasakan aspal panas membakar telapak kakinya. Matahari siang itu menyengat kulitnya, tapi ia merasa sangat dingin. Ia berlari menjauhi rumah mewah itu, menjauhi kebohongan Leana, menjauhi tatapan kecewa Papa.

Liana sampai di sebuah jembatan penyeberangan yang melintasi jalan raya besar. Napasnya tersengal-sengal, dadanya sakit seolah mau meledak. Ia mencengkeram besi pembatas jembatan yang berkarat. Di bawahnya, mobil dan truk berlalu-lalang dengan kecepatan tinggi, menderu seperti monster besi.

Angin kencang menerpa wajahnya, mengeringkan air matanya namun tidak lukanya.

"Apa aku benar-benar ada?" bisiknya pada angin. "Ataukah aku hanya ilusi yang harus hilang supaya Leana bisa bersinar lebih terang?"

Liana menatap ke bawah. Jarak antara dirinya dan aspal keras di bawah sana tampak begitu dekat, namun juga begitu jauh. Satu langkah. Hanya butuh satu langkah untuk mengakhiri rasa sakit ini. Satu langkah untuk membuktikan pada mereka bahwa ia bukan sekadar bayangan. Bahwa ia punya darah yang bisa tumpah, tulang yang bisa patah.

Liana memanjat besi pembatas pertama. Kakinya gemetar.

Sebuah truk besar melaju dari kejauhan. Klaksonnya berbunyi panjang, suaranya memekakkan telinga.

Mungkin ini akhirnya, pikir Liana. Mungkin di kehidupan selanjutnya, aku bisa jadi bintang.

Namun, tepat saat ia hendak mengangkat kaki keduanya, sebuah tangan kasar menarik kerah bajunya dari belakang dengan kuat, menghempaskannya kembali ke lantai jembatan yang kotor.

Liana terjatuh keras, sikunya lecet. Ia mendongak, napasnya memburu, matanya kabur oleh air mata, mencoba melihat siapa yang baru saja menariknya dari tepi jurang kematian.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G