BAB 3: NERAKA PUTIH
Pabrik semen itu adalah monster raksasa yang tak pernah tidur. Cerobong asapnya yang tinggi menjulang tak henti-hentinya memuntahkan asap kelabu ke angkasa, seolah ingin meracuni langit. Di dalamnya, suara mesin penggiling batu kapur menderu-deru memekakkan telinga, menciptakan getaran yang terasa hingga ke ulu hati. Ini adalah dunia yang keras, kasar, dan tak mengenal belas kasihan. Dan di sinilah ibuku, Yani, menggantungkan nasibnya.
Hari itu, udara di dalam gudang pengepakan terasa lebih panas dari biasanya. Debu semen beterbangan liar di udara, menciptakan kabut putih abadi yang menyesakkan napas. Partikel-partikel halus itu menempel di mana-mana: di dinding, di lantai, di mesin-mesin, dan tentu saja, di paru-paru para pekerjanya.
Ibu berdiri di sana, di antara tumpukan karung-karung semen yang menggunung. Tubuhnya yang kecil tampak semakin tenggelam dalam balutan pakaian kerja yang lusuh dan masker kain yang sudah berubah warna menjadi abu-abu. Masker itu adalah satu-satunya perisai, pertahanan terakhir yang rapuh melawan serbuan debu jahat.
Ayo, Yani! Percepat kerjanya! Truk pengangkut sudah menunggu! teriak Mandor dengan suara yang harus beradu dengan bising mesin.
Ibu mengangguk cepat. Ia membungkuk, meraih ujung karung semen seberat lima puluh kilogram itu. Bayangkan, lima puluh kilogram. Berat itu mungkin hampir menyamai berat badan Ibu sendiri. Dengan satu tarikan napas panjang dan teknik yang sudah bertahun-tahun ia latih, ia menghentakkan karung itu ke atas bahunya.
Ugh, desisnya pelan. Hanya ia sendiri yang mendengar suara tulang-tulangnya bergemeretak protes.
Keringat bercucuran deras dari dahinya, membuat jalur-jalur sungai kecil di wajahnya yang tertutup debu. Matanya perih, merah oleh iritasi yang sudah jadi makanan sehari-hari. Tapi ia terus melangkah. Satu karung, dua karung, sepuluh karung. Kakinya yang dibalut sepatu bot karet murahan melangkah gontai menuju truk yang menganga menunggu muatan.
Tak ada yang tahu, di balik masker lusuh itu, napas Ibu mulai pendek-pendek. Dadanya terasa berat, seolah ada batu besar yang menindih paru-parunya. Rasa sesak itu sebenarnya sudah ia rasakan sejak subuh tadi, saat ia menyiapkan nasi goreng untukku. Tapi ia mengabaikannya. Ia menekannya dalam-dalam, menguncinya di sudut hati yang paling gelap agar tidak ada yang tahu, apalagi aku.
Sakit sedikit tidak boleh jadi alasan malas, begitu mantranya.
Namun hari ini, tubuhnya sepertinya punya rencana lain. Debu-debu semen itu, yang sudah bertahun-tahun ia hirup, kini mulai menagih bayaran. Mereka berpesta di dalam saluran pernapasannya, menyumbat aliran oksigen yang seharusnya menghidupi darahnya.
Saat matahari mulai condong ke barat, sinarnya menerobos masuk lewat celah-celah ventilasi pabrik, menciptakan sorotan cahaya dramatis di tengah debu yang menari-nari. Ibu merasa pandangannya mulai kabur. Suara mesin di sekelilingnya terdengar menjauh, seperti suara dari dalam gua. Kakinya gemetar hebat, tak lagi mampu menopang beban tubuh, apalagi beban karung semen di pundaknya.
Ia mencoba bersandar sejenak di dinding pabrik yang kasar. Mencoba mencari pegangan. Dadanya naik turun dengan cepat, mencari oksigen yang entah lari ke mana.
Tuhan... Alea... bisiknya lirih. Nama anaknya adalah doa terakhir yang ia rapalkan sebelum kesadaran itu direnggut paksa.
Tubuh ringkih itu akhirnya menyerah. Karung semen di pundaknya merosot jatuh, diikuti oleh tubuh Ibu yang ambruk ke lantai beton yang dingin. Ia terkapar tanpa suara, seperti boneka kain yang diputus benangnya. Debu semen mengepul di sekitarnya saat tubuhnya menghantam tanah, seolah menyambut korban barunya.
Suasana pabrik yang bising seketika berubah menjadi kepanikan.
Tolong... Bu Yani pingsan! teriak salah satu pekerja pria yang melihat kejadian itu. Suaranya melengking, memecah rutinitas kerja yang monoton.
Mandor yang sedang memeriksa catatan pengiriman langsung menoleh. Ia berlari mendekat, wajahnya yang biasanya garang kini berubah pucat.
Dia kenapa? tanya Mandor panik sambil berlutut di samping Ibu.
Saya tidak tahu, Pak! Tiba-tiba saja beliau jatuh! Saya melihat Bu Yani sudah tergeletak di tanah! jawab pekerja itu dengan napas terengah.
Mandor menepuk-nepuk pipi Ibu, mencoba menyadarkan. Tapi Ibu diam saja. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru.
Cepat! Bawa ke mobil bak terbuka! Kita ke rumah sakit sekarang! perintah Mandor tegas.
Beberapa pekerja berbadan tegap segera mengangkat tubuh Ibu. Tubuh itu terasa sangat ringan di tangan mereka, sebuah fakta ironis yang menyedihkan mengingat beban hidup yang ia pikul selama ini sungguh berat. Mereka membawanya keluar dari neraka putih itu, menuju harapan kesembuhan yang entah seberapa mahal harganya.
Pabrik semen itu adalah monster raksasa yang tak pernah tidur. Cerobong asapnya yang tinggi menjulang tak henti-hentinya memuntahkan asap kelabu ke angkasa, seolah ingin meracuni langit. Di dalamnya, suara mesin penggiling batu kapur menderu-deru memekakkan telinga, menciptakan getaran yang terasa hingga ke ulu hati. Ini adalah dunia yang keras, kasar, dan tak mengenal belas kasihan. Dan di sinilah ibuku, Yani, menggantungkan nasibnya.
Hari itu, udara di dalam gudang pengepakan terasa lebih panas dari biasanya. Debu semen beterbangan liar di udara, menciptakan kabut putih abadi yang menyesakkan napas. Partikel-partikel halus itu menempel di mana-mana: di dinding, di lantai, di mesin-mesin, dan tentu saja, di paru-paru para pekerjanya.
Ibu berdiri di sana, di antara tumpukan karung-karung semen yang menggunung. Tubuhnya yang kecil tampak semakin tenggelam dalam balutan pakaian kerja yang lusuh dan masker kain yang sudah berubah warna menjadi abu-abu. Masker itu adalah satu-satunya perisai, pertahanan terakhir yang rapuh melawan serbuan debu jahat.
Ayo, Yani! Percepat kerjanya! Truk pengangkut sudah menunggu! teriak Mandor dengan suara yang harus beradu dengan bising mesin.
Ibu mengangguk cepat. Ia membungkuk, meraih ujung karung semen seberat lima puluh kilogram itu. Bayangkan, lima puluh kilogram. Berat itu mungkin hampir menyamai berat badan Ibu sendiri. Dengan satu tarikan napas panjang dan teknik yang sudah bertahun-tahun ia latih, ia menghentakkan karung itu ke atas bahunya.
Ugh, desisnya pelan. Hanya ia sendiri yang mendengar suara tulang-tulangnya bergemeretak protes.
Keringat bercucuran deras dari dahinya, membuat jalur-jalur sungai kecil di wajahnya yang tertutup debu. Matanya perih, merah oleh iritasi yang sudah jadi makanan sehari-hari. Tapi ia terus melangkah. Satu karung, dua karung, sepuluh karung. Kakinya yang dibalut sepatu bot karet murahan melangkah gontai menuju truk yang menganga menunggu muatan.
Tak ada yang tahu, di balik masker lusuh itu, napas Ibu mulai pendek-pendek. Dadanya terasa berat, seolah ada batu besar yang menindih paru-parunya. Rasa sesak itu sebenarnya sudah ia rasakan sejak subuh tadi, saat ia menyiapkan nasi goreng untukku. Tapi ia mengabaikannya. Ia menekannya dalam-dalam, menguncinya di sudut hati yang paling gelap agar tidak ada yang tahu, apalagi aku.
Sakit sedikit tidak boleh jadi alasan malas, begitu mantranya.
Namun hari ini, tubuhnya sepertinya punya rencana lain. Debu-debu semen itu, yang sudah bertahun-tahun ia hirup, kini mulai menagih bayaran. Mereka berpesta di dalam saluran pernapasannya, menyumbat aliran oksigen yang seharusnya menghidupi darahnya.
Saat matahari mulai condong ke barat, sinarnya menerobos masuk lewat celah-celah ventilasi pabrik, menciptakan sorotan cahaya dramatis di tengah debu yang menari-nari. Ibu merasa pandangannya mulai kabur. Suara mesin di sekelilingnya terdengar menjauh, seperti suara dari dalam gua. Kakinya gemetar hebat, tak lagi mampu menopang beban tubuh, apalagi beban karung semen di pundaknya.
Ia mencoba bersandar sejenak di dinding pabrik yang kasar. Mencoba mencari pegangan. Dadanya naik turun dengan cepat, mencari oksigen yang entah lari ke mana.
Tuhan... Alea... bisiknya lirih. Nama anaknya adalah doa terakhir yang ia rapalkan sebelum kesadaran itu direnggut paksa.
Tubuh ringkih itu akhirnya menyerah. Karung semen di pundaknya merosot jatuh, diikuti oleh tubuh Ibu yang ambruk ke lantai beton yang dingin. Ia terkapar tanpa suara, seperti boneka kain yang diputus benangnya. Debu semen mengepul di sekitarnya saat tubuhnya menghantam tanah, seolah menyambut korban barunya.
Suasana pabrik yang bising seketika berubah menjadi kepanikan.
Tolong... Bu Yani pingsan! teriak salah satu pekerja pria yang melihat kejadian itu. Suaranya melengking, memecah rutinitas kerja yang monoton.
Mandor yang sedang memeriksa catatan pengiriman langsung menoleh. Ia berlari mendekat, wajahnya yang biasanya garang kini berubah pucat.
Dia kenapa? tanya Mandor panik sambil berlutut di samping Ibu.
Saya tidak tahu, Pak! Tiba-tiba saja beliau jatuh! Saya melihat Bu Yani sudah tergeletak di tanah! jawab pekerja itu dengan napas terengah.
Mandor menepuk-nepuk pipi Ibu, mencoba menyadarkan. Tapi Ibu diam saja. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru.
Cepat! Bawa ke mobil bak terbuka! Kita ke rumah sakit sekarang! perintah Mandor tegas.
Beberapa pekerja berbadan tegap segera mengangkat tubuh Ibu. Tubuh itu terasa sangat ringan di tangan mereka, sebuah fakta ironis yang menyedihkan mengingat beban hidup yang ia pikul selama ini sungguh berat. Mereka membawanya keluar dari neraka putih itu, menuju harapan kesembuhan yang entah seberapa mahal harganya.