BAB 4

BAB 4: KABAR DARI BURUNG BESI

PERJUANGAN SEORANG IBU

BAB 4: KABAR DARI BURUNG BESI

๐Ÿ—“ 04 Aug 2025 ๐Ÿ‘ 778 Views
BAB 4: KABAR DARI BURUNG BESI

Di sekolah, suasana kelas sedang hening. Guru Matematika kami sedang menjelaskan rumus-rumus rumit di papan tulis. Kapur putih menari-nari, menciptakan deretan angka dan simbol yang bagi sebagian siswa adalah mimpi buruk, tapi bagiku adalah tantangan yang menyenangkan. Aku sedang mencatat dengan tekun, membayangkan wajah bangga Ibu jika melihat nilai ulanganku nanti bagus.

Tiba-tiba, ketenangan itu terusik. Seorang penjaga sekolah mengetuk pintu kelas. Ia berbisik sesuatu pada guru Matematika. Sang guru mengangguk, lalu matanya menyapu seisi kelas hingga berhenti tepat di wajahku. Ada tatapan iba di sana yang membuat jantungku seketika berhenti berdetak.

Alea, ada telepon untukmu di kantor, katanya pelan.

Jantungku yang tadi berhenti kini berpacu liar. Telepon? Siapa yang menelepon? Kami tidak punya telepon rumah. Tetangga? Kenapa menelepon ke sekolah? Pikiranku langsung melayang pada satu nama: Ibu.

Aku berdiri, kakiku terasa lemas seperti jeli. Aku berjalan menuju kantor guru dengan langkah gontai. Di sana, gagang telepon tergeletak di meja, menunggu untuk menyampaikan kabar buruk.

Halo? suaraku bergetar.

Alea? Ini Bu Rina, tetangga sebelah, suara di seberang sana terdengar panik dan terburu-buru. Ibumu masuk rumah sakit. Tadi Mandor pabrik menelepon. Katanya ibumu pingsan di tempat kerja. Sekarang sudah di UGD.

Duniaku runtuh seketika. Langit-langit kantor guru rasanya berputar. Suara Bu Rina selanjutnya menjadi gema yang tak jelas.

Ibumu masuk rumah sakit... Pingsan... UGD...

Tanpa pikir panjang, air mata langsung membanjiri pipiku. Aku meletakkan gagang telepon itu begitu saja tanpa menutupnya. Aku berlari kembali ke kelas, menyambar tasku, dan menghampiri guru Matematika.

Pak, saya izin pulang. Ibu saya... Ibu saya masuk rumah sakit, kataku terbata-bata di antara isak tangis.

Guru itu mengangguk cepat, mengerti situasi darurat ini. Pergilah, Nak. Hati-hati di jalan.

Aku berlari keluar sekolah. Kakiku yang gemetar memaksaku untuk terus bergerak. Hatiku rasanya seperti disayat-sayat sembilu. Perasaan cemas, takut, dan bersalah menyatu menjadi bola api yang membakar dada. Kenapa tadi pagi aku membiarkan Ibu pergi kerja? Kenapa aku tidak melarangnya? Kenapa aku tidak melihat betapa lelahnya dia?

Aku menaiki angkutan umum dengan pikiran kosong. Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa berdoa. Pemandangan di luar jendela angkot yang biasanya menarik, kini hanya berupa bayang-bayang kelabu. Orang-orang yang tertawa di pinggir jalan, pedagang yang berteriak menjajakan dagangan, semuanya terasa asing. Mereka tidak tahu bahwa duniaku sedang diambang kehancuran.

Aku hanya ingin segera sampai di rumah sakit. Aku ingin melihat Ibu. Aku ingin memegang tangannya dan bilang kalau aku ada di sini.

Setibanya di rumah sakit, bau antiseptik yang menyengat langsung menyergap hidungku. Bau kematian dan harapan yang bercampur aduk. Aku berlari menyusuri lorong-lorong putih yang panjang dan dingin, bertanya pada suster dengan napas tersengal.

Pasien atas nama Bu Yani? Ruang UGD?

Suster menunjuk arah dengan sopan. Aku berlari lagi.

Di ruang UGD, pemandangan itu menghantamku dengan keras. Di salah satu brankar, dibatasi oleh tirai hijau yang setengah terbuka, aku melihat ibuku. Ia berbaring lemah, tak berdaya. Sebuah selang oksigen bening menempel di hidungnya, membantunya mencari napas yang hilang. Wajahnya sangat pucat, kontras sekali dengan sprei rumah sakit yang putih bersih.

Ibu... panggilku lirih.

Matanya terbuka perlahan saat mendengar suaraku. Tatapannya sayu, tapi ia mencoba tersenyum. Senyum yang dipaksakan, yang justru membuat hatiku semakin hancur. Seorang dokter berjas putih berdiri di sampingnya, memegang papan catatan medis dengan wajah serius.

Dokter itu menoleh padaku, lalu mendekat.

Kamu anak Bu Yani? tanyanya pelan.

Aku mengangguk, tak mampu bersuara.

Bu Yani mengalami dyspnea, gangguan pernapasan yang terbilang lumayan serius, Dokter itu menjelaskan dengan nada datar namun penuh penekanan. Faktor utamanya adalah paparan debu semen yang terus-menerus selama bertahun-tahun. Paru-parunya mengalami peradangan. Dokter sangat menyarankan agar Ibu istirahat total. Jangan melakukan aktivitas berat, apalagi kembali ke lingkungan yang penuh debu. Itu sama saja bunuh diri.

Kata-kata dokter itu seperti palu godam yang menghantam kepalaku. Dyspnea. Debu semen. Istirahat total. Semua itu berarti satu hal: Ibu tidak boleh bekerja lagi di pabrik. Sumber nafkah kami satu-satunya harus dihentikan.

Aku menatap Ibu. Air mataku tak terbendung lagi. Tapi Ibu, yang mendengar penjelasan dokter dengan jelas, justru bereaksi sebaliknya. Kepanikan melanda wajah pucatnya.

Dengan tangan gemetar, ia mencoba menarik selang oksigen itu sedikit, seolah benda itu menghalanginya untuk bicara.

Tidak... Saya harus tetap bekerja, Dok, katanya dengan suara serak dan terputus-putus. Napasnya masih berat.

Kalau saya tidak bekerja, bagaimana anak-anak saya makan? Siapa yang bayar uang sekolahnya? Saya tidak bisa diam saja, Dok!

Ibu mencoba bangun, tetapi tubuhnya menolak. Ia kembali terhempas ke bantal. Semangatnya sekuat baja, tapi fisiknya sudah rapuh seperti kerupuk.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G