BAB 5

BAB 5

WINTER DAN PULAU DI ATAS BINTANG

BAB 5

πŸ—“ 22 Jul 2025 πŸ‘ 886 Views
BAB 5

Setelah aku puas memutar leherku ke segala arah, mencoba menyerap setiap inci keajaiban visual pulau ini, peri Katrina menuntunku menuju sebuah bangunan. Itu adalah bangunan berbentuk setengah lingkaran, seperti kubah kecil, berwarna ungu muda. Dari luar terlihat mungil, seperti rumah boneka, tapi ketika aku melangkah masuk, hukum fisika kembali dipermainkan. Bagian dalamnya luas, dengan langit-langit tinggi yang entah bagaimana menampilkan proyeksi bintang-bintang yang bergerak.

"Ini tempat istirahatmu," kata Katrina dengan senyum lembut sebelum meninggalkan kami.

Kini hanya ada aku dan kelima anggota Revilia di dalam ruangan luas itu. Suasana berubah sedikit lebih serius. Juno, si kakak tertua, melangkah maju. Wajahnya yang ramah kini memiliki lapisan ketegasan.

"Dengar, Winter," ucap Juno. "Kau bisa tinggal di sini selamanya. Menjadi anak-anak selamanya. Tetapi ada harga yang harus dibayar, atau lebih tepatnya, aturan yang harus dipatuhi."

Jantungku berdesir. Tentu saja. Tidak ada surga yang gratis. Selalu ada kontrak, bahkan di dunia mimpi. "Apa aturannya?"

Bin menoleh ke arah Taen. "Taen, jelaskan padanya."

Taen, si pemikir, mengangguk. Dia melipat tangannya di dada, posturnya tegak dan kaku. Suaranya terdengar seperti dosen muda yang sedang membacakan silabus penting.

"Ada tiga aturan absolut di Pulau Reverra," kata Taen. "Dengarkan baik-baik, karena pelanggaran terhadap aturan ini bukan hal sepele."

Dia mengangkat satu jari. "Pertama, kau tidak boleh jatuh cinta kepada penghuni Pulau Reverra. Cinta adalah emosi orang dewasa. Itu rumit, merusak, dan membawa beban waktu. Di sini, kita hanya mengenal kasih sayang platonis, seperti anak-anak."

Aku mengangguk pelan. Jangan jatuh cinta. Kedengarannya mudah. Aku baru tujuh belas tahun dan cinta di duniaku hanyalah sumber drama yang melelahkan.

Taen mengangkat jari kedua. "Kedua, kau bisa terbang di sini, asalkan kau ingat cara untuk terjatuh. Jika kau lupa bahwa kau bukan burung, kau akan hilang ditelan langit selamanya. Kesadaran diri adalah kuncinya."

Itu terdengar filosofis dan sedikit menakutkan, khas gaya Haruki Murakami jika dia menulis buku panduan keselamatan penerbangan.

"Dan yang terakhir," lanjut Taen, tatapannya menembus mataku. "Jangan biarkan bayanganmu pergi meninggalkanmu. Di Reverra, bayangan memiliki kehendak sendiri. Jika kau tidak waspada, ia akan memisahkan diri dan kau akan kehilangan jiwamu."

Hening sejenak. Aku menatap bayanganku di lantai. Ia tampak normal, menempel di ujung sepatuku.

"Paham?" tanya Bin. Suaranya memecah keheningan.

"Paham," jawabku, meskipun sebagian besar dari aturan itu terdengar abstrak.

Malam itu, atau apa pun sebutan waktu istirahat di pulau tanpa waktu ini, aku berbaring di tempat tidur yang empuknya seperti awan padat. Cahaya lembut dari celah langit-langit menyinari ruangan.

Hari demi hari mulai berlaluβ€”jika kata 'hari' masih relevan. Aku menjalani hidup baruku. Bermain dengan anak-anak lain, belajar terbang (dan mengingat cara jatuh), menjaga bayanganku agar tetap patuh.

Namun, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak tertulis dalam aturan tapi terasa nyata di udara. Itu berasal dari Bin.

Bin bukanlah penjaga yang banyak bicara. Dia sering hanya berdiri diam di pinggir keramaian, mengawasi kami dengan wajah tenang dan sorot mata meneduhkan. Tapi aku merasakannya. Setiap kali dia ada di dekatku, udara terasa lebih padat.

Wajahnya selalu tenang, senyumnya jarang muncul, tapi setiap kali senyum tipis itu terukir, dadaku terasa sesak sekaligus hangat. Dia seperti patung marmer yang menyimpan detak jantung di dalamnya.

Saat dunia Reverra sibuk menari di atas keajaiban, Bin sering berdiri mematung, menatap langit buatan pulau itu, seolah menunggu sesuatu yang tak akan pernah datang. Aku sering mencuri pandang ke arahnya. Dan terkadang, hanya terkadang, aku menangkap basah dia sedang menatapku juga. Tatapan itu cepat berpaling, kembali menjadi tatapan seorang penjaga yang stoik.

Tapi aku tahu, atau setidaknya aku merasa, bahwa di balik diamnya Bin, ada percakapan panjang yang sedang ia tahan. Dan aku, dengan segala kebodohan remajaku, mulai melupakan aturan nomor satu yang disebutkan Taen. Bahwa cinta adalah larangan mutlak di tanah keabadian ini.

Bagaimana bab ini menurutmu?

Rate
← Bab Sebelumnya

Diskusi 0

G