BAB 5
LANGIT ABU-ABU DAN SERAGAM PUTIH BIRU
Waktu bergulir cepat seperti roda sepeda yang dikayuh menuruni bukit Dago. Satu minggu telah berlalu sejak pertemuan pertama mereka, dan kini Randika merasa seolah ia sudah tinggal di Bandung selama bertahun-tahun. Rutinitasnya mulai terbentuk, dan di pusat rutinitas itu, selalu ada Rahira.
Hari ini adalah hari yang penting. Mama menyuruh Randika mandi lebih pagi karena mereka akan pergi membeli peralatan sekolah. Libur kenaikan kelas hampir usai, dan Randika harus bersiap masuk ke sekolah barunya.
Randika, kamu sudah tahu kan sekolah di mana? tanya Ayah saat sarapan.
Belum, Yah. Emang di mana? tanya Randika sambil mengunyah roti bakarnya.
SMP Negeri 2 Bandung. Surat pindahmu sudah diurus semua, jawab Ayah santai.
Randika mengangguk. Ia tahu itu sekolah favorit. Namun, ada satu pertanyaan besar di kepalanya. Di mana Rahira sekolah? Selama seminggu ini mereka bermain bersama, Randika lupa menanyakan hal sesepele namun sepenting itu.
Segera setelah sarapan, ia mengambil ponselnya.
Randika: Ra, kamu sekolah di mana nanti?
Balasan Rahira membuat Randika hampir tersedak susunya.
Rahira: SMP N 2 Bandung. Kenapa? Kamu di sana juga?
Randika tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Takdir sepertinya tidak bosan mempertemukan mereka.
Randika: IYA! Kita satu sekolah, Ra!
Rahira: Wahh serius?? Asik banget! Nanti kita bisa berangkat bareng dong kalau rumahmu masih di sini.
Kalimat terakhir Rahira membuat senyum Randika sedikit memudar. "Kalau rumahmu masih di sini." Itu masalahnya. Randika tahu bahwa tinggal di rumah Nenek hanyalah sementara. Orang tuanya masih sibuk mencari rumah tetap.
Namun, Randika menepis kekhawatiran itu. Ia memilih menikmati momen ini. Ia dan Rahira akan satu sekolah. Itu artinya mereka akan punya lebih banyak waktu bersama.
Hari-hari berikutnya dilalui dengan penuh warna. Mereka membeli buku tulis bersama, memilih sampul buku dengan warna senada, dan bahkan meributkan merek pulpen mana yang paling enak dipakai. Keakraban mereka tumbuh pesat. Di mana ada Randika, di situ ada Rahira. Mereka seperti sepasang sepatu, selalu beriringan.
Namun, kebahagiaan itu memiliki batas waktu yang tak kasat mata.
Hampir satu bulan mereka menghabiskan waktu bersama. Suatu sore, sepulang bermain bulu tangkis di lapangan kompleks, Randika duduk di teras rumah Rahira, meneguk es sirup yang dibuatkan ibu Rahira.
Ra, panggil Randika pelan.
Hm? jawab Rahira, masih sibuk mengelap keringat di dahinya.
Aku... mungkin nggak akan lama lagi tinggal di rumah Nenek, kata Randika. Suaranya berat, seolah ada batu yang mengganjal di tenggorokan.
Gerakan tangan Rahira terhenti. Ia menoleh, menatap Randika lekat-lekat. Maksudnya? Kamu mau pindah?
Iya. Ayah bilang mungkin seminggu lagi kami pindah ke rumah baru. Lokasinya agak jauh dari sini.
Wajah ceria Rahira perlahan meredup. Matanya yang biasanya berbinar kini tampak sayu. Yah... kok cepat banget? Padahal kita baru aja main bareng. Nanti kalau kamu pindah jauh, kita nggak bisa main tiap sore lagi dong?
Randika menunduk, menatap lantai teras yang retak-retak. Aku juga sedih, Ra. Tapi kan kita masih satu sekolah. Kita masih bisa ketemu di sekolah.
Iya sih... tapi kan beda, gumam Rahira pelan.
Ada kesunyian yang menggantung di antara mereka. Angin sore yang biasanya sejuk kini terasa dingin menusuk. Randika merasakan ketakutan yang nyata. Ketakutan akan menjadi asing. Ketakutan bahwa jarak fisik akan menciptakan jarak di hati mereka. Persahabatan mereka yang baru seumur jagung ini sedang diuji oleh realitas kehidupan orang dewasa yang tak bisa mereka tolak.
Randika ingin berjanji bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa ia akan sering berkunjung. Tapi lidahnya kelu. Ia tahu, janji adalah hal yang mudah diucapkan namun sulit ditepati, apalagi bagi seorang anak SMP yang masih bergantung pada orang tua.
Sore itu berakhir dengan muram. Langit Bandung berubah abu-abu, seolah turut merasakan kegelisahan dua sahabat yang akan segera dipisahkan oleh jarak kota yang semakin padat.
LANGIT ABU-ABU DAN SERAGAM PUTIH BIRU
Waktu bergulir cepat seperti roda sepeda yang dikayuh menuruni bukit Dago. Satu minggu telah berlalu sejak pertemuan pertama mereka, dan kini Randika merasa seolah ia sudah tinggal di Bandung selama bertahun-tahun. Rutinitasnya mulai terbentuk, dan di pusat rutinitas itu, selalu ada Rahira.
Hari ini adalah hari yang penting. Mama menyuruh Randika mandi lebih pagi karena mereka akan pergi membeli peralatan sekolah. Libur kenaikan kelas hampir usai, dan Randika harus bersiap masuk ke sekolah barunya.
Randika, kamu sudah tahu kan sekolah di mana? tanya Ayah saat sarapan.
Belum, Yah. Emang di mana? tanya Randika sambil mengunyah roti bakarnya.
SMP Negeri 2 Bandung. Surat pindahmu sudah diurus semua, jawab Ayah santai.
Randika mengangguk. Ia tahu itu sekolah favorit. Namun, ada satu pertanyaan besar di kepalanya. Di mana Rahira sekolah? Selama seminggu ini mereka bermain bersama, Randika lupa menanyakan hal sesepele namun sepenting itu.
Segera setelah sarapan, ia mengambil ponselnya.
Randika: Ra, kamu sekolah di mana nanti?
Balasan Rahira membuat Randika hampir tersedak susunya.
Rahira: SMP N 2 Bandung. Kenapa? Kamu di sana juga?
Randika tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Takdir sepertinya tidak bosan mempertemukan mereka.
Randika: IYA! Kita satu sekolah, Ra!
Rahira: Wahh serius?? Asik banget! Nanti kita bisa berangkat bareng dong kalau rumahmu masih di sini.
Kalimat terakhir Rahira membuat senyum Randika sedikit memudar. "Kalau rumahmu masih di sini." Itu masalahnya. Randika tahu bahwa tinggal di rumah Nenek hanyalah sementara. Orang tuanya masih sibuk mencari rumah tetap.
Namun, Randika menepis kekhawatiran itu. Ia memilih menikmati momen ini. Ia dan Rahira akan satu sekolah. Itu artinya mereka akan punya lebih banyak waktu bersama.
Hari-hari berikutnya dilalui dengan penuh warna. Mereka membeli buku tulis bersama, memilih sampul buku dengan warna senada, dan bahkan meributkan merek pulpen mana yang paling enak dipakai. Keakraban mereka tumbuh pesat. Di mana ada Randika, di situ ada Rahira. Mereka seperti sepasang sepatu, selalu beriringan.
Namun, kebahagiaan itu memiliki batas waktu yang tak kasat mata.
Hampir satu bulan mereka menghabiskan waktu bersama. Suatu sore, sepulang bermain bulu tangkis di lapangan kompleks, Randika duduk di teras rumah Rahira, meneguk es sirup yang dibuatkan ibu Rahira.
Ra, panggil Randika pelan.
Hm? jawab Rahira, masih sibuk mengelap keringat di dahinya.
Aku... mungkin nggak akan lama lagi tinggal di rumah Nenek, kata Randika. Suaranya berat, seolah ada batu yang mengganjal di tenggorokan.
Gerakan tangan Rahira terhenti. Ia menoleh, menatap Randika lekat-lekat. Maksudnya? Kamu mau pindah?
Iya. Ayah bilang mungkin seminggu lagi kami pindah ke rumah baru. Lokasinya agak jauh dari sini.
Wajah ceria Rahira perlahan meredup. Matanya yang biasanya berbinar kini tampak sayu. Yah... kok cepat banget? Padahal kita baru aja main bareng. Nanti kalau kamu pindah jauh, kita nggak bisa main tiap sore lagi dong?
Randika menunduk, menatap lantai teras yang retak-retak. Aku juga sedih, Ra. Tapi kan kita masih satu sekolah. Kita masih bisa ketemu di sekolah.
Iya sih... tapi kan beda, gumam Rahira pelan.
Ada kesunyian yang menggantung di antara mereka. Angin sore yang biasanya sejuk kini terasa dingin menusuk. Randika merasakan ketakutan yang nyata. Ketakutan akan menjadi asing. Ketakutan bahwa jarak fisik akan menciptakan jarak di hati mereka. Persahabatan mereka yang baru seumur jagung ini sedang diuji oleh realitas kehidupan orang dewasa yang tak bisa mereka tolak.
Randika ingin berjanji bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa ia akan sering berkunjung. Tapi lidahnya kelu. Ia tahu, janji adalah hal yang mudah diucapkan namun sulit ditepati, apalagi bagi seorang anak SMP yang masih bergantung pada orang tua.
Sore itu berakhir dengan muram. Langit Bandung berubah abu-abu, seolah turut merasakan kegelisahan dua sahabat yang akan segera dipisahkan oleh jarak kota yang semakin padat.