BAB 3
Situasi ini terasa seperti mimpi demam. Lima pemuda berjubah merah berdiri di atap rumahku, membicarakan doa dan perkenalan, sementara di bawah sana, tetanggaku mungkin sedang menonton acara berita malam sambil makan mi instan. Kontras antara yang magis dan yang mundane ini membuat kepalaku pening.
Pemuda yang tadi berbicara pertama kali mengangkat tangannya sedikit, gestur yang sopan namun penuh wibawa. "Kami adalah Revilia," katanya. "Penjaga Pulau Reverra. Sebuah tempat di tengah samudra waktu di mana jarum jam berhenti berdetak."
"Pulau Reverra?" ulangku, lidahku terasa kaku menyebut nama asing itu.
"Tanah abadi," sambung pemuda dengan rambut aurora itu. "Di sana, tidak ada manusia maupun hewan yang menua. Keajaiban melindunginya dari korosi waktu. Dan kami berlima... kami adalah penjaga keseimbangan antara mimpi, usia, dan kenyataan."
Mereka mulai memperkenalkan diri satu per satu, dan caraku melihat mereka berubah seiring setiap nama disebutkan.
Yang pertama, pria yang sedari tadi diam di posisi paling depan, sedikit terpisah dari yang lain. "Bin," katanya singkat. Dia bertubuh tinggi, sorot matanya penuh kelembutan namun ada kedalaman yang sulit diukur, seperti danau yang tenang namun sangat dalam. Dia tidak banyak bicara, tapi auranya memancarkan kepemimpinan yang alami. Dia terlihat seperti tipe orang yang terlalu baik untuk dunia yang jahat ini, seseorang yang menyerap rasa sakit orang lain dalam diam.
Lalu ada Juno. Dia tersenyum hangat, senyum yang membuatmu merasa aman. "Aku Juno," katanya. Dia yang tertua, meskipun wajahnya tidak menunjukkan jejak penuaan. Ada ketenangan emosional dalam dirinya, seolah dia adalah kakak yang akan selalu mendengarkan keluh kesahmu tanpa menghakimi.
Kemudian, seorang pemuda yang terlihat paling ceria melompat kecil ke depan. "Aku Gyu!" serunya. Matanya berbinar jenaka. Dia adalah antitesis dari kegelapan malam ini; dia bercahaya. Sifat jahilnya terasa alami, tipe orang yang bisa membuatmu tertawa bahkan saat kau ingin menangis. Dia adalah semangat yang membara di antara kelompok yang misterius ini.
Di sebelahnya berdiri seorang pemuda yang tampak serius, matanya tajam mengamati sekeliling, termasuk mengamati reaksiku. "Taen," ucapnya datar namun sopan. Dia terlihat seperti seorang pemikir, seseorang yang menimbang setiap kata sebelum melepaskannya ke udara. Otak dari kelompok ini, dugaanku.
Dan terakhir, yang termuda. Wajahnya penuh dengan rasa ingin tahu, matanya menyapu atap rumahku seolah-olah antena TV bekas itu adalah artefak kuno yang menarik. "Aku Kai," katanya dengan senyum lebar yang menular. Dia memandang dunia dengan filter keajaiban, penuh warna.
Setelah perkenalan yang surealis itu, Bin, sang pemimpin yang pendiam, melangkah mendekatiku. Dia mengulurkan tangannya. Telapak tangannya terbuka, menunggu.
"Tempat itu... Reverra," kata Bin, suaranya pelan tapi tegas. "Hanya anak-anak yang boleh tinggal di sana. Atau mereka yang menolak untuk menyerah pada kekejaman menjadi dewasa."
Aku menatap tangan itu. Tangan yang menawarkan jalan keluar. Di satu sisi, ada sekolah, ujian masuk universitas, pekerjaan membosankan, tagihan, dan kerutan di wajah yang akan datang. Di sisi lain, ada tangan Bin dan janji tentang pulau bintang.
Pikiranku berpacu. Apakah ini penculikan? Halusinasi skizofrenia? Atau keajaiban yang selama ini kutunggu? Tapi saat aku melihat ke dalam mata Bin, aku tidak melihat tipu daya. Aku hanya melihat ketulusan yang menyakitkan.
Tanpa ragu, atau mungkin dengan keraguan yang kutekan dalam-dalam, aku mengulurkan tanganku dan menggenggam tangannya.
Kulitnya hangat. Begitu kulit kami bersentuhan, sensasi aneh menjalar ke seluruh tubuhku. Tiba-tiba, tubuhku terasa seringan kapas. Gravitasi bumi yang selama tujuh belas tahun menarikku ke bawah, tiba-tiba melepaskan cengkeramannya.
Tanah—atau lebih tepatnya atap rumahku—menghilang dari bawah kaki. Kami melesat ke atas. Bukan terbang seperti burung yang harus mengepakkan sayap, tapi seperti ditarik oleh benang tak kasat mata menuju langit. Kami menembus awan-awan tebal yang bergulung tadi. Angin menderu di telingaku, tapi tidak terasa dingin.
Kami menari di antara kilatan cahaya lembut berwarna biru dan kuning. Aku melihat ke bawah, dan duniaku yang lama—rumah, sekolah, kota—mengecil menjadi titik-titik cahaya yang tak berarti, sebelum akhirnya tertelan oleh lautan awan. Aku meninggalkan segalanya. Dan anehnya, aku tidak merasa sedih.
Situasi ini terasa seperti mimpi demam. Lima pemuda berjubah merah berdiri di atap rumahku, membicarakan doa dan perkenalan, sementara di bawah sana, tetanggaku mungkin sedang menonton acara berita malam sambil makan mi instan. Kontras antara yang magis dan yang mundane ini membuat kepalaku pening.
Pemuda yang tadi berbicara pertama kali mengangkat tangannya sedikit, gestur yang sopan namun penuh wibawa. "Kami adalah Revilia," katanya. "Penjaga Pulau Reverra. Sebuah tempat di tengah samudra waktu di mana jarum jam berhenti berdetak."
"Pulau Reverra?" ulangku, lidahku terasa kaku menyebut nama asing itu.
"Tanah abadi," sambung pemuda dengan rambut aurora itu. "Di sana, tidak ada manusia maupun hewan yang menua. Keajaiban melindunginya dari korosi waktu. Dan kami berlima... kami adalah penjaga keseimbangan antara mimpi, usia, dan kenyataan."
Mereka mulai memperkenalkan diri satu per satu, dan caraku melihat mereka berubah seiring setiap nama disebutkan.
Yang pertama, pria yang sedari tadi diam di posisi paling depan, sedikit terpisah dari yang lain. "Bin," katanya singkat. Dia bertubuh tinggi, sorot matanya penuh kelembutan namun ada kedalaman yang sulit diukur, seperti danau yang tenang namun sangat dalam. Dia tidak banyak bicara, tapi auranya memancarkan kepemimpinan yang alami. Dia terlihat seperti tipe orang yang terlalu baik untuk dunia yang jahat ini, seseorang yang menyerap rasa sakit orang lain dalam diam.
Lalu ada Juno. Dia tersenyum hangat, senyum yang membuatmu merasa aman. "Aku Juno," katanya. Dia yang tertua, meskipun wajahnya tidak menunjukkan jejak penuaan. Ada ketenangan emosional dalam dirinya, seolah dia adalah kakak yang akan selalu mendengarkan keluh kesahmu tanpa menghakimi.
Kemudian, seorang pemuda yang terlihat paling ceria melompat kecil ke depan. "Aku Gyu!" serunya. Matanya berbinar jenaka. Dia adalah antitesis dari kegelapan malam ini; dia bercahaya. Sifat jahilnya terasa alami, tipe orang yang bisa membuatmu tertawa bahkan saat kau ingin menangis. Dia adalah semangat yang membara di antara kelompok yang misterius ini.
Di sebelahnya berdiri seorang pemuda yang tampak serius, matanya tajam mengamati sekeliling, termasuk mengamati reaksiku. "Taen," ucapnya datar namun sopan. Dia terlihat seperti seorang pemikir, seseorang yang menimbang setiap kata sebelum melepaskannya ke udara. Otak dari kelompok ini, dugaanku.
Dan terakhir, yang termuda. Wajahnya penuh dengan rasa ingin tahu, matanya menyapu atap rumahku seolah-olah antena TV bekas itu adalah artefak kuno yang menarik. "Aku Kai," katanya dengan senyum lebar yang menular. Dia memandang dunia dengan filter keajaiban, penuh warna.
Setelah perkenalan yang surealis itu, Bin, sang pemimpin yang pendiam, melangkah mendekatiku. Dia mengulurkan tangannya. Telapak tangannya terbuka, menunggu.
"Tempat itu... Reverra," kata Bin, suaranya pelan tapi tegas. "Hanya anak-anak yang boleh tinggal di sana. Atau mereka yang menolak untuk menyerah pada kekejaman menjadi dewasa."
Aku menatap tangan itu. Tangan yang menawarkan jalan keluar. Di satu sisi, ada sekolah, ujian masuk universitas, pekerjaan membosankan, tagihan, dan kerutan di wajah yang akan datang. Di sisi lain, ada tangan Bin dan janji tentang pulau bintang.
Pikiranku berpacu. Apakah ini penculikan? Halusinasi skizofrenia? Atau keajaiban yang selama ini kutunggu? Tapi saat aku melihat ke dalam mata Bin, aku tidak melihat tipu daya. Aku hanya melihat ketulusan yang menyakitkan.
Tanpa ragu, atau mungkin dengan keraguan yang kutekan dalam-dalam, aku mengulurkan tanganku dan menggenggam tangannya.
Kulitnya hangat. Begitu kulit kami bersentuhan, sensasi aneh menjalar ke seluruh tubuhku. Tiba-tiba, tubuhku terasa seringan kapas. Gravitasi bumi yang selama tujuh belas tahun menarikku ke bawah, tiba-tiba melepaskan cengkeramannya.
Tanah—atau lebih tepatnya atap rumahku—menghilang dari bawah kaki. Kami melesat ke atas. Bukan terbang seperti burung yang harus mengepakkan sayap, tapi seperti ditarik oleh benang tak kasat mata menuju langit. Kami menembus awan-awan tebal yang bergulung tadi. Angin menderu di telingaku, tapi tidak terasa dingin.
Kami menari di antara kilatan cahaya lembut berwarna biru dan kuning. Aku melihat ke bawah, dan duniaku yang lama—rumah, sekolah, kota—mengecil menjadi titik-titik cahaya yang tak berarti, sebelum akhirnya tertelan oleh lautan awan. Aku meninggalkan segalanya. Dan anehnya, aku tidak merasa sedih.