BAB 2
Atap rumahku bukanlah tempat yang istimewa. Hanya hamparan genteng tanah liat yang kasar dan sebuah area datar kecil tempat ayahku dulu meletakkan antena televisi lama. Namun, pemandangannya adalah sesuatu yang lain. Dari sini, aku bisa melihat hutan yang membentang luas di belakang perumahan, sebuah massa hitam pekat yang seolah menyerap semua cahaya. Di sisi lain, lampu-lampu kota berkedip lemah, seperti kunang-kunang yang sekarat.
Aku duduk memeluk lutut, membiarkan angin mempermainkan rambutku yang berantakan. Udara malam itu berbau spesifik: campuran antara kayu basah, tanah yang baru saja diguyur hujan, dan aroma ozon yang biasanya muncul sebelum badai besar. Itu adalah bau yang purba, bau yang mengingatkanmu bahwa manusia hanyalah makhluk kecil di hadapan alam semesta.
Aku mendongak, menatap kanvas hitam di atas kepala. Langit malam itu aneh. Awan-awan tidak bergerak seperti biasanya. Mereka bergulung-gulung dengan pola yang tidak wajar, menyerupai ombak raksasa di lautan yang sedang marah, namun tanpa suara. Mereka berputar perlahan, membentuk sebuah lingkaran sempurna tepat di atasku. Di tengah pusaran awan itu, sesekali terlihat kilatan cahaya. Bukan petir yang tajam dan menyilaukan, melainkan pendaran cahaya berwarna kuning dan biru yang menyambar pelan, lembut, seperti denyut nadi raksasa.
Rasa rindu yang aneh tiba-tiba menyeruak di dadaku. Bukan rindu pada seseorang atau tempat tertentu, melainkan rindu pada waktu. Rindu pada masa ketika aku tidak tahu apa itu "masa depan" atau "karir".
Tanpa sadar, bibirku bergerak. Suaraku keluar, kecil dan rapuh, hampir tertelan oleh desau angin. "Andai aku bisa kembali... ke saat semuanya masih terasa ajaib."
Itu adalah kalimat yang konyol. Kalimat yang seharusnya diucapkan oleh tokoh dalam novel picisan, bukan oleh remaja realistis berusia tujuh belas tahun di pinggiran kota. Tapi begitu kata-kata itu terlepas ke udara, atmosfer di sekelilingku berubah.
Pusaran awan di langit berhenti berputar. Hening. Bahkan jangkrik di hutan seolah menahan napas.
Kemudian, dari pusat lingkaran awan itu, sesuatu turun. Awalnya hanya terlihat seperti titik-titik cahaya, namun semakin lama semakin jelas. Lima sosok. Mereka tidak jatuh; mereka melayang turun perlahan, menentang hukum gravitasi dengan keanggunan yang meresahkan. Jubah mereka berkibar pelan, seolah mereka sedang berada di dalam air, bukan di udara.
Jantungku berdegup kencang, memukul-mukul tulang rusuk. Logikaku berteriak agar aku lari, turun kembali ke kamar, mengunci jendela, dan bersembunyi di balik selimut. Tapi kakiku terpaku. Mataku tidak bisa berpaling. Ini adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah kulihat, namun bagian dari diriku—si anak tujuh tahun itu—berkata, "Akhirnya."
Mereka mendarat di atas atap, beberapa meter di depanku. Tidak ada suara benturan. Langkah mereka tak menjejak genteng dengan berat, seolah tubuh mereka seringan bulu. Saat kaki mereka menyentuh permukaan atap, aku bersumpah aku melihat bunga-bunga transparan bermekaran sesaat di udara sebelum menghilang.
Mereka adalah lima pemuda. Tubuh mereka diselimuti jubah berwarna merah tua yang terlihat mewah, bahan kainnya menyerap sedikit cahaya yang ada. Di dada kiri masing-masing jubah, tersemat lambang singa yang disulam dengan benang emas. Lambang itu tampak hidup, seolah singa itu bisa melompat keluar kapan saja.
Tapi yang paling menakutkan sekaligus mempesona adalah mata mereka. Mata itu seperti memantulkan cahaya bintang yang tidak terlihat di langit malam ini. Sorot mata yang bukan milik manusia biasa.
Salah satu dari mereka maju selangkah. Suaranya terdengar jernih, bergema lembut seperti denting lonceng gereja di pagi hari yang berkabut. "Namamu Winter Calestina."
Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan.
Pemuda lain, yang rambutnya bersinar samar seperti aurora borealis, tersenyum tipis. "Kami mendengar doamu."
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. "Siapa kalian?" tanyaku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, bergetar oleh campuran rasa takut dan takjub.
Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum. Senyum mereka bukan senyum mengancam, tapi jenis senyum yang dimiliki oleh orang-orang yang menyimpan rahasia alam semesta.
"Baiklah, kami akan memperkenalkan diri kami," ucap pemuda pertama tadi.
Angin bertiup lebih kencang, menerbangkan ujung jubah mereka. Aku merasa realitas yang kukenal—sekolah, ujian, kebosanan—sedang runtuh perlahan, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih tua dan jauh lebih berbahaya.
Atap rumahku bukanlah tempat yang istimewa. Hanya hamparan genteng tanah liat yang kasar dan sebuah area datar kecil tempat ayahku dulu meletakkan antena televisi lama. Namun, pemandangannya adalah sesuatu yang lain. Dari sini, aku bisa melihat hutan yang membentang luas di belakang perumahan, sebuah massa hitam pekat yang seolah menyerap semua cahaya. Di sisi lain, lampu-lampu kota berkedip lemah, seperti kunang-kunang yang sekarat.
Aku duduk memeluk lutut, membiarkan angin mempermainkan rambutku yang berantakan. Udara malam itu berbau spesifik: campuran antara kayu basah, tanah yang baru saja diguyur hujan, dan aroma ozon yang biasanya muncul sebelum badai besar. Itu adalah bau yang purba, bau yang mengingatkanmu bahwa manusia hanyalah makhluk kecil di hadapan alam semesta.
Aku mendongak, menatap kanvas hitam di atas kepala. Langit malam itu aneh. Awan-awan tidak bergerak seperti biasanya. Mereka bergulung-gulung dengan pola yang tidak wajar, menyerupai ombak raksasa di lautan yang sedang marah, namun tanpa suara. Mereka berputar perlahan, membentuk sebuah lingkaran sempurna tepat di atasku. Di tengah pusaran awan itu, sesekali terlihat kilatan cahaya. Bukan petir yang tajam dan menyilaukan, melainkan pendaran cahaya berwarna kuning dan biru yang menyambar pelan, lembut, seperti denyut nadi raksasa.
Rasa rindu yang aneh tiba-tiba menyeruak di dadaku. Bukan rindu pada seseorang atau tempat tertentu, melainkan rindu pada waktu. Rindu pada masa ketika aku tidak tahu apa itu "masa depan" atau "karir".
Tanpa sadar, bibirku bergerak. Suaraku keluar, kecil dan rapuh, hampir tertelan oleh desau angin. "Andai aku bisa kembali... ke saat semuanya masih terasa ajaib."
Itu adalah kalimat yang konyol. Kalimat yang seharusnya diucapkan oleh tokoh dalam novel picisan, bukan oleh remaja realistis berusia tujuh belas tahun di pinggiran kota. Tapi begitu kata-kata itu terlepas ke udara, atmosfer di sekelilingku berubah.
Pusaran awan di langit berhenti berputar. Hening. Bahkan jangkrik di hutan seolah menahan napas.
Kemudian, dari pusat lingkaran awan itu, sesuatu turun. Awalnya hanya terlihat seperti titik-titik cahaya, namun semakin lama semakin jelas. Lima sosok. Mereka tidak jatuh; mereka melayang turun perlahan, menentang hukum gravitasi dengan keanggunan yang meresahkan. Jubah mereka berkibar pelan, seolah mereka sedang berada di dalam air, bukan di udara.
Jantungku berdegup kencang, memukul-mukul tulang rusuk. Logikaku berteriak agar aku lari, turun kembali ke kamar, mengunci jendela, dan bersembunyi di balik selimut. Tapi kakiku terpaku. Mataku tidak bisa berpaling. Ini adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah kulihat, namun bagian dari diriku—si anak tujuh tahun itu—berkata, "Akhirnya."
Mereka mendarat di atas atap, beberapa meter di depanku. Tidak ada suara benturan. Langkah mereka tak menjejak genteng dengan berat, seolah tubuh mereka seringan bulu. Saat kaki mereka menyentuh permukaan atap, aku bersumpah aku melihat bunga-bunga transparan bermekaran sesaat di udara sebelum menghilang.
Mereka adalah lima pemuda. Tubuh mereka diselimuti jubah berwarna merah tua yang terlihat mewah, bahan kainnya menyerap sedikit cahaya yang ada. Di dada kiri masing-masing jubah, tersemat lambang singa yang disulam dengan benang emas. Lambang itu tampak hidup, seolah singa itu bisa melompat keluar kapan saja.
Tapi yang paling menakutkan sekaligus mempesona adalah mata mereka. Mata itu seperti memantulkan cahaya bintang yang tidak terlihat di langit malam ini. Sorot mata yang bukan milik manusia biasa.
Salah satu dari mereka maju selangkah. Suaranya terdengar jernih, bergema lembut seperti denting lonceng gereja di pagi hari yang berkabut. "Namamu Winter Calestina."
Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan.
Pemuda lain, yang rambutnya bersinar samar seperti aurora borealis, tersenyum tipis. "Kami mendengar doamu."
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. "Siapa kalian?" tanyaku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, bergetar oleh campuran rasa takut dan takjub.
Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum. Senyum mereka bukan senyum mengancam, tapi jenis senyum yang dimiliki oleh orang-orang yang menyimpan rahasia alam semesta.
"Baiklah, kami akan memperkenalkan diri kami," ucap pemuda pertama tadi.
Angin bertiup lebih kencang, menerbangkan ujung jubah mereka. Aku merasa realitas yang kukenal—sekolah, ujian, kebosanan—sedang runtuh perlahan, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih tua dan jauh lebih berbahaya.